Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Idul Adha 2026

1.475 Hewan Kurban Disembelih di Soppeng: Prabowo Sumbang 1, Suwardi Haseng 3, dan Selle 1 Sapi

Suasana kebersamaan begitu terasa saat warga memenuhi area lapangan, jalan hingga teras bangunan di sekitarnya. 

Tayang:
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/KASWADI
IDUL ADHA - Suasana jelang Idula Adha 10 Zulhijjah 1447 Hijriah/2026 Masehi di Lapangan Gasis berada di Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (27/5/2026). Sebanyak 1.410 ekor sapi, 65 ekor kambing dipotong di Hari Raya Kurban di Soppeng. 

Anak ini tumbuh menjadi penyejuk hati, menjadi harapan hidupnya. Namun, ketika cinta sedang kuat-kuatnya, Allah justru memerintahkan sesuatu yang sangat berat, menyembelih anaknya yang paling dicintainya. 

"Ini bukan ujian biasa, ini adalah ujian yang mengguncang hati manusia," katanya.

Musriadi menyebut, roh perjuangan Nabi Ibrahim adalah roh kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat geografis. 

Dalam falsafah Bugis, dikenal konsep posse wae. 

Konsep Ketuhanan ini mengatakan, poli-giri posse wae, natoro ri posse wae.

Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap makhluk berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. 

Dalam peristiwa kurban, Ibrahim, penyembelihan Ismail bukanlah sekadar ritual fisik, melainkan simbol penyembelihan keterikatan duniawi yang paling dicintai demi menuju Sang Pencipta. 

"Nabi Ibrahim menunjukkan untuk kembali kepada posse wae dengan murni, manusia harus mampu melepaskan ego kepemilikan semu atas apa pun di dunia ini, menyadari bahwa diri dan keturunannya adalah milik Allah semata," sebutnya.

Olehnya itu, ia mengingatkan jangan biarkan Idul Adha berlalu tanpa perubahan dalam diri.

Jangan hanya hewan yang disembelih, tetapi biarkan juga hati yang keras menjadi lembut. 

Jangan hanya darah yang mengalir, tetapi biarkan air mata mengalir melihat kemiskinan, kepapaan, dan ketidakberdayaan.

Ia mengutip hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang bersabda:

"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”

Musriadi menjelaskan, hadis ini menunjukkan solidaritas organik dan kesatuan esensial yang seharusnya mengikat setiap individu dalam komunitas beriman. 

Dengan menggunakan metafora medis "satu tubuh", Rasulullah menegaskan bahwa empati bukan sekadar pilihan moral, melainkan konsekuensi logis dari iman yang hidup. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved