• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Mesin Genosida Rohingya di Bulan Ramadan

Jumat, 3 Agustus 2012 01:02 WITA
Rentetan operasi pembasmian terus berlangsung. Genosida, seumpama mesin yang terus memanas dan menggilas dari waktu ke waktu para Muslim etnis Rohingya. Anehnya, tak satu pun yang dapat menahan laju genosida itu, apalagi lagi menghentikan dan mematikan.

Rohingya adalah grup etnis yang kebanyakan beragama Islam di Negara Bagian Rakhine Utara  Myanmar  Barat. Populasi Rohingya terkonsentrasi di dua kota utara Negara Bagian Rakhine (sebelumnya disebut Arakan). Diperkirakan Islam masuk di negara ini melalui Bangladesh sejak delapan abad yang lalu, saat ini populasi Muslim mencapai 4 persen dari total penduduk Miyanmar  yang berjumlah sektar 60 juta jiwa.
Sebutan lain dari Miyanmar adalah Burma, sebuah etnis yang menjadi mayoritas penduduk Miyanmar, etnis ini dahulu pernah berkolaborasi dengan Jepang dalam peperangan melawan Inggris dalam merebut kemerdekaan. Ada pun etnis minoritas, termasuk Rohingya dianggap sekutu Inggris selama Perang Dunia Kedua berlangsung dan tetap loyal kepada Inggris pasca kemerdekaan Miyanmar.
Pada tahun 1947, perwakilan beragam etnis di Miyanmar melakukan penandatanganan perjanjian penyatuan Miyanmar. Dalam perjanjian ini ditandatangani pula oleh Jenderal Rung San (ayah Aung San Suu Kyi). Saat itu etnis Mulim Rohingya tidak dilibatkan.
Setelah Miyanmar merdeka pada tahun 1948, segenap etnis di Miyanmar mendapat keleluasaan untuk membentuk negara bagian sendiri (federal). Seperti etnis Chin membentuk negara bagian Chin dan etnis Mon membentuk negara bagian Mon. Ada pun etnis Muslim Rohingya, mereka tak dapat hak membentuk negara bagian. di Arakan, tempat populasi Muslim Rohingya berdiri negara bagian Rakhine, padahal etnis Rakhin merupakan minoritas di Arakan.
Atas perlakuan diskriminatif itulah, Muslim Arakan pernah melakukan pemberontakan untuk membentuk negara bagian yang otonom, namun sia-sia. Yang terjadi selanjutnya adalah pemusnahan tempat tinggal, rumah ibadah (masjid) dan fasilitas umum lainnya oleh militer Miyanmar. Namun ini hanyalah satu permulaan dari sebuah bencana kemanusiaan (holocaust).
Bermula dari tahun 1962, di bawah Jenderal Ne Win, segenap warga Muslim yang berada di Arakan dicap sebagai Imigran gelap dan dianggap ilegal selama pendudukan Inggris. Pada tahun 1974 Undang-undang Imigrasi Darurat menghapuskan kewarganegaraan Burma untuk Muslim Rohingya, selanjutnya pada tahun 1982, Peraturan Kewarganegaraan Imigrasi Darurat menghapuskan kewarganegaraan Muslim Rohingya dari daftar etnis di Miyanmar. Sejak saat itulah Muslim Rohingya terkatung-katung dan tak punya negara.
Selanjutnya rentetan operasi pembasmian terus berlangsung. Genosida, seumpama mesin yang terus memanas dan menggilas dari waktu ke waktu para Muslim etnis Rohingya. Anehnya, tak satu pun yang dapat menahan laju genosida itu, apalagi lagi menghentikan dan mematikan.

