Salam Tribun Timur
Lebaran Lari setelah Lebaran Haji
Cara baru sudah ditemukan untuk memperkenalkan dirinya: membuat orang datang, berlari, lalu pulang sambil membawa cerita.
TRIBUN-TIMUR.COM - Makassar tampaknya baru saja menutup satu lebaran, lalu membuka lebaran lain.
Setelah gema takbir Iduladha reda, di penghujung gema takbir tasyrik, ribuan orang datang dengan sepatu lari.
Jalan-jalan kota kembali dipenuhi kerumunan.
Bukan untuk salat Id, melainkan berlari.
Makassar Half Marathon 2026 pun menjelma menjadi semacam Lebaran Lari.
Cara baru sudah ditemukan untuk memperkenalkan dirinya: membuat orang datang, berlari, lalu pulang sambil membawa cerita.
Makassar Half Marathon (MHM) 2026 bukan lagi sekadar lomba lari.
Ia sudah menjelma menjadi hajatan kota.
Bahkan mungkin mulai menyerupai “lebaran”-nya para pelari, seperti kata Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.
Angkanya memang mengesankan.
Sekira 12.400 pelari hadir. Lebih dari separuh datang dari luar Makassar.
Hotel penuh. UMKM bergerak. Pusat oleh-oleh ramai.
Warung kopi hidup. Restoran sibuk. Kota berdenyut lebih cepat selama tiga hari.
Bahkan Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko sampai setengah bergurau mengaku iri.
Ia ingin belajar “ilmu marketing” kepada Wali Kota Makassar karena mampu mendatangkan lebih dari 12 ribu pelari ke satu event.
Kalimat Sang Jenderal itu terasa sederhana, tetapi mengandung pesan besar: kota hari ini tidak cukup hanya dibangun dengan beton, flyover, dan gedung. Kota juga harus dipasarkan.
Makassar tampaknya mulai memahami itu.
Dulu kota bersaing lewat pelabuhan. Kini kota bersaing lewat pengalaman.
Orang datang bukan hanya untuk rapat atau urusan bisnis.
Orang datang untuk menikmati kota.
Berlari di jalanannya. Menikmati kulinernya. Menginap di hotelnya.
Memotret matahari terbit di Losari lalu mengunggahnya ke media sosial. Dan dampaknya nyata.
Sejak pertama kali pascapandemi pada 2022 dengan 3.500 peserta, MHM terus tumbuh. Tahun ini, 29-30-31 Mei 2026, mencapai 12.400 pelari.
Tumbuh sekitar 24 persen dibanding tahun lalu. Ini bukan angka kecil.
Ini sinyal bahwa Makassar sedang dibaca sebagai destinasi sport tourism.
Di titik ini, pemerintah kota patut diapresiasi.
Tidak banyak event daerah yang bisa tumbuh konsisten.
Lebih sedikit lagi yang mampu menciptakan efek ekonomi langsung bagi warga.
Tetapi apresiasi tidak boleh membuat lupa pada evaluasi.
Karena ketika sebuah event membesar, ekspektasi publik ikut meninggi.
Wali Kota Makassar sendiri mengakui masih ada kekurangan dalam pelaksanaan tahun ini. Dan pengakuan itu penting.
Sebab kota yang dewasa bukan kota yang merasa sempurna, tetapi kota yang mau belajar dari kritik.
Persoalan teknis, pengaturan lalu lintas, kebersihan, kenyamanan peserta, hingga koordinasi lintas sektor harus dibenahi.
Jika MHM ingin naik kelas menjadi event internasional, maka standar pengelolaannya juga tidak boleh lokal-lokal saja.
Pelari datang bukan hanya membawa sepatu. Mereka membawa pengalaman.
Dan pengalaman buruk hanya butuh satu unggahan untuk menyebar lebih cepat daripada promosi.
Maka MHM jangan hanya dihitung dari jumlah peserta.
Ukur juga dari kepuasan pelari.
Dari apakah mereka ingin kembali tahun depan.
Dari apakah mereka pulang membawa cerita baik tentang Makassar.
Yang juga tak kalah penting: jangan sampai event besar hanya dinikmati hotel besar dan pusat kota.
Pemerintah perlu memastikan dampak ekonominya menjalar ke lebih banyak warga.
UMKM lokal harus mendapat ruang lebih besar.
Kawasan wisata harus ikut hidup.
Transportasi publik harus lebih siap.
Karena tujuan akhir sebuah event bukan sekadar ramai.
Tetapi membuat kota bertumbuh.
Menjadikan warga kota ikut menikmati.
Munafri Arifuddin tampaknya sedang menuju ke sana.
Menjual kota bukan dengan baliho, tetapi pengalaman.
Dan bila dikelola konsisten, mungkin suatu hari nanti orang tidak lagi bertanya: “Makassar punya event apa?”
Tetapi justru: “Kapan lagi Makassar Half Marathon?” Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hadiah-Makassar-Half-Marathon-1-3152026.jpg)