Opini
Multiplier Effect, Politisi MBG dan Kapitalisme Lokal
Bagi para pengamat, ilmuwan, peneliti dan seterusnya sudah semestinya mengkaji dan mengevaluasi MBG ini.
Hingga, hanya satu halaman yang kubaca lalu kucukupkan. Saya putuskan melanjutkannya di rumah.
Saya membakar rokok lalu ikut bergabung di meja tempat anak muda dan mahasiwa ini berdebat, tak lupa kuambil kopiku yang belum sampai setengah gelas kuteguk, agar menambah kesempurnaan diskusi kita.
Kitapun berdiskusi banyak hal, keadaan bangsa yang dianggap salah urus, kondisi pemerintahan yang kian merosot, termasuk program pemerintah yang sangat dipaksakan dan tidak berdampak pada masyarakat menengah ke bawah.
Kita banyak mengulik secara dalam dampak dari kehadiran program unggulan pemerintah seperti Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih hingga Makan Bergizi Gratis.
Dalam tulisan ini kita mencoba mengulas Makan Bergizi Gratis lebih jauh.
Semua mengarah pada rezim pemerintahan dengan perasaan dongkol dan penuh amarah.
Ternyata keresahan itu makin memuncak terkait MBG saat mereka mendengar banyak keluhan dari segala tingkatan dan semua kalangan. Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga kehadiran MBG di kampus.
Hal itu dinilainya bahwa MBG yang hadir di kampus juga membuat kampus disorientasi. Sebab, pada dasarnya kampus fokus dan konsen pada pengembangan keilmuan, riset dan pengabdian pada masyarakat.
Bukan malah mengurusi teknis dan terjun langsung pada pelayanan MBG yang sebenarnya bisa dialihkan dalam bentuk kerja sama dan pembinaan di kantin-kantin sekolah.
Kalau hanya untuk inovasi dan memberi standar gizi pada MBG, kantin-kantin di sekolah pun mampu dengan catatan adanya pembinaan dan pelatihan oleh kampus terkait yang mau berkontribusi pada program ini.
Kita memang tahu, mendengar informasi atau bahkan merasakan langsung di lapangan bahwa kehadiran MBG tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan kita.
Mulai dari banyak SPPG kita yang telah beroperasi tidak menyediakan makanan dengan standar gizi yang memadai.
Tentu sangat kontras dengan nama programnya sendiri. Mirisnya lagi ada sekolah yang pernah mengalami keracunan. Mulai dari keluhan siswa yang tidak menghendaki MBG ini.
Dan keluhan guru yang sebaiknya anggaran ini bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas guru, menghidupkan kantin-kantin sekolah hingga keluhan orang tua siswa yang juga merasakan sebaiknya anggaran makan ini diberi dalam bentuk materi untuk mencukupi kehidupan sehari-hari mereka.
Memang benar, faktanya di lapangan tidak seperti pidato Prabowo Subianto yang banyak memuji kehadiran programnya ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-11-Andi-Yahyatullah-Muzakkir.jpg)