Naga Min
Sejak tahun 1959 genosida telah berlangsung hingga tahun 1991, dan genosida terbesar dan terkejam adalah operasi ‘Naga Min’. Berlangsung pada 6 Februari 1978 dari desa berpenduduk Muslim terbesar, Sakkipara di Akyab. Militer membunuh, menangkap, dan memerkosa para wanita Muslim Rohingya. Wanita dan anak-anak juga jadi korban, pada bulan Maret di tahun yang sama operasi Naga Min mencapai daerah Buthidaung dan Maungdaw, ketika itu ratusan Muslim dimasukkan ke dalam penjara untuk disiksa lalu digorok. Muslim Rohingya yang dapat selamat, melarikan diri ke perbatasan Bangladesh dengan jumlah mencapai 300 ribu jiwa.
Pada tahun 1991, tanggal 18 Juli dengan tujuan membasmi Muslim Rohingya, sebuah operasi digelar kembali dengan tema “Phy Thaya” para umat Islam menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan, rumah dan masjid dibumi-hanguskan. Dan Muslim Rohingya kembali menjadi pengungsi di Bangladesh. Setelah terjadi kesepakatan bilateral Bangladesh Miyanmar, sebagian Muslim Rohingya kembali ke Arakan, namun sebagain lainnya bertahan di pengungsian karena sewaktu-waktu mesin genosida akan kembali ‘mengaung’ dan pastinya mereka akan dibantai habis-habisan.
Firasat para pengungsi itu ternyata benar adanya, ibarat bisul, hanya bertahan sekejap lalu meletus. Tepatnya pada tanggal 3 Juni 2012, dimana satu bus yang ditumpangi oleh 10 orang dari kaum Muslimin beretnis Rohingya dihabisi. Selanjutnya mesin genosida kembali hidup dan terus menggilas para muslim Rohingya tanpa jeda hingga saat ini.
Sampai menit ini, belum ada kejelasan jumlah korban yang jatuh dari perinstiwa biadab yang hingga kini masih terus berlangsung itu. Liputan6.com, tanggal 27/7/2012 melangsir berita bahwa hampir 650 ribu dari hampir satu juta Muslim Rohingya tewas selama bentrokan yang terjadi di wilayah barat Rakhine, Myanmar. Sementara 1.200 lainnya hilang dan 90.000 lebih telantar. Setali tiga uang dangan keterangan dari sebuah LSM yang berbasis di Inggris, dari tanggal 10 hingga 28 Juni, 650 Muslim Rohingya tewas, 1.200 hilang, dan lebih dari 80.000 orang lainnya mengungsi akibat kerusuhan, pembakaran, dan siklus serangan balasan.
Hamka rahimahullah, suatu ketika pernah ditanya oleh salah seorang diplomat dari Barat mengenai penyebab kerukunan antarumat serta harmonisasi yang ada di Indonesia. Hamka hanya mengatakan, “karena umat Islam di Indonesia adalah mayoritas!” perkataan Hamka ternyata dapat kita buktikan saat ini, dimana saja umat Islam jika menjadi minoritas selalu menjadi bulan-bulanan kaum mayoritas. Muslim etnis Rohingya adalah satu di antaranya.

Paling Garang
Atas tragedi genosida itu, beragam reaksi pun bermunculan. Seorang pakar politik, Ramzy Baroud menyatakan, "Rohingya saat ini sedang melalui episode paling garang dalam sejarah mereka, dan penderitaan mereka merupakan yang paling pedih dibandingkan berbagai masalah lain di dunia. Namun kisah penderitaan mereka secara mencurigakan absen dari prioritas regional dan internasional, atau diremehkan mengingat melimpahnya sumber daya alam hidrokarbon, mineral, permata, dan kayu," tegas Baroud.
Sekjen Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Ekmeleddin Ihsanoglu meminta Suu Kyi untuk melakukan sesuatu. Dikatakannya, "Sebagai Penerima Nobel Perdamaian, kami yakin bahwa langkah pertama dari perjalanan Anda untuk memastikan perdamaian di dunia akan dimulai dari depan pintu rumah Anda sendiri dan bahwa Anda akan memainkan peran positif dalam mengakhiri kekerasan yang telah menderita Negara Arakan."
Tapi hadiah nobel perdamaian hanyalah pepesang kosong semata, karena secara terang dan jujur Suu Kyi mengingkari keberadaan kaum muslim dari etnis Rohingya di Rakhine, sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah wawancara dengan TV Press sesaat setelah menerima hadian nobel perdamaian di Oslo Norwegia 16 Juni 2012 lalu.
Sangat disayangkan karena sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari presiden SBY terkait genosida di Rakhine, padahal Indonesia dapat berbuat banyak jika pemerintah kita punya posisi tawar, di samping sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, kini Indonesia sedang menjabat sebagai pemimpin negara-negara ASEAN. Bisa saja menggertak Miyanmar untuk memutuskan hubungan diplomatik serta mengusir keduataannya dari Jakarta. Tapi sebagaimana diketahui, saat ini Indonesia ibarat macan ompong.
Jika negara tak bisa berbuat, maka janganlah dijadikan alasan untuk ikut pula acuh tak acuh kepada saudara kita yang sangat butuh bantuan. Dalam pemahaman syariat sebagaimana yang disitir Alquran Surah Almaidah ayat ke-45, bahwa darah seorang mukmin itu jika telah tertumpah maka haruslah dibayar dengan darah pula (wal juruha qishash). Namun jika tak mampu membela mereka dengan kekuatan fisik, maka sebaiknya kita ulurkan bantuan dengan menyisihkan sebagian harta yang kita miliki. Yang kedua tampaknya lebih rasional.
Saat ini sudah ada beberapa lembaga yang berpengalaman dan kredibel yang dapat menyalurkan bantuan untuk kaum muslim Rohingya, seperti “Dompet Kemanusiaan Republika untuk Rohingya” lewat Rekening BCA. 375-305-1771, atas nama “PT. Republika Media Mandiri”.
Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini dapat melahirkan empati yang mendalam terhadap kaum muslimin yang bernasib malang seperti yang menimpa Rohingya. Cukuplah sabda nabi yang menyatakan bahwa seorang mukmin itu ibarat sebuah bangunan yang saling menopang satu dengan lainnya, (kal bunyan yasyuddu ba’dhuhum ba’dan) menjadi motor penggerak batin kita untuk bersama-sama meringankan beban umat Islam Rohingya.***  

Oleh:
Ilham Kadir
Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar,
Peneliti LPPI Indonesia Timur
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
97184 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas