Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Pa’doros Sidrap dan Riwayatmu Kini

Penulis adalah Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Hasanuddin & Pekerja Sosial Sidrap

Editor: Aldy
tribun timur
Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Hasanuddin &Pekerja; Sosial Sidrap 

Oleh:
Usluddin
Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Hasanuddin & Pekerja Sosial Sidrap

Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sudah sangat familiar dan sering disebut-sebut sebagai salah satu lumbung padi Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia.

Tak perlu data statistik yang rumit membenarkan hal ini, hamparan luasnya sawah akan langsung menyolok mata, bahkan dibeberapa tempat terlihat hamparan sawah tersebut seluas mata memandang atau berakhir ini di kaki langit nan jauh di sana.

Saat ini, para petani di Sidrap tengah melakukan panen padi di sawah-sawah mereka untuk periode pertama tahun ini.

Rona bahagia tentu saja menyelimuti raut wajah para petani tersebut, betapa tidak gabah yang 3 bulan lalu masih berwarna hijau muda tapi kini tengah berubah secara drastis menjadi kuning kepekatan yang disertai oleh bulir-bulir padi di setiap tangkainya.

Perjuangan panjang selama dalam masa perawatan, juga membutuhkan usaha serius dan biaya yang tidak sedikit.

Baca: Dikabarkan Hilang, Nelayan Ela-ela Bulukumba Ditemukan Terdampar di Bampang

Selain itu juga dibutuhkan semangat kerja yang harus terus bergelora untuk mengawal padi-padi tersebut hingga tiba masa panen seperti yang terjadi sekarang ini.

Sekitar 10 tahun yang lalu, saat panen padi mulai mendekat maka para pemilik lahan sibuk encari orang-orang yang akan membantu mendedikasikan tenaganya untuk bekerja di lahan mereka.

Para tenaga kerja musiman itu akan didatangkan dari luar daerah Sidrap, umumnya dari daerah sekitaran yang tidak terlalu jauh, bahkan kadang harus didatangkan dari provinsi lain seperti beberapa daerah di wilayah Sulawesi Barat.

Tidak ada kontrak kerja yang mengatur, semua hanya disesuaikan dengan luasan sawah yang akan dipanen.

Secara jenis kelamin, rombongan tenaga bantu ini tidak terbatas hanya laki-laki saja tapi banyak pula diantara mereka ibu-ibu. Para tenaga ini, akrab disebut dengan sebutan pa’doros.

Umumnya mereka yang ingin terlibat menjadi bagian dalam aktifitas ma’doros adalah mereka yang tidak memiliki lahan pertanian dan tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga dengan keikutsertaan ini maka mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan demi tetap mengepulnya asap di dapur rumah tangga yang bersangkutan.

Baca: Digasak PSM Makassar 7-3, Pelatih Lao Toyota Mengaku Bingung

Baca: Pemuda di Batubulerang Sinjai Tewas Gantung Diri Setelah Antar Pacarnya

Biasanya pa’doros ini didatangkan langsung satu paket dengan jumlah sekitar 5-10 orang, tergantung luas lahan yang akan dikerjakan.

Untuk memaksimalkan tenaga yang ada, para pemilik lahan menjalin kesepakatan dengan pemilik lahan lainnya untuk bersepakat perihal penggunaan tenaga pa’doros ini.

Ada 2 tipe mekanisme penggajian antara keduanya yaitu, pertama dengan bagi hasil sekian persen dari beras yang dihasilkan tentu disesuaikan luas lahan dan jumlah tenaga yang terlibat.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved