Headline Tribun Timur
Tangki Modif Picu Bensin Langka
Tangki modifikasi picu kelangkaan BBM subsidi. Pertamina telusuri penimbunan, nelayan kesulitan melaut.
HL TRIBUN TIMUR CETAK EDISI 8 OKTOBER 2025
Tangki Modif Picu Bensin Langka
Pertamina Telusuri Penimbunan BBM SPBU
MAKASSAR, TRIBUN - Tangki modifikasi kendaraan picu kelangkaan bensin di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
Kondisi ini dikeluhkan warga yang kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Pertamina tengah menelusuri dugaan penimbunan BBM dan memastikan pasokan kembali normal.
Di tengah kelangkaan, beredar video memperlihatkan truk bertangki modifikasi mengisi solar subsidi hingga lebih 100 liter di SPBU Ujung Bulu, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, Selasa (7/10/2025).
Aksi ini diduga menjadi penyebab kelangkaan solar di wilayah itu.
“Habis semua solar gegara penimbun,” ujar sopir dalam video beredar di grup WhatsApp Parepare Silaturahmi.
Sopir lainnya, Yunus mengaku sudah dua minggu kesulitan mendapatkan solar dan harus mengantre hingga tengah malam.
Yunus berharap polisi menindak tegas kendaraan bertangki modifikasi.
Kasat Reskrim Polres Parepare AKP Muh Agus Purwanto menyatakan telah menurunkan anggota menjaga sejumlah SPBU guna mencegah penimbunan.
“Setiap kendaraan punya barcode dan batas pengisian. Pengisian di luar batas tidak diperbolehkan,” tegasnya.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi tanggapi video memperlihatkan kendaraan bertangki modifikasi mengisi BBM subsidi di Kota Parepare.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Tengku Muhammad Rum, mengatakan pihaknya tengah menelusuri dugaan penyalahgunaan tersebut.
Audit dan investigasi resmi dilakukan untuk memastikan kepatuhan SPBU terhadap regulasi dan standar distribusi.
“Jika ditemukan pelanggaran, sanksi tegas akan diberikan mulai dari pembinaan hingga pemutusan kerja sama,” ujar Tengku, Selasa (7/10/2025).
Ia menegaskan, Pertamina berkomitmen menjaga transparansi dan memastikan penyaluran BBM subsidi tetap tepat sasaran.
Upaya ini dilakukan melalui digitalisasi sistem distribusi menggunakan QR Code dan aplikasi MyPertamina, serta kerja sama dengan BPH Migas, Kementerian ESDM, dan aparat penegak hukum.
Selain itu, masyarakat juga dapat berperan dalam pengawasan melalui kanal pelaporan Call Center 135.
“Aplikasi MyPertamina memungkinkan pengguna memantau kuota pembelian BBM subsidi sesuai ketentuan pemerintah,” jelasnya.
Baca juga: Truk Modifikasi Viral Isi Solar Subsidi Ratusan Liter di Parepare
Pertalite Langka
Kelangkaan BBM subsidi dalam dua pekan terakhir tidak hanya menyulitkan pengendara, tapi juga nelayan yang bergantung pada BBM untuk melaut.
Muhammad Tahir, nelayan di Kelurahan Lakessi, Parepare mengaku kesulitan mendapat Pertalite.
Akibatnya, ia kerap tidak bisa melaut karena tidak memperoleh jatah BBM. “Berpengaruh sekali, sering tidak melaut karena tidak dapat,” ujarnya.
Tahir mengatakan, ia baru bisa mendapat Pertalite setelah mengantre lama di SPBU.
Ia mengaku tidak lagi menerima surat rekomendasi pengambilan BBM subsidi dari Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (PKP) Parepare.
“Biasa pakai jerigen, tapi kendaraan didahulukan, jadi kalau habis, tidak dapat. Dulu pernah dapat surat rekomendasi, tapi sekarang tidak lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, perahunya membutuhkan sekira 10 liter BBM untuk sekali melaut. Tahir berharap pemerintah kota memperhatikan nasib nelayan di tengah kelangkaan BBM.
“Harapannya supaya kami juga diperhatikan, setidaknya bisa dapat surat rekomendasi agar tetap bisa melaut,” katanya.
Baca juga: Lutim Ajukan Tambahan Kuota BBM di 2026
Kuota Nelayan
Kelangkaan BBM dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan antrean panjang di hampir seluruh SPBU di Kota Palopo.
Sejumlah SPBU bahkan terpaksa tutup sementara karena kehabisan stok.
Namun di tengah situasi itu, nelayan justru mengaku tidak mengalami kendala mendapatkan BBM untuk melaut.
Mereka tetap bisa mengakses solar berkat surat rekomendasi resmi dari Dinas Perikanan Palopo.
“Alhamdulillah kami mudah mendapat BBM karena ada surat dari Dinas Perikanan,” kata, Nurfianti, Selasa (7/10/2025).
Nurfianti setiap hari membeli sekira 150 liter solar untuk melaut mengaku proses pengurusan surat rekomendasi itu sangat mudah. “Saya pribadi merasa pengurusannya sangat gampang, tidak ribet,” ujarnya.
Ia biasanya membeli BBM pada pagi hari dan tidak pernah kehabisan stok selama membawa surat tersebut.
SPBU juga telah menyiapkan kuota khusus bagi nelayan yang memiliki dokumen resmi dari dinas.
Meski begitu, Nurfianti mengaku kerap menjadi sasaran protes warga lain saat mengisi BBM menggunakan jeriken.
“Biasa ditegur orang lain. Katanya kenapa saya bisa pakai jeriken sementara mereka tidak. Saya jelaskan bahwa saya bisa karena ada surat rekomendasi dari Dinas Perikanan,” katanya.
Kadis Perikanan Palopo, Charlie, mengatakan alokasi BBM subsidi untuk nelayan disesuaikan dengan kapasitas mesin kapal.
“Jatah BBM tiap nelayan bervariasi, dari 10 hingga 210 liter, tergantung kapasitas mesin kapalnya,” jelasnya.
Saat ini, sekira 200 nelayan di Palopo telah memperoleh surat rekomendasi untuk pembelian BBM subsidi. Total kebutuhan bulanan mereka mencapai sekitar 100 ribu liter solar dan 10 ribu liter pertalite.
Charlie menambahkan, setiap Jumat nelayan tidak melaut sehingga SPBU tidak melayani pembelian BBM untuk nelayan pada hari tersebut.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-10-8-HL-TRIBUN.jpg)