Salam Tribun Timur
Kemewahan Haji yang Tak Perlu Dipertentangkan
Maka tak heran jika kedatangan jamaah haji Kloter 5 asal Gowa di Asrama Haji Sudiang, Jumat (5/6/2026), kembali menarik perhatian.
Bahasa budaya. Bahasa penghormatan kepada keluarga yang menunggu dan menjemput.
Ada yang menunggu antrean haji belasan tahun. Bahkan dua dekade.
Ada keluarga yang menabung sedikit demi sedikit.
Ada sawah dijual. Ada emas digadai.
Ada perjuangan panjang yang akhirnya bermuara di satu titik: pulang dengan selamat dan menyandang gelar haji.
Maka ketika sebagian jamaah memilih memakai busana terbaik saat pulang, itu juga cara mereka menghargai momen sakral itu.
Tentu ada sisi budaya yang kuat di sana.
Bugis-Makassar punya tradisi panjang memuliakan momentum besar dengan simbol kehormatan.
Pernikahan memakai baju terbaik. Syukuran memakai busana terbaik.
Menjemput tamu kehormatan memakai pakaian terbaik. Dan haji, bagi banyak keluarga, adalah puncak kehormatan spiritual.
Di tengah globalisasi, itu sesuatu yang tidak kecil. Tetapi tetap ada catatan penting.
Jangan sampai kemewahan menutupi hakikat.
Sebab haji sejatinya bukan tentang seberapa mahal pakaian pulang, bukan tentang berapa juta belanja oleh-oleh, dan bukan tentang siapa paling mencolok saat tiba di asrama haji.
Haji adalah tentang perubahan batin. Tentang pulang membawa kesabaran baru.
Kejujuran baru. Kerendahan hati baru. Dan kemuliaan akhlak yang lebih nyata daripada emas di pakaian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260605-kedatangan-jamaah-haji-kloter-5-Debarkasi.jpg)