Opini
Reef Soundscape: Antropologi Suara dari Laut yang Hidup
Namun modernitas sering membuat manusia memandang laut hanya sebagai hamparan biru yang tampak tenang dari kejauhan.
Oleh: Prof. Dr. A. Adri Arief, S.Pi. M.Si
Sosiologi Perikanan Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Laut sesungguhnya tidak pernah sunyi. Di bawah permukaannya, ombak, arus, terumbu karang, ikan, dan berbagai organisme laut membentuk orkestrasi suara kehidupan yang terus berlangsung tanpa henti.
Namun modernitas sering membuat manusia memandang laut hanya sebagai hamparan biru yang tampak tenang dari kejauhan.
Kita lupa bahwa ruang bawah laut sesungguhnya adalah lanskap akustik yang hidup, penuh percakapan biologis yang menandai keberlangsungan ekosistemnya.
Dalam perspektif antropologi suara, bunyi bukan sekadar fenomena fisik, melainkan bagian dari pengalaman budaya manusia terhadap lingkungannya.
Antropologi suara memandang bahwa manusia tidak hanya hidup dalam dunia visual, tetapi juga dalam dunia bunyi.
Sebagaimana masyarakat hutan mengenali alam melalui suara burung dan desir pepohonan, masyarakat pesisir juga membaca kehidupan melalui bunyi laut.
Nelayan tradisional mengenali arah angin dari bunyi ombak, musim ikan dari perubahan suara laut, badai dari resonansi pesisir, bahkan lokasi ikan dari aktivitas akustik tertentu.
Nelayan tradisional pada dasarnya memiliki acoustic knowledge atau pengetahuan bunyi, meskipun tidak selalu disebut demikian secara ilmiah.
Laut bagi mereka bukan ruang kosong, melainkan ruang yang memiliki suara dan tanda-tanda kehidupan.
Orkestrasi Suara Kehidupan di Bawah Laut
Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai reef soundscape. Reef soundscape merupakan lanskap suara ekologis yang dihasilkan oleh ekosistem terumbu karang sehat.
Letupan udang pistol, aktivitas ikan karang, gesekan organisme laut, arus, dan gelombang membentuk simfoni bawah laut yang kompleks.
Bunyi-bunyian tersebut bukan kebisingan tanpa makna, melainkan bagian dari sistem komunikasi ekologis yang menopang kehidupan laut.
Dalam kajian ekologi akustik, keanekaragaman hayati selalu berkorelasi dengan keragaman suara yang dihasilkan suatu ekosistem.
Karena itu, semakin sehat suatu ekosistem, semakin kaya pula orkestrasi akustik yang dimilikinya. Bagi organisme laut, soundscape yang kaya dan kompleks berfungsi sebagai panduan orientasi.
Ikan muda dan planula (larva karang) yang menghabiskan masa awal kehidupannya di lautan terbuka sangat bergantung pada suara-suara tersebut untuk menemukan habitat yang tepat untuk tumbuh.
Sains modern kini membuktikan bahwa suara-suara tersebut memiliki fungsi ekologis yang sangat penting.
Penelitian yang dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa larva ikan lebih tertarik menuju kawasan terumbu karang yang memiliki soundscape sehat.
Sebagai perbandingan, area yang rusak tercatat rata-rata 15 desibel lebih sunyi dibanding ekosistem yang masih baik.
Penurunan intensitas suara ini diikuti dengan hilangnya kompleksitas akustik yang selama ini menjadi sinyal navigasi alami bagi larva ikan untuk menemukan habitatnya.
Temuan ini memperlihatkan bahwa laut yang sehat sesungguhnya adalah laut yang masih memiliki orkestrasi suara kehidupan.
Ketika terumbu karang rusak, yang hilang bukan hanya struktur fisik karang, tetapi juga percakapan biologis yang selama jutaan tahun menopang reproduksi kehidupan laut.
Laut yang kehilangan suaranya perlahan turut kehilangan kemampuan untuk memanggil generasi baru penghuninya.
Ketika Laut Kehilangan Suaranya
Di sinilah kesunyian laut menjadi sangat mengkhawatirkan. Kesunyian ekologis bukanlah tanda kedamaian, melainkan sering kali menjadi pertanda bahwa kehidupan sedang terusir dari habitatnya sendiri.
Ketika populasi ikan menurun, karang mati, dan biodiversitas menyusut, suasana bawah laut perlahan berubah layaknya kota hantu.
Soundscape yang miskin membuat larva ikan, invertebrata, dan berbagai organisme muda kehilangan “kompas biologis” untuk pulang.
Kondisi ini menjadi semakin relevan jika melihat situasi terumbu karang di Indonesia saat ini.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mencatat bahwa dari 1.153 titik pantau, sekitar 33,82 persen berada dalam kondisi buruk, sementara hanya 6,42 persen yang masuk kategori sangat baik.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ekosistem karang Indonesia sedang menghadapi tekanan serius akibat perubahan iklim, sedimentasi, pencemaran, penangkapan ikan destruktif, hingga ekspansi pembangunan pesisir.
