Asrama Lontara Rusak, DPRD Sulsel Usul Perbaikan Rp200 Juta
bagian fondasi bangunan Asrama Lontara tampak terbuka dan memicu kekhawatiran publik terkait keselamatan para penghuni.
Ringkasan Berita:
- Fondasi bangunan asrama Lontara rusak
- DPRD Sulsel anggarkan Rp3,7 perbaiki asrama mahasiswa di Yogyakarta, Bandung, dan Semarang
TRIBUN-TIMUR.COM – Sebuah video yang memperlihatkan kerusakan parah pada asrama mahasiswa asal Sulawesi Selatan (Sulsel) di Bandung beredar luas di media sosial, Rabu (26/11/2025).
Dalam rekaman itu, bagian fondasi bangunan Asrama Lontara tampak terbuka dan memicu kekhawatiran publik terkait keselamatan para penghuni.
Menanggapi kondisi tersebut, Komisi D DPRD Sulsel mendorong pemerintah provinsi untuk segera menyiapkan anggaran renovasi tiga asrama mahasiswa Sulsel yang berada di Bandung, Yogyakarta, dan Semarang.
Rekomendasi itu disampaikan langsung Ketua Komisi D, Kadir Halid, dalam rapat pembahasan anggaran bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Sulsel.
“Kami meminta TAPD mengalokasikan anggaran renovasi untuk tiga asrama mahasiswa kita di Yogyakarta, Bandung, dan Semarang,” kata Kadir Halid dalam rapat yang digelar di kantor sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Makassar.
Berdasarkan dokumen pembahasan, total anggaran yang diusulkan untuk ketiga asrama tersebut mencapai Rp3,7 miliar.
Baca juga: Willy Aditya di Hadapan Aktivis Makassar: Ayo Bangkitkan Nasionalisme dari Asrama
Rinciannya, Rp2 miliar untuk renovasi dua asrama di Yogyakarta, Rp1,5 miliar untuk asrama di Semarang, serta Rp200 juta untuk asrama mahasiswa Sulsel di Bandung.
Kadir menegaskan, pembiayaan renovasi itu berada di bawah tanggung jawab Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya, dan Tata Ruang Sulsel.
Ia menilai perbaikan harus segera dilakukan mengingat kondisi bangunan sudah tidak layak huni.
“Kita rekomendasikan anggaran ini karena kondisi ketiga asrama sudah sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Diketahui, asrama mahasiswa Sulsel di Bandung berada di Jalan Flores 1, Citarum.
Di Yogyakarta, asrama terletak di Jalan Krasak Nomor 5, Kota Baru, Gondokusuman, serta satu lainnya di Jalan Sultan Agung.
Sedangkan asrama mahasiswa Sulsel di Semarang berlokasi di Jalan Barusari, Semarang Selatan.
Asrama LONTARA, Pemondokan Mahasiswa Sulawesi Selatan di Kota Bandung
Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan LONTARA merupakan salah satu rumah pemondokan tertua bagi mahasiswa asal Sulsel yang menempuh pendidikan di Kota Bandung.
Jejak keberadaannya bermula pada 1957, ketika sekelompok mantan Tentara Pelajar (TRIP) yang masih berusia muda mendapat izin tinggal tetap dari Kantor Urusan Perumahan Bandung untuk menempati sebuah rumah di Jalan Flores No. 1.
Seiring waktu, banyak di antara para mantan TRIP itu memilih jalur pendidikan tinggi. Mereka menjalani peran ganda—sebagai mahasiswa sekaligus mantan personel militer—dengan tanggung jawab yang tidak ringan.
Rumah di Jalan Flores itu kemudian menjadi tempat tinggal dan ruang belajar bagi mereka.
Pada 1960, meningkatnya jumlah mahasiswa Sulawesi Selatan di Bandung membuat kantor urusan perumahan kembali menerbitkan izin tinggal tetap untuk bangunan yang sama.
Dari sinilah landasan hukum penggunaan bangunan di Jalan Flores No. 1 terbentuk, yang kemudian berkembang menjadi Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan LONTARA.
Selama lebih dari setengah abad, asrama ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi tumbuh menjadi ruang pendidikan dan pembinaan karakter.
Para penghuni dilatih hidup dalam kebiasaan kolektif, saling menghargai, serta bekerja sama melalui sistem organisasi yang tertata, lengkap dengan AD/ART.
LONTARA pun menjadi pusat kegiatan mahasiswa, baik antar perguruan tinggi maupun sesama mahasiswa perantau dari Sulsel.
Generasi silih berganti mendiami asrama ini.
Banyak alumninya telah memberi kontribusi besar bagi daerah dan bangsa, di antaranya Kol. (Purn) Salam Machmud (alm), Prof. Drs. H.M. Tahir Djide (alm), Dr. Ir. Hickman Manaf, Prof. Dr. Mugiadi, Dr. Ir. Rustam Syarif, Dr. Azis Taba Pabeta, serta sejumlah tokoh lain dari berbagai disiplin ilmu.
Selain menjadi hunian mahasiswa, Asrama LONTARA juga menjadi tempat singgah bagi rombongan dari Sulsel yang melakukan kunjungan kerja, seminar, atau studi banding di Bandung.
Asrama ini bahkan berfungsi sebagai sekretariat IKAMI Sulsel Cabang Bandung, serta kerap menjadi ruang “tudang sipulung” bagi pelajar dan mahasiswa Sulsel.
Letaknya yang strategis di pusat Kota Bandung membuat LONTARA menjadi tujuan utama mahasiswa baru asal Sulsel yang hendak melanjutkan studi S1 di kota ini.
Setiap tahunnya, asrama menerima penghuni baru serta tamu dari berbagai latar belakang—mahasiswa, dosen, hingga pejabat daerah.
Pada 10–11 November 2007, LONTARA menggelar perayaan 50 tahun berdirinya asrama, yang dirangkaikan dengan reuni akbar alumni.
Acara tersebut menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat kebersamaan dan pengabdian.(*)
| Dengan Berbagai Alasan BPIP Tak Hadiri RDP DPRD Sulsel Terkait Polemik Seleksi Paskibraka |
|
|---|
| Dihakimi Netizen Gegara Polemik Seleksi Paskibraka Sulsel, Kepala Kesbangpol Tak Bisa Tidur |
|
|---|
| Semua yang Terlibat Polemik Seleksi Paskibraka Sulsel Dipanggil DPRD |
|
|---|
| Mini Soccer Sinjai Bersatu Series 2026 Resmi Bergulir, Dihadiri Legislator DPRD Sulsel |
|
|---|
| Heriwawan Jagokan Spanyol di Piala Dunia 2026, Lamine Yamal Jadi Andalan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251127_ASRAMA-MAHASISWA-RUSAK_asrama-mahasiswa-Lontara-rusak.jpg)