Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Bermedsos di Atas Kelicinan Layar

Bagi pegiat media sosial tak ada moment yang tidak boleh terabadikan dalam sekam layar.

Editor: Aldy
tribun timur
Pengajar FIS UNM - Pengurus Masika ICMI Makassar 

Bagi pegiat media sosial tak ada moment yang tidak boleh terabadikan dalam sekam layar. Kebutuhan postingan mengharuskan setiap individu memiliki moment terbaik setiap harinya.

Jikalau saja tidak maka akan dibuat seakan-akan ada agar meredahkan dahaga layar yang kian menjadi.

Baca: Eks Kabid di BKD Sulsel Sebut 35 Pejabat Pindahan dari Bantaeng

Selain mempertontonkan gambar para pegiat layar akan menyempurnakannya dengan kata-kata pamungkas dengan istilah caption.

Dengan caption Pendeknya agar gambar akan jadi lebih gambar dari gambar itu sendiri.

Jika meminjam istilah filsuf postmodern jeanbaudrillard; meng-hipperalitas-kan realitas maya menjadi petanda yang melebihi keasliannya.

Maka jangan heran jika melihat teman kita pada realitas maya lebih ekspresif, dari ekspresinya yang sebenarnya. Inilah yang penulis maksud sebagai fenomena “nyaring di daring dan garing pada during”.

Kebahagiaan yang tertangkap kamera dan kemudian dipublikasi di media sosial lalu dijadikan rujukan untuk mendefenisikan seseorang.

Padahal peristiwa tersebut hanya terjadi dalam waktu sepersekian milidetik pas saat pengambilan gambar.

Ketika mereka memperoleh banyak respon pada dinding media sosialnya maka itu akan memotivasi untuk terus mengulangnya.

Dalam teori pertukaran sosial; setiap orang akan mengulang perilakunya setiap kali mendapatkan reward (komentar, like dll).

Konsep arena produksi kultural Pierre Bourdieujuga menarik untuk menyingkap soalan ini. Bermedsos secara sosiologisboleh dimaknai sebagaiarena yang mereproduksi perilaku sosial ‘kapuji-pujian’.

Itulah sebabnya orang selalu ingin menampilkan dirinya dengan kesan perfect agar mendapatkan sanjungan pada layar maya dan populer sebagai selebsos (selebriti medsos).

Baca: 40 Kepala Keluarga Korban Bencana di Sinjai Dapat Bantuan Tunai dan Beras

Jika dikonfirmasikan pada Abraham Maslow mungkin beliau mengkategorikan individu semacam ini sedang memenuhi tingkat kebutuhannya yang paling tinggi yakni hirarki aktualisasi diri.

“Meskipun kita menyebutnya kehidupan maya namun rasanya begitu nyata ungkapan lugu teman saat berbincang di kafe beberapa waktu lalu”

Sekiranya penting untuk mempertanyakan mengapa kita cenderung berekspresi lebih pada dunia dalam jaringan (daring) dibanding luar jaringan (luring)?

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved