OPINI

OPINI: Mengenal Had Kifayah

Ditulis Dr Ilham Kadir MA, peneliti MIUMI dan Wakil Ketua Ikatan Alumni Beasiswa Baznas

OPINI: Mengenal Had Kifayah
Muh Azis Albar/TribunEnrekang.com
Komisioner Baznas Enrekang, Ilham Kadir 

Oleh: Dr Ilham Kadir MA
Peneliti MIUMI/Wakil Ketua Ikatan Alumni Beasiswa Baznas

Had dalam bahasa Arab berarti batas. Kifayah berakar dari kata ‘kafa-yakfi-kifayah’ yang bermakna cukup.

Dalam arti yang khusus yaitu mencukupi hal yang penting atau memenuhi keperluan untuk hidup dan tidak perlu bantuan orang lain, (Fairuzabadi, Al-Qamus Al-Muhith, 5:386. Bairut, t.th.).

Selain itu kifayah juga berarti tidak berkurang dan tidak berlebih, sesuai dengan keperluan.

Dalam terminologi Arab, perkataan kifayah merujuk kepada dua hal utama yaitu makanan dan kemandirian tanpa bantuan orang lain.

Ditinjau dari sudut istilah, para ulama memiliki pengertian yang berbeda, antara lain: Ibnu Abidin menyatakan bahwa had kifayah adalah batas minimun yang dapat menghindarkan manusia dari kesulitan hidup.

Masuk dalam hal ini adalah kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal atau hal lain seperti perkakas dan kendaraan yang tidak sampai pada tahap kemewahan.

Baca juga: Zohri Raih Juara Dunia Lari 100 M di Finlandia, ADS: Singgung Peran Bob Hasan

Baca juga: Kembalikan Malino Sebagai Destinasi Wisata Lewat Beautiful Malino

Imam Nawawi menyatakan bahwa kifayah adalah suatu kecukupan, tidak kurang dan tidak lebih.

Hal ini menandakan bahwa sesuatu disebut kifayah apabila tidak berlebihan dan sesuai dengan kebutuhan; Imam Syatibi menyatakan bahwa had kifayah merupakan sebuah ukuran kebutuhan yang sangat asasi dan fundamental.

Jadi bukan sekadar kecukupan yang primer, tetapi masuk dalam kategori sekunder yang menjadi tonggak kelancaran hidup manusia, (Tim Penulis Puskas Baznas, Kajian Had Kifayah, 2018).

Halaman
1234
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved