Asrama Lontara Rusak, DPRD Sulsel Usul Perbaikan Rp200 Juta
bagian fondasi bangunan Asrama Lontara tampak terbuka dan memicu kekhawatiran publik terkait keselamatan para penghuni.
Seiring waktu, banyak di antara para mantan TRIP itu memilih jalur pendidikan tinggi. Mereka menjalani peran ganda—sebagai mahasiswa sekaligus mantan personel militer—dengan tanggung jawab yang tidak ringan.
Rumah di Jalan Flores itu kemudian menjadi tempat tinggal dan ruang belajar bagi mereka.
Pada 1960, meningkatnya jumlah mahasiswa Sulawesi Selatan di Bandung membuat kantor urusan perumahan kembali menerbitkan izin tinggal tetap untuk bangunan yang sama.
Dari sinilah landasan hukum penggunaan bangunan di Jalan Flores No. 1 terbentuk, yang kemudian berkembang menjadi Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan LONTARA.
Selama lebih dari setengah abad, asrama ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi tumbuh menjadi ruang pendidikan dan pembinaan karakter.
Para penghuni dilatih hidup dalam kebiasaan kolektif, saling menghargai, serta bekerja sama melalui sistem organisasi yang tertata, lengkap dengan AD/ART.
LONTARA pun menjadi pusat kegiatan mahasiswa, baik antar perguruan tinggi maupun sesama mahasiswa perantau dari Sulsel.
Generasi silih berganti mendiami asrama ini.
Banyak alumninya telah memberi kontribusi besar bagi daerah dan bangsa, di antaranya Kol. (Purn) Salam Machmud (alm), Prof. Drs. H.M. Tahir Djide (alm), Dr. Ir. Hickman Manaf, Prof. Dr. Mugiadi, Dr. Ir. Rustam Syarif, Dr. Azis Taba Pabeta, serta sejumlah tokoh lain dari berbagai disiplin ilmu.
Selain menjadi hunian mahasiswa, Asrama LONTARA juga menjadi tempat singgah bagi rombongan dari Sulsel yang melakukan kunjungan kerja, seminar, atau studi banding di Bandung.
Asrama ini bahkan berfungsi sebagai sekretariat IKAMI Sulsel Cabang Bandung, serta kerap menjadi ruang “tudang sipulung” bagi pelajar dan mahasiswa Sulsel.
Letaknya yang strategis di pusat Kota Bandung membuat LONTARA menjadi tujuan utama mahasiswa baru asal Sulsel yang hendak melanjutkan studi S1 di kota ini.
Setiap tahunnya, asrama menerima penghuni baru serta tamu dari berbagai latar belakang—mahasiswa, dosen, hingga pejabat daerah.
Pada 10–11 November 2007, LONTARA menggelar perayaan 50 tahun berdirinya asrama, yang dirangkaikan dengan reuni akbar alumni.
Acara tersebut menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat kebersamaan dan pengabdian.(*)
| Suripto Nahkodai KPJ Sulsel 2026-2031, Fokus Sosial dan Kemanusiaan untuk Perantau Jawa |
|
|---|
| National Governance Awards 2026: Antara Meritokrasi Kinerja dan Ilusi Inovasi Tata Kelola di Sulsel |
|
|---|
| Ponpes Puteri Ummul Mukminin Aisyiyah Sulsel Wisuda 83 Hafidzah |
|
|---|
| Dari BPJS hingga Jalan Tani, Warga Tamallayang Curhat ke Anggota DPRD Sulsel Lukman B Kady |
|
|---|
| Jejak Makassar di Jantung Kota Bangkok Thailand |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251127_ASRAMA-MAHASISWA-RUSAK_asrama-mahasiswa-Lontara-rusak.jpg)