Wawancara Khusus
Prof Muhaimin: Ekoteologi Harus Masuk Program Pemerintah
Lalu, konsep ekoteologi ini bagaimana kita menghubungkan tiga konsep entitas, yaitu manusia, alam dan tuhan.
Penulis: M. Jabal Qubais | Editor: Abdul Azis Alimuddin
Keterbukaan publik, keadilan dinilai penting agar masyarakat paham tentang haknya, seperti jika ada limbah industri yang merugikan, maka itu mengganggu hak sipil masyarakat itu sendiri.
Maka harus bekerjasama antara ekoteologi dan demokrasi.
Seperti apa cara Ekoteologi agar diterapkan?
Saya kira harus ada kerjasama, pokok agama harus hadir, pemerintah, aktivis lingkungan wajib ada.
Contoh saya sendiri dalam berkhutbah, menyampaikan data yang ada dalam WHO, WALHI disitu saya menyebut kerusakan lingkungan banyak disebabkan oleh manusia itu sendiri.
Maka sebaiknya tokoh agama mengajak masyarakat sadar pentingnya ekoteologi.
Bahkan, lembaga ormas NU, Muhammadiyah dan lain sebagainya sebaiknya menjadikan ekoteologi sebagai isu sentral dalam program kerja, minimal mengurangi dampak lingkungan karena dua ini besar massanya, begitupun di lingkungan Kampus dan sekolah.
Apakah NU dan Muhammadiyah dapat diandalkan dalam konsep ekoteologi?
Saya tidak ingin melihat secara jauh, paling tidak dua ormas punya massa dan mampu memperkuat atau konsen dalam lingkungan hidup.
Apa saja strategi dalam menyuarakan konsep ekoteologi?
Tentu dimulai dari sebuah visi lewat program kerja fokus terhadap lingkungan.
Ekoteologi harus menyasar akses kehidupan sehari-hari, yakni air, sampah dan lain sebagainya.
Kira-kira apakah bisa konsep ekoteologi diterapkan dalam sistem pendidikan keagamaan?
Saya kira bisa karena ini bagian dari kehidupan kita, tapi dengan melihat effort yang dilakukan WALHI.
Orang yang merawat lingkungan itu besar keimanannya, tapi mereka yang menjadi aktor perusak lingkungan disebut kafir ekologis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Prof-Muhaimin-Latif-2025-2.jpg)