Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

opini

Beckham dan Sepak Bola tanpa Gairah

Achmad Riyadi ( Pemerhati Sepak Bola )

Tayang:
Editor: Ridwan Putra

Klub terpecah, pendukung bimbang, dan tunggulah bagaimana sebagian media besar yang sudah terkoptasi dengan kepentingan pemilik yang “kebetulan” petinggi partai politik, akan memainkan agenda setting sesuai kepentingan mereka masing – masing. Konten pemberitaan tidak lagi mengedepankan substansi. Semuanya ditujukan pada upaya mempengaruhi opini publik untuk mendukung atau menolak liga yang sedang bergulir. Fenomena ini semakin menguatkan, betapa perselingkuhan politik dan sepak bola menjadi sebuah realitas ditengah terpuruknya prestasi timnas.

Perebutan pengaruh para pemangku kepentingan di negeri ini, membuat kompetisi yang semestinya menjadi kawah candradimuka pembentukan Timnas yang handal, menjadi kontraproduktif. Lihatlah, bagaimana prosesi pemilihan ketua Umum PSSI menjadi ajang untuk menempatkan “orang” mereka di tubuh PSSI. Klaim prestasi Timnas sebagai buah karya partai politik tertentu, sampai persoalan baliho bernuansa politik yang terpasang di stadion saat pertandingan sedang berlangsung ( contoh kasus pada pelaksanaan piala AFF tahun lalu ). Nuansa politik teramat kental mewarnai dunia sepak bola kita. 

Dan selama politik dan sepak bola belum bisa dipisahkan, yakinlah, prestasi Indonesia akan jauh api dari panggang. Alih – alih berbicara pembinaan, kita terus disibukkan oleh persoalan yang teramat jauh dari nilai – nilai sepak bola itu sediri.

Secara universal, Tali temali politik dan sepakbola bukanlah  hal yang baru, tapi iklim sepak bola kita tentu  tak bisa disamakan dengan Negara Eropa atau Amerika Latin misalnya yang kompetisinya sehat dan dikelolah secara professional. Fernando Collor De Mello terpilih menjadi presiden di Brasil pada usia 40 tahun berkat pengaruhnya yang sangat kuat pada persepakbolaan di negeri itu. Pun Silvio Berlusconi, pemilik klub AC Milan dan mantan penguasa Italia telah membuktikannya. Tapi tentu lain di Italia dan Brasil, lain pula di Indonesia.

Di Italia kawin mawin antara politik dan sepak bola bisa melahirkan prestasi karena sistem kompetisi mereka sudah sangat mapan bahkan sudah menjadi sebuah industri sehingga tidak gampang untuk di acak - acak. Bukan hanya itu, Berlusconi dan Fernando memang menjiwai sepakbola dan bukan politisi yang latah mengurus sepakbola karena syahwat kekuasaan dan berusaha meraup dukungan dari olahraga sejuta penggemar itu.


Politisi mengurus sepakbola bukanlah sesuatu yang tabu. Tapi tidak berarti dengan uang dan power, dengan seenaknya mereka mengobok – obok sistem kompetisi. Mengacaukan pakem yang sudah ada karena ingin menjadikan sepak bola sebagai titian menuju kekuasaan. Menunggangi fanatisme dan solidaritas penonton dari olahraga terpopuler di dunia  tersebut untuk melanggengkan tirai politik mereka. Yakinlah, Kita tak akan pernah mengangkat trophy selama sepak bola masih menjadi ladang para pemangku kepentingan negeri ini menguatkan hegemoni kekuasaanya.

Setelah hingar bingar kedatangan David Beckham, patut kita tunggu, akan kemana babakan baru kisruh sepak bola kita ini akan berujung ? lalu, masikah kita punya gairah terhadap kompetisi kita ? Wallahualam. Apapun itu, mari kita tetap optimis ! Selalu ada pelangi setelah badai.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved