Ketua AGRA Bulukumba Curhat, Rumah Kebun Warga Dirusak Saat Kapolres Latihan Menembak
Ketua Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Bulukumba, Rudy Tahas, menyampaikan curahan hatinya (Curhat), saat pertemuan PT Lonsum dengan warga adat
Penulis: Firki Arisandi | Editor: Munawwarah Ahmad
TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Ketua Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Bulukumba, Rudy Tahas, menyampaikan curahan hatinya (Curhat), saat pertemuan PT Lonsum dengan warga adat, di Ruang Rapat Bupati, Rabu (6/3/2019).
Rudy Tahas menceritakan banyak hal, termasuk saat pengerusakan rumah kebun warga Adat Kajang, saat menduduki wilayah Hak Guna Usaha (HGU) PT Lonsum di Dusun Tamappalalo, Desa Tamatto, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba.
Saat itu, kata Rudy, dirinya ditugaskan berada di kota Bulukumba, sekitar 14 kilometer dari Desa Tamatto, untuk berkomunikasi dengan Muspida, termasuk Kapolres Bulukumba.
Baca: Hubungan PT Lonsum Bulukumba dan Warga di Desa Tamatto Kembali Memanas
Namun, disaat yang sama, Kapolres Bulukumba AKBP Syamsu Ridwan, bersama Bupati dan Wakil Bupati Bulukumba, sedang asyik latihan menembak, di belakang Mapores Bulukumba, di Desa Taccorong, Kecamatan Gantarang.
Niatnya bertemu Kapolres untuk mengomunikasikan aksi pembongkaran, harus pupus.
Rudy mengaku, dirinya tak ingin mengganggu keasyikan para Muspida, yang sedang mengadu ketangkasan menembaknya saat itu.
"Saya saat itu sudah ada di Polres untuk membicarakan aksi pembongkaran oleh PT Lonsum. Tapi saya tidak bertemu karena ada acara latihan menembak," ujarnya.
Meski berada di Kota Bulukumba, Rudy mengaku tetap mengontrol rekan-rekannya yang berada di lokasi penggusuran, agar tidak terjadi bentrok.
Termasuk senjata tajam yang dibawah warga ke lokasi, diminta untuk diamankan.
Namun, hal yang tak diinginkan tetap terjadi.
Satu anggotannya bernama Alif, diduga mendapat penganiayaan oleh oknum pihak PT Lonsum.
Alif bahkan dituding sebagai provokator dalam aksi warga dilokasi sengketa.
Ia bahkan sempat ditahan di Mapolres Bulukumba selama enam jam.
"Warga bisa saja melawan sebenarnya. Namun kami tahan, karena kami tidak ingin ada bentrokan. Ini juga bukti, bahwa masyarakat adat itu beradab," jelas Rudy.
Menanggapi hal itu, Kapolres Bulukumba mengaku, saat itu, pihaknya mengerahkan sebanyak 300 personelnya untuk mengamankan aksi pembongkaran tersebut.
Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya bentrok antara pihak PT Lonsum dengan warga.
"Adapun dugaan penganiayaan silakan lapor ke kami. Kami pasti akan tindaki. Kami tidak inginkan terjadi bentrokan sehingga kami tetap kerahkan personel di tengah masyarakat," jelasnya. (TribunBulukumba.com)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi, IG: @arisandifirki
Baca: VIDEO: Hasil Rapat Pembahasan Polemik PT Lonsum dengan Masyarakat Adat Kajang Bulukumba
Baca: AGRA Bulukumba Mengutuk, PT Lonsum Tak Akui Ada Penganiayaan