Opini
Mentraktir Makan, atau Memberi Tunai?
Lalu ia tertawa kecil. “Cuma memang, kenyang itu tidak bisa dibungkus untuk dibawa pulang.”
Oleh: Salman Ahmad
SAYA teringat seorang pegawai yang pernah berkata lirih setelah sebuah acara makan bersama, hasil traktiran bosnya di kantor: “Alhamdulillah kenyang, Pak.”
Lalu ia tertawa kecil. “Cuma memang, kenyang itu tidak bisa dibungkus untuk dibawa pulang.”
Di sebuah meja makan, seseorang tampak begitu murah hati. Ia memesan banyak hidangan.
“Tambah lagi,” katanya kepada pelayan. Orang-orang tersenyum. Gelak tawa dan senyum tersungging manis. Suasana terasa hangat.
Tetapi hidup, kadang-kadang, tidak hanya berlangsung di meja makan.
Ia berlangsung di rumah kontrakan yang cicilannya jatuh tempo.
Pada dompet yang mulai tipis di minggu ketiga.
Pada anak yang diam-diam belum membayar uang sekolah.
Pada seorang ibu yang menanak nasi sambil menghitung sisa minyak goreng.
Sebagian tidak menyadari ini, dan seringkali, kita lebih mudah mentraktir orang makan daripada memberi uang tunai.
Barangkali karena uang tunai terlalu nyata.
Ia masuk langsung ke pusat kebutuhan. Tidak romantis. Tidak estetik. Tidak menghadirkan suasana.
Tidak ada gelak tawa yang bisa dipotret lalu diunggah. Uang tunai bekerja dalam diam. Ia tidak menciptakan peristiwa, hanya menyelesaikan masalah.
Psikologi sosial menyebut adanya visible generosity: kecenderungan manusia lebih menyukai bentuk pemberian yang dapat segera dilihat efek sosialnya.
Mentraktir makan --yang saya maksud di sini, berbeda dengan undangan aqiqah, buka puasa bersama dan acara-acara keluarga lainnya-- menciptakan pemandangan keakraban.
Ada relasi yang tampak. Ada citra kemurahan hati yang terbangun tanpa perlu diumumkan.
Sementara memberi uang tunai tidak selalu menghadirkan pemandangan kemurahan hati yang mudah dikenang. Ia nyaris tanpa adegan.
Tidak ada meja panjang, tidak ada tawa yang mengembang, tidak ada suasana hangat yang bisa disaksikan ramai-ramai.
Uang tunai bekerja diam-diam, bahkan kadang lenyap tanpa bekas visual sama sekali.
Ia berubah menjadi beras, menjadi biaya sekolah, menjadi obat, menjadi listrik yang kembali menyala.
Karena itu, banyak orang secara tidak sadar lebih tertarik pada bentuk pemberian yang menghadirkan pengalaman sosial ketimbang bantuan yang benar-benar larut ke dalam kebutuhan hidup seseorang.
Mentraktir menciptakan momen; sementara memberi uang tunai sering hanya menciptakan keberlangsungan hidup, dan keberlangsungan hidup jarang tampak dramatis.
Ada yang lebih memilih memberi dalam bentuk pengalaman, bukan penyelesaian.
Memberi kesenangan sesaat, bukan daya tahan hidup.
Padahal, kebutuhan manusia sering kali sangat sederhana. Bukan kopi mahal. Bukan restoran baru. Bukan foto kebersamaan, Melainkan kemampuan pulang dengan membawa sesuatu untuk anak istrinya, di rumah.
Saya kira, di situlah sedekah diuji: apakah ia lahir dari keinginan menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain, atau justru demi kebutuhan kita agar dinilai banyak orang, sebagai orang pemurah.
Pertanyaan ini mungkin menggangu, para pentraktir.
Tetapi bukankah hampir semua refleksi yang penting selalu dimulai dari rasa tidak nyaman?
Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah undangan makan, melainkan kesempatan untuk bernapas sedikit lebih lega.
Tentu saja mentraktir bukan perbuatan buruk.
Dalam banyak hal, ia tetap bentuk perhatian yang indah.
Dunia akan terasa kering tanpa orang-orang yang ringan berbagi makanan, dan rajin mentraktir.
Tetapi mungkin ada saatnya kita belajar membedakan antara memberi yang menyenangkan hati kita sendiri dan memberi yang sungguh-sungguh dibutuhkan orang lain.
Sebab ada orang yang pulang dari meja makan traktiran dengan perut kenyang.
Namun kecemasannya tetap lapar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/TRIBUN-OPINI-Salman-Ahmad.jpg)