Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Bermedsos di Atas Kelicinan Layar

Bagi pegiat media sosial tak ada moment yang tidak boleh terabadikan dalam sekam layar.

Editor: Aldy
tribun timur
Pengajar FIS UNM - Pengurus Masika ICMI Makassar 

Oleh:
Sopian Tamrin SPd MPd
Dosen FIS UNM - Pengurus Masika ICMI Makassar

Aktivtas layar di Indonesia saat ini terbilang pesat dan padat.

Dari data APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) menunjukkan bahwa pengguna akun yang mengakses daring lebih dari ½ penduduk Indonesia artinya ada sekitaran 130 juta akun yang aktif mengakses internet.

Sementara data pengguna medsos Facebook Indonesia yang dilansir dari CupoNation berada pada urutan ke empat dengan jumlah 120 juta pengguna.

Melihat data ini kita bisa menyimpulkan bahwa lebih dari separuh masyarakat Indonesia terus berselancar pada dunia layar setiap harinya.

Pernahkah Anda mengagumi seorang melalui akun media sosialnya?

Suatu ketika saat Anda berjumpa kenyataannya akhirnya Anda kecewa karena ternyata realitasnya tidak sebagaimana yang kita jumpai pada realitas virtualnya.

Satu hal menarik yang terjadi pada realitas virtual saat ini yakni kecenderungan memposting kehidupan sehari-hari di akun media sosial.

Jika belum menampilkan aktivitas pada layar maka hal tersebut sepertinya tidak pernah terjadi.

Baca: Satgas TMMD Kodim 1424 Sinjai Bersama Petugas Kesehatan Sunnat Massal Warga di Tompobulu

Menariknya fenomena ini mewabah di tengah masyarakat dan melanda semua kalangan, di desa, kota, pejabat, hingga masyarakat awam yang tak berpangkat.

Boleh dianasirkan bahwa fenomena ini menandai cara kita bereksistensi di fase industri 4’0.

Dari data dan fenomena kecenderungan diatas maka setiap harinya bisa dipastikan kita dibanjiri postingan status oleh akun pertemanan di media sosial.

Tampilannya amat beragam namun juga bak perlombaan bagi semua akun untuk menunjukkan identitas terbaik di dunia maya.

Aktivitas posting-memosting menjadi satu jenis kebutuhan baru yang menandingi kebutuhan dasar lainnya.

Olehnya itu, bagi homo virtual memposting adalah kewajiban bagi seluruh rakyat media sosial.

Bagi pegiat media sosial tak ada moment yang tidak boleh terabadikan dalam sekam layar. Kebutuhan postingan mengharuskan setiap individu memiliki moment terbaik setiap harinya.

Jikalau saja tidak maka akan dibuat seakan-akan ada agar meredahkan dahaga layar yang kian menjadi.

Baca: Eks Kabid di BKD Sulsel Sebut 35 Pejabat Pindahan dari Bantaeng

Selain mempertontonkan gambar para pegiat layar akan menyempurnakannya dengan kata-kata pamungkas dengan istilah caption.

Dengan caption Pendeknya agar gambar akan jadi lebih gambar dari gambar itu sendiri.

Jika meminjam istilah filsuf postmodern jeanbaudrillard; meng-hipperalitas-kan realitas maya menjadi petanda yang melebihi keasliannya.

Maka jangan heran jika melihat teman kita pada realitas maya lebih ekspresif, dari ekspresinya yang sebenarnya. Inilah yang penulis maksud sebagai fenomena “nyaring di daring dan garing pada during”.

Kebahagiaan yang tertangkap kamera dan kemudian dipublikasi di media sosial lalu dijadikan rujukan untuk mendefenisikan seseorang.

Padahal peristiwa tersebut hanya terjadi dalam waktu sepersekian milidetik pas saat pengambilan gambar.

Ketika mereka memperoleh banyak respon pada dinding media sosialnya maka itu akan memotivasi untuk terus mengulangnya.

Dalam teori pertukaran sosial; setiap orang akan mengulang perilakunya setiap kali mendapatkan reward (komentar, like dll).

Konsep arena produksi kultural Pierre Bourdieujuga menarik untuk menyingkap soalan ini. Bermedsos secara sosiologisboleh dimaknai sebagaiarena yang mereproduksi perilaku sosial ‘kapuji-pujian’.

Itulah sebabnya orang selalu ingin menampilkan dirinya dengan kesan perfect agar mendapatkan sanjungan pada layar maya dan populer sebagai selebsos (selebriti medsos).

Baca: 40 Kepala Keluarga Korban Bencana di Sinjai Dapat Bantuan Tunai dan Beras

Jika dikonfirmasikan pada Abraham Maslow mungkin beliau mengkategorikan individu semacam ini sedang memenuhi tingkat kebutuhannya yang paling tinggi yakni hirarki aktualisasi diri.

“Meskipun kita menyebutnya kehidupan maya namun rasanya begitu nyata ungkapan lugu teman saat berbincang di kafe beberapa waktu lalu”

Sekiranya penting untuk mempertanyakan mengapa kita cenderung berekspresi lebih pada dunia dalam jaringan (daring) dibanding luar jaringan (luring)?

Eksistensi keber-sosial-an kita beransur-ansur melompat ke layar pintar ini. Hanya saja kita melihat faktanya bahwa tidak sedikit orang yang terjungkal dari dunia virtual.

Dalam adagium sederhana penulis menyebutnya keterjatuhan karena kelicinan layar.

Olehnya itu tidak semua orang dengan mudah bisa selamat dalam berfantasi pada medan ini kecuali mereka sang penari layar yang bisa menjaga keseimbangan di atas kelicinan layar.

Korban layar mulai dari politisi atau artis yang dilaporkan karena postingannya menyinggung privasi, hingga kalangan mahasiswi yang ke sana-ke sini cari sensasi.

Memang media sosial bisa membuat orang begitu cepat terkenal namun juga begitu mudah terjungkal.

Baca: Pemuda Jeneponto Minta Oknum Polisi Penganiaya Pelayan Cafe Dihukum Berat

Penulis bukan dalam posisi untuk menolak eksis di medsos namun penting untuk menampilkan diri apa adanya agar kita tak terjajah oleh imajinasi layar yang semakin menggila.

Tidak perlu memaksakan diri dengan harapan bisa menarik simpati di panggung medsos akhirnya terglincir karena tidak memperdulikan konten dan konteks.

Sehingga yang kita tuai bukan simpati melainkan caci maki atau berujung pada kamar jeruji besi.

Olehnya itu melalui tulisan ini penulis menyampaikan bahwa meskipun bermedsos sudah menjadi rutinitas kita akhir-akhir ini, namun tidak pula harus mengabaikan kualitas konten demi mengejar popularitas.

Selamat pagi dan selamat beraktivitas!

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Senin (22/07/2019).

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved