Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Koperasi Merah Putih

Dari 2.266 Koperasi Desa Merah Putih, Baru 38 Beroperasi di Sulsel

Dari ribuan koperasi desa merah putih di Sulsel, baru 38 unit yang beroperasi. Digitalisasi dan SDM jadi tantangan utama.

Penulis: Renaldi Cahyadi | Editor: Sukmawati Ibrahim
Renaldi/Tribun Timur
KOPERASI MERAH PUTIH — Sekprov Sulsel, Jufri Rahman, saat ditemui di PT Pertamina Niaga Regional Sulawesi, Jl Garuda, Makassar, Selasa (23/9/2025). Jufri sebut baru 38 koperasi desa merah putih beroperasi di Sulsel. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Baru 38 Koperasi Desa Merah Putih beroperasi di Sulawesi Selatan (Sulsel) dari total 2.266 unit dibentuk.

Jumlah keseluruhan koperasi merah putih di Sulsel mencapai 3.059 unit, terdiri dari 2.266 koperasi desa dan 739 koperasi kelurahan.

Program ini masih menghadapi tantangan dalam tahap operasionalisasi.

Sekretaris Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, menyebut kunci percepatan operasional koperasi ada pada sistem digitalisasi melalui SIEM Koperasi Desa (Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa).

“Kalau sudah punya akun di SIEM, maka akses permodalan akan lebih mudah. Kendala utama memang di penyiapan proposal bisnis,” ujarnya, Selasa (23/9/2025).

Ia menambahkan, sumber pendanaan sebenarnya sudah tersedia.

Baca juga: Appi Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak Ekonomi Makassar

“Menteri Keuangan sudah mengalokasikan sekitar Rp200 triliun melalui lembaga pembiayaan negara,” ungkapnya.

Untuk mengatasi keterbatasan SDM, pemerintah bekerja sama dengan Kemenpan untuk menempatkan 1–3 tenaga PPPK di koperasi desa.

“Jadi tinggal menunggu proses berjalan. Kita harus sabar karena ini memang butuh tahapan,” katanya.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM RI, Ahmad Zabadi, meluruskan bahwa angka 38 hanya berlaku untuk wilayah tertentu.

Secara keseluruhan, jumlah koperasi yang beroperasi lebih banyak.

“Tahapan kelembagaan sudah selesai, sekarang kita masuk tahap operasionalisasi. Targetnya, hingga akhir 2025 seluruh koperasi desa sudah bisa beroperasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, masalah pembiayaan bukan hambatan utama karena dana sudah disiapkan.

Tantangan terbesar ada pada kesiapan koperasi itu sendiri.

“Caranya, koperasi harus menyiapkan rencana bisnis yang baik agar bisa segera mengakses pembiayaan,” tutupnya. (*)

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Renaldi Cahyadi

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved