Wawancara Khusus
Prof Muhaimin: Ekoteologi Harus Masuk Program Pemerintah
Lalu, konsep ekoteologi ini bagaimana kita menghubungkan tiga konsep entitas, yaitu manusia, alam dan tuhan.
Penulis: M. Jabal Qubais | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Pendidikan saya rasa salah satu media dalam menerapkan ekoteologi.
Pemerintah harus memberikan support dalam konsep ekoteologi itu sendiri.
Bagaimana jika pemerintah menjadi aktor perusak lingkungan, seperti kawasan pesisir disulap jadi proyek?
Saya pikir jika semua elemen bersatu menyuarakan konsep ekoteologi, maka saya rasa akan ada jalan keluar.
Alam itu sakral, jika kita merusaknya maka kita membantah unsur ketuhanan itu sendiri, dalam Alquran dan Hadist juga telah disuarakan menjaga lingkungan dan alam.
Saya juga apresiasi Falsafah Konghucu yang menganggap alam sebagai keluarga.
Bagaimana mengawal konsep Ekoteologi terintegrasi dalam sistem pendidikan?
Agenda besar Kementerian Agama yakni ekoteologi.
Hal ini menjadi fokus pilot project terhadap sistem pendidikan di lingkup Kementerian Agama.
Tapi menurut saya tidak cukup jika hanya Kementerian Agama saja, tapi mesti mencakup semua lini atau sektor kementerian.
Bahkan, saat ini manusia hanya menganggap alam sebagai objek saja, bukan kepemilikan padahal relasinya sesama subjek.
Ada empat yang sering saya sampaikan, moderat dalam berair, bertanah, berudara dan berapi.
Apakah ekoteologi bisa menjadi program agenda pembangunan di lini pemerintah daerah?
Ini hanya soal komunikasi terhadap pemerintah.
Jadi tentu diperlukan peran tokoh agama, pemerintah dan juga masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Prof-Muhaimin-Latif-2025-2.jpg)