Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Afifuddin Harisah

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Sertifikasi Lulus Puasa

Sertifikasi, pada sisi lainnya, berfungsi sebagai pengakuan resmi atas kelayakan seseorang dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab profesinya.

Tayang:
Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Afifuddin Harisah Pengasuh PP An nahdlah dan Akademisi UIN Alauddin Makassar 

Oleh: Afifuddin Harisah

Pengasuh PP An nahdlah dan Akademisi UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam dunia profesional, asesmen dan sertifikasi memainkan peran yang sangat penting untuk menilai kualitas dan kompetensi seseorang.

Hal ini bisa dilihat dalam berbagai profesi, seperti guru, dosen, atau tenaga medis yang memerlukan asesmen untuk mengukur kemampuan mereka sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Sertifikasi, pada sisi lainnya, berfungsi sebagai pengakuan resmi atas kelayakan seseorang dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab profesinya.

Namun ternyata, di luar dunia pekerjaan, manusia muslim juga menghadapi jenis asesmen lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu asesmen spiritual.

Salah satu bentuk asesmen spiritual yang sangat signifikan dalam Islam adalah ibadah puasa selama bulan Ramadhan, yang bukan hanya sebuah kewajiban ritual, tetapi juga sebuah ujian ketakwaan yang harus dijalani oleh setiap Muslim.

Dalam konteks puasa