Menjadi Tua dengan Tenang, Suaib Bertahan dari Anyaman Bambu
Namun tetap menjual bilah-bilah bambu, sangkar, tampah, tirai, dan berbagai anyaman.
Penulis: Hardiyanti Kamaluddin | Editor: Ansar
Dari sana, langkahnya berlanjut ke Morowali.
Di tanah orang, ia belajar satu hal yang terus ia pegang hingga kini.
Menjaga kepercayaan adalah modal terbesar seorang perantau.
“Kalau orang sudah percaya, itu yang kita jaga,” katanya dengan senyum kebanggaan yang pernah ia miliki.
Begitu prinsip hidupnya yang tak pernah berubah.
Perjalanannya belum selesai.
Ia sempat tinggal di Makassar, menjual beras di pasar Pa’baeng-Baeng.
Di tengah hiruk-pikuk kota, ia menjadi bagian dari roda kehidupan yang berputar cepat.
Tak ada kemewahan, tak ada cerita besar.
Hanya kerja keras yang dilakukan berulang setiap hari.
Perjalanan panjangnya membuahkan hasil.
Ia kini membuka lapak jualan sangkar burung, tirai, topi, dan lain-lain.
Selain itu, berdiri di samping lapaknya rumah yang menjadi tempatnya berteduh bersama anak menantunya, hasil dari kerja kerasnya.
Ia dedikasikan hasil keringatnya untuk keluarganya.
Kini, langkahnya telah melambat.
| Musim Pembibitan Padi Dimulai di Sidrap, Petani Siapkan Benih Unggul Target Panen Maksimal |
|
|---|
| 'Kalau Tidak Pelan Jatuh' Jalan Poros Sidrap-Soppeng Rusak dan Berlubang |
|
|---|
| Beli Minyak Goreng Dibatasi 2 Pcs di Sidrap, Warga Mulai Khawatir Kelangkaan |
|
|---|
| Putu Soppa Jajanan Legendaris di Sidrap Bikin Warga Antre, Rp5 Ribu / 2 Bungkus |
|
|---|
| Senja yang Hidup di Taman Usman Isa, Ruang Santai Warga Sidrap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PENJUAL-ANYAMAN-Suaib-pedagang-anyaman-bambu-di-depan1.jpg)