OPINI
OPINI - Bermedsos di Atas Kelicinan Layar
Bagi pegiat media sosial tak ada moment yang tidak boleh terabadikan dalam sekam layar.
Eksistensi keber-sosial-an kita beransur-ansur melompat ke layar pintar ini. Hanya saja kita melihat faktanya bahwa tidak sedikit orang yang terjungkal dari dunia virtual.
Dalam adagium sederhana penulis menyebutnya keterjatuhan karena kelicinan layar.
Olehnya itu tidak semua orang dengan mudah bisa selamat dalam berfantasi pada medan ini kecuali mereka sang penari layar yang bisa menjaga keseimbangan di atas kelicinan layar.
Korban layar mulai dari politisi atau artis yang dilaporkan karena postingannya menyinggung privasi, hingga kalangan mahasiswi yang ke sana-ke sini cari sensasi.
Memang media sosial bisa membuat orang begitu cepat terkenal namun juga begitu mudah terjungkal.
Baca: Pemuda Jeneponto Minta Oknum Polisi Penganiaya Pelayan Cafe Dihukum Berat
Penulis bukan dalam posisi untuk menolak eksis di medsos namun penting untuk menampilkan diri apa adanya agar kita tak terjajah oleh imajinasi layar yang semakin menggila.
Tidak perlu memaksakan diri dengan harapan bisa menarik simpati di panggung medsos akhirnya terglincir karena tidak memperdulikan konten dan konteks.
Sehingga yang kita tuai bukan simpati melainkan caci maki atau berujung pada kamar jeruji besi.
Olehnya itu melalui tulisan ini penulis menyampaikan bahwa meskipun bermedsos sudah menjadi rutinitas kita akhir-akhir ini, namun tidak pula harus mengabaikan kualitas konten demi mengejar popularitas.
Selamat pagi dan selamat beraktivitas!
Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Senin (22/07/2019).