Ironisnya, hilangnya soundscape alami laut justru dipicu oleh kebisingan yang dihasilkan manusia sendiri.
Lalu lintas kapal, pengerukan, reklamasi, industri pesisir, dan eksploitasi ruang laut perlahan mengambil alih ruang akustik ekosistem.
Laut dipenuhi suara mesin, sementara suara kehidupan biologis semakin menghilang. Dalam perspektif ekologi politik, kondisi ini dapat dibaca sebagai bentuk kolonialisasi ekologis terhadap ruang hidup laut.
Mungkin problem terbesar manusia modern bukan lagi ketidakmampuan mendengar suara-suara laut, melainkan kegemarannya merayakan kebisingan dirinya sendiri.
Dalam pesta kerakusan yang terus dipertontonkan hari ini, alam diperlakukan sekadar objek konsumsi.
Laut dikeruk, pesisir dipadatkan, dan terumbu karang dihancurkan demi memenuhi hasrat pembangunan tanpa batas. Pada titik itu, kesunyian laut sesungguhnya adalah gema dari peradaban yang terlalu sibuk berpesta di atas kerusakan ekologisnya sendiri.
Menghidupkan Kembali Suara Laut
Menariknya, perkembangan sains modern kini mulai menyadari bahwa laut tidak hanya dapat dipulihkan melalui pendekatan fisik, tetapi juga melalui pendekatan akustik.
Para peneliti mulai memahami bahwa reef soundscape bukan sekadar bunyi latar ekosistem, melainkan bagian penting dari mekanisme ekologis yang membantu kehidupan laut beregenerasi.
Karena itu, sejumlah ilmuwan mencoba menghadirkan kembali “suara kehidupan” ke wilayah terumbu yang rusak.
Salah satu inovasi yang berkembang adalah pemasangan speaker bawah laut yang memutar rekaman soundscape terumbu karang sehat.
Tujuannya bukan sekadar menghadirkan bunyi, tetapi mengembalikan sinyal ekologis yang selama ini menjadi penanda habitat bagi berbagai organisme laut.
Penelitian dari Woods Hole Oceanographic Institution pada tahun 2024 menunjukkan bahwa pemasangan speaker bawah laut mampu meningkatkan pemukiman planula (larva karang) hingga tujuh kali lebih tinggi dibanding area tanpa suara.
Temuan ini memperlihatkan bahwa planula dan organisme muda ternyata sangat responsif terhadap lanskap suara ekologis di sekitarnya. Mereka “mendengar” laut untuk menentukan tempat terbaik bertumbuh dan membangun koloni baru.
Penelitian lain di Great Barrier Reef juga menunjukkan hasil yang serupa. Ketika suara-suara alami ekosistem terumbu karang sehat diperdengarkan kembali, komunitas ikan mulai kembali berdatangan.
Reef soundscape ternyata bekerja layaknya panggilan biologis yang memberi tahu bahwa suatu habitat masih layak dihuni.
Temuan-temuan ini membuka cara pandang baru dalam konservasi laut. Selama ini, pemulihan ekosistem sering hanya berfokus pada transplantasi karang, rehabilitasi fisik, atau pengurangan pencemaran.
Kini, sains mulai menunjukkan bahwa pemulihan ekologi juga perlu mempertimbangkan dimensi sensorik dan akustik lingkungan.
Laut ternyata tidak hanya membutuhkan ruang untuk hidup, tetapi juga membutuhkan kembali suara-suara kehidupannya.
Pada titik inilah reef soundscape menjadi lebih dari sekadar fenomena biologis. Ia berkembang menjadi penanda kesehatan ekosistem sekaligus teknologi konservasi masa depan.
Kesehatan laut tidak hanya diukur dari apa yang terlihat oleh mata, tetapi juga dari apa yang masih dapat didengar di kedalamannya. Laut yang hidup selalu memiliki suara. Keanekaragaman hayati selalu melahirkan keanekaragaman bunyi.
Menjaga Simfoni Laut Tetap Hidup
Karena itu, menjaga ekosistem terumbu karang sesungguhnya bukan hanya menjaga ikan, karang, dan biodiversitas laut tetap bertahan hidup, melainkan menjaga agar simfoni ekologis kehidupan terus dimainkan oleh alam.
Reef soundscape mengajarkan bahwa laut yang sehat selalu memiliki suara: suara yang menjadi penanda keberadaan kehidupan, keseimbangan, dan harapan bagi generasi organisme yang akan datang.
Kita tidak boleh membiarkan suara-suara itu berhenti. Sebab ketika orkestrasi kehidupan bawah laut tidak lagi terdengar, sesungguhnya yang hilang bukan hanya bunyi-bunyian biologis, tetapi juga memori ekologis yang selama ini menjaga hubungan manusia dengan laut.
Pada titik itu, manusia mungkin baru menyadari bahwa kita telah terlalu jauh mengusir kehidupan dari rumahnya sendiri.
Dan sebelum laut benar-benar mati, sering kali ia lebih dahulu menjadi sunyi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-18-Prof-Dr-A-Adri-Arief-SPi-MSi.jpg)