Breaking News
Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Headline Tribun Timur

Belatung Menetas di MBG

Tempe dan pisang berulat ditemukan dalam MBG di Bulukumba. Siswa jijik, orang tua protes. Kasus keracunan tembus 8.649 anak, BGN diminta evaluasi.

Tayang:
Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun Timur
HL TRIBUN TIMUR - Edisi cetak Rabu (1/10/2025) menampilkan laporan utama soal temuan belatung dalam makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bulukumba. Tempe dan pisang berulat membuat siswa jijik, orang tua mengeluh, dan pemerintah diminta memperketat pengawasan dapur sekolah. 

Kepala BB Labkesmas Makassar, dr Irene, mengatakan pihaknya menunggu koordinasi dari BGN.

“Kami siap melakukan pemeriksaan apabila diminta. Kalau sifatnya KLB (kejadian luar biasa), maka bisa dikawal agar mendapatkan pemeriksaan gratis,” kata dr Irene di Makassar, Selasa (30/9/2025).

Ia menambahkan, pihaknya juga mendukung adanya sertifikat layak higienitas dan sanitasi bagi setiap SPPG.

Sertifikat tersebut merupakan kewenangan Dinas Kesehatan setempat, namun BB Labkesmas bisa dilibatkan dalam proses pemeriksaan.

“Makanya kami akan komunikasikan. Kami hanya melakukan pemeriksaan, sehingga bisa membantu pihak yang mengeluarkan sertifikat, apakah layak atau tidak,” ujarnya.

Menurut dr Irene, penyebab keracunan siswa harus diteliti lebih jauh. 

Keracunan bisa terjadi bukan hanya karena bahan makanan, tetapi juga pola konsumsi.

“Belum tentu juga keracunan itu karena bahan makanan. Misalnya, makanan dimasak sejak pagi lalu baru dikonsumsi siang hari. Ada jenis makanan yang jika dikonsumsi lebih dari 4 jam setelah dimasak sudah memunculkan bakteri,” jelasnya.

Ekonomi Bergerak

Program MBG di Takalar bukan hanya meningkatkan kesehatan siswa, tapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

MBG merupakan program pemerintah untuk menyediakan makanan sehat, bergizi, dan seimbang bagi peserta didik di sekolah.

Tujuannya, meningkatkan gizi, konsentrasi belajar, dan kesehatan siswa, sekaligus mencegah stunting serta kekurangan gizi.

Di Takalar, program ini dijalankan Yayasan Sinar Jaya Reski melalui satuan pelayanan pemenuhan gizi.

Unit pelaksana ini bertugas menyiapkan, mengolah dan menyalurkan makanan ke sekolah-sekolah.

Kepala SPPG Yayasan Sinar Jaya Reski, Feby Razak, mengatakan pihaknya melibatkan tim quality control untuk menyortir bahan, memeriksa harga, dan menentukan jumlah yang dibutuhkan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved