opini
Beckham dan Sepak Bola tanpa Gairah
Achmad Riyadi ( Pemerhati Sepak Bola )
Achmad Riyadi
( Pemerhati Sepak Bola )
BERUNTUNGLAH David beckham bersama klubnya LA Galaxy menyambangi Indonesia dan bertanding melawan Timnas Indonesia Selection. Setidaknya, kehadiran suami Victoria itu bisa memberi passion terhadap sepak bola Indonesia yang sementara lesu darah, sekaligus membuka mata dunia bahwa Indonesia bisa menggelar pertandingan akbar level internasional.
Kehadiran Beckham juga diharapkan memberi spirit dan teladan kepada para pemain kita, terutama pemain muda bahwa menjadi maha bintang seperti halnya pesepakbola dengan nama asli David Robert Joseph Beckham itu, tidak diraih dengan jalan pintas. Sebelum menjadi super star seperti sekarang, Pemain yang banyak digilai kaum hawa itu telah melalui pahit getir menjadi pesepakbola. Termasuk dipinjamkan ke Klub Divisi II Inggris, Preston North saat merintis karir pada klub raksasa Inggris, Manchester United.
Beckham remaja adalah seorang maniak sepak bola. Ketika sudah menjadi pesepakbola professionalpun, dirinya tak segan – segan menambah jadwal latihannya saat pemain lain sedang beristirahat. Dalam sehari, bisa lebih dari empat jam ia mengasah kemampuannya secara mandiri.
Hasil dari ketekunan seorang Beckham tentu sudah kerap anda saksikan setiap dia berlaga. Pemain dengan spesialisasi tendangan bebas dan pengumpan ini, selalu memberi kontribusi maksimal ketika bermain untuk klub dan juga Tim Nasional inggris. Pun, ketika LA Galaxy yang dibelanya bertanding melawan Indonesia Selection, kemampuan seorang Becks masih terlihat lewat passing dan juga umpan – umpannya.
Tidak salah jika ayah dari Brooklyn, Romeo, Cruz dan Harper ini disebut – sebut akan menjadi salah satu legenda sepak bola dunia.
Sebagai Negara dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, Indonesia pun tak pernah kehabisan stok pemain – pemain bertalenta. Mulai dari era Rully Nere, Widodo C. Putra, Bambang Pamungkas hingga masa dimana Patrich Wanggai, Titus Bonai dan Andik Vermansyah menjadi idola publik sepak bola Indonesia. Yang membedakan antara Beckham dan Andik Vermansyah karena mereka dilahirkan di Negara yang berbeda. Beckham terlahir di kota Leytonstone, London, Inggris.
Bangsa yang mengklaim diri sebagai nenek moyang olah raga sepak bola dengan kompetisi bermutu dan dikelola secara professional. Sementara Andik Vermansyah, Tibo dan sekian banyak bibit – bibit muda kita mungkin memiliki semangat, potensi dan bakat yang tak jauh beda dengan beckham Muda dulu. Hanya saja, mereka tak beruntung terlahir pada negara yang iklim kompetisinya kondusif untuk melahirkan seorang pemain bintang. Bakat dan spirit mereka menjadi tersia – siakan karena penyelenggaraan liga yang carurt – marut, penuh konflik bahkan kadang bernuansa politis.
Lihatlah, Bagaimana kompetisi Liga Indonesia yang semestinya kita songsong dengan antusias, hingga saat ini belum menemui titik terang terkait jumlah dan jadwal paten untuk penyelenggaraan liga satu musim kedepan. Sampai detik – detik terakhir bahkan ketika kick of pertandingan perdana di gelar, PSSI masih gamang terkait kompetisi bernama Indonesia Premier League ( IPL ) tersebut.
Penyebabnya, apalagi kalau bukan klub yang membelot ke kompetisi lain. Kisruh ini seperti de javu. Ketiak ISL ( Indonesia Super League ) bergulir, IPL muncul sebagai kompetisi tandingan dengan format baru yang dianggap lebih mengedepankan profesionalisme pengelolaan klub karena tak lagi disokong dana APBD. Saat ini, ISL justru menjadi liga pelarian dan diklaim sebagai kompetisi yang lebih bermutu karena IPL yang dikelola PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), dinilai menyalahi statuta FIFA sebagai acuan dasar penyelenggaraan liga di tiap Negara.
Dualisme yang terus berlarut – larut ini, tentu menimbulkan banyak implikasi, namun Yang lebih esensi, kita pasti kehilangan momentum untuk memperbaiki pola pembinaan pasca Timnas U-23 dan Timnas senior gagal di event yang berbeda.
Dualisme penyelenggaraan liga, juga berimbas pada klub sepak bola kita. Beberapa klub sepak bola profesional di Indonesia terbelah karena persoalan tersebut. Persija Jakarta terpecah menjadi dua kubu, pun dengan Arema Indonesia. Kabar terakhir, Kompetisi Indonesia Premier League (IPL) musim 2011/2012 akhirnya hanya diikuti 13 klub atau berkurang empat klub dari jumlah yang di rilis Oleh PT. Liga Prima Indonesia Sportindo. Dengan adanya pengurangan jumlah peserta IPL 2011/2012 praktis jadwal pertandingan yang telah ditetapkan, juga akan berubah.
Klub PSM Makassar dan Arema Indonesia sudah merasakan akibatnya. Kedua klub yang sudah terlanjur berada di Bumi Cendrawasih, urung malakukan pertandingan perdana kerana Persipura dan Persidafon Dafonsoro lebih memilih kompetisi ISL.
Betapa suramnya wajah sepak bola kita saat ini.
Lalu kapan kita akan berbicara prestasi ?, Kapan kita merancang sebuah pola pembinaan yang sistematis dalam jangka panjang jika PSSI hanya sibuk melakukan pendekatan kepada klub yang sudah terlanjur tersekat – sekat ?.
Sibuk melakukan konsolidasi internal karena perbedaan pendapat para petingginya terhadap hal – hal yang sangat fundamental dalam sebuah liga, Format dan jumlah peserta kompetisi. Kisruh ini akan semakin meruncing setelah Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) akan memberikan rekomendasi kepada pengelola ISL yang saat ini keberadaannya tidak diakui oleh PSSI. Saat Negara lain sedang merancang kompetisi berbasis industri, Kita masih terus berkutat dengan kongres, Munaslub, statuta FIFA, format kompetisi dan rapat Exco.
Yang kasian adalah supporter kita, masyarakat Indonesia yang sudah sangat lama merindukan tim sepak bola kita bisa berprestasi. Mereka yang menjadikan sepak bola sebagai hiburan ditengah berbagai himpitan ekonomi dan persoalan hidup. Mereka yang menemukan surga di sepak bola, Mereka yang harus berdesak desakan masuk kedalam stadion untuk sebuah fanatisme, bahkan harus mengorbankan nyawa mereka seperti dua orang penonton pertandingan Indonesia melawan Malaysia di final sepak bola SEA Games 2011 kemarin. Haruskah mimpi dan harapan jutaan Indonesia yang sangat rindu prestasi timnas kita itu menjadi korban ?
Klub terpecah, pendukung bimbang, dan tunggulah bagaimana sebagian media besar yang sudah terkoptasi dengan kepentingan pemilik yang “kebetulan” petinggi partai politik, akan memainkan agenda setting sesuai kepentingan mereka masing – masing. Konten pemberitaan tidak lagi mengedepankan substansi. Semuanya ditujukan pada upaya mempengaruhi opini publik untuk mendukung atau menolak liga yang sedang bergulir. Fenomena ini semakin menguatkan, betapa perselingkuhan politik dan sepak bola menjadi sebuah realitas ditengah terpuruknya prestasi timnas.
Perebutan pengaruh para pemangku kepentingan di negeri ini, membuat kompetisi yang semestinya menjadi kawah candradimuka pembentukan Timnas yang handal, menjadi kontraproduktif. Lihatlah, bagaimana prosesi pemilihan ketua Umum PSSI menjadi ajang untuk menempatkan “orang” mereka di tubuh PSSI. Klaim prestasi Timnas sebagai buah karya partai politik tertentu, sampai persoalan baliho bernuansa politik yang terpasang di stadion saat pertandingan sedang berlangsung ( contoh kasus pada pelaksanaan piala AFF tahun lalu ). Nuansa politik teramat kental mewarnai dunia sepak bola kita.
Dan selama politik dan sepak bola belum bisa dipisahkan, yakinlah, prestasi Indonesia akan jauh api dari panggang. Alih – alih berbicara pembinaan, kita terus disibukkan oleh persoalan yang teramat jauh dari nilai – nilai sepak bola itu sediri.
Secara universal, Tali temali politik dan sepakbola bukanlah hal yang baru, tapi iklim sepak bola kita tentu tak bisa disamakan dengan Negara Eropa atau Amerika Latin misalnya yang kompetisinya sehat dan dikelolah secara professional. Fernando Collor De Mello terpilih menjadi presiden di Brasil pada usia 40 tahun berkat pengaruhnya yang sangat kuat pada persepakbolaan di negeri itu. Pun Silvio Berlusconi, pemilik klub AC Milan dan mantan penguasa Italia telah membuktikannya. Tapi tentu lain di Italia dan Brasil, lain pula di Indonesia.
Di Italia kawin mawin antara politik dan sepak bola bisa melahirkan prestasi karena sistem kompetisi mereka sudah sangat mapan bahkan sudah menjadi sebuah industri sehingga tidak gampang untuk di acak - acak. Bukan hanya itu, Berlusconi dan Fernando memang menjiwai sepakbola dan bukan politisi yang latah mengurus sepakbola karena syahwat kekuasaan dan berusaha meraup dukungan dari olahraga sejuta penggemar itu.
Politisi mengurus sepakbola bukanlah sesuatu yang tabu. Tapi tidak berarti dengan uang dan power, dengan seenaknya mereka mengobok – obok sistem kompetisi. Mengacaukan pakem yang sudah ada karena ingin menjadikan sepak bola sebagai titian menuju kekuasaan. Menunggangi fanatisme dan solidaritas penonton dari olahraga terpopuler di dunia tersebut untuk melanggengkan tirai politik mereka. Yakinlah, Kita tak akan pernah mengangkat trophy selama sepak bola masih menjadi ladang para pemangku kepentingan negeri ini menguatkan hegemoni kekuasaanya.
Setelah hingar bingar kedatangan David Beckham, patut kita tunggu, akan kemana babakan baru kisruh sepak bola kita ini akan berujung ? lalu, masikah kita punya gairah terhadap kompetisi kita ? Wallahualam. Apapun itu, mari kita tetap optimis ! Selalu ada pelangi setelah badai.(*)