Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dalam Sunyi Nurdin dan Irwan 3 Dekade Jaga Arsip Sulawesi Selatan

Sekitar 40 ribu boks arsip dari 24 kabupaten/kota terjaga di ruangan lantai tiga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel.

Tayang:
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Alfian
Istimewa/Nurdin
ARSIP SULSEL - Nurdin, Arsiparis Ahli Madya saat memperlihatkan kondisi salah satu arsip sejarah di Kantor Dinas Perpusatakaan dan Kearsipan Sulsel di Jl. Perintis Kemerdekaan No.KM 12, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar pada Jumat (10/4/2026). 

Keterbatasan anggaran jadi salah satu alasannya. 

"Sekarang kita harus prioritas. Arsip mana yang paling mendesak atau urgent itu kita dahulukan restorasi," katanya.

Selain itu, Nurdin juga gelisah soal masa depan arsip.

Ia menyadari, tak banyak generasi muda yang tertarik pada dunia kearsipan. 

Padahal, di tangan arsiparis, sejarah menemukan buktinya.

"Padahal arsip itu referensi pengembangan ilmu pengetahuan. Dia sumber informasi, sumber penelitian," kata Nurdin. 

Baginya, arsip bukan sekadar tumpukan kertas lama. 

Arsip merupakan memori kolektif, alat bukti hukum, sekaligus sumber informasi penting dalam pengambilan keputusan.

Tanpa perawatan, semua itu bisa hilang.

Tiga dekade berdiri di antara boks-boks arsip itu. 

Kesetiaan menjaga sesuatu yang mungkin tak lagi banyak dilihat.

Tapi maknanya selalu dirawat oleh waktu

Di ruang lain, Irwan, arsiparis ahli madya juga menjalankan tugas yang tak kalah rumit. 

Irwan sibuk merestorasi arsip yang telah rusak dimakan usia.

Irwan mengabdikan diri sejak 1992. 

Irwan belajar di Jepang teknik restorasi Arsip.

"Kalau pelajari khusus tekniknya butuh waktu sekitar enam bulan," katanya.

Pada Jumat (10/4) Irwan memperagakan proses restorasi di hadapan sejumlah pegawai yang dipersiapkan sebagai generasi penerus.

Di hadapannya tersusun bahan kimia dan peralatan. 

Ada metil selulosa sebagai perekat, kalsium karbonat atau magnesium karbonat untuk menetralisir keasaman kertas, hingga benzena untuk membersihkan noda.

Irwan mengukur dan mencampur bahan sebelum mengoleskannya perlahan ke permukaan arsip yang rapuh.

"Harus hati-hati dan konsentrasi. Salah sedikit, bisa gagal," ujarnya.

Pekerjaan ini menuntut ketelitian, lebih jauh perlu menghadapi risiko.

Paparan bahan kimia dapat menyebabkan iritasi hingga gangguan kesehatan.

Karena itu, penggunaan alat pelindung diri menjadi kewajiban.

"Bahan-bahan yang digunakan ini zat kimia jadi tentu berbahaya," sebutnya.

Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Biaya restorasi arsip tergolong tinggi.

Satu rol tisu Jepang, bahan utama dalam proses perbaikan kertas, dibutuhkan dana antara Rp9 juta hingga Rp12 juta.

Dalam kondisi ideal, kebutuhan bisa mencapai belasan rol setiap tahun. 

Namun, karena keterbatasan anggaran, saat ini hanya dua rol yang mampu dipenuhi.

Akibatnya, dari puluhan ribu arsip yang tersimpan, hanya sebagian kecil yang dapat direstorasi setiap tahunnya.

Di tengah keterbatasan itu, Irwan tetap merawat lembar demi lembar dokumen yang menyimpan sejarah panjang.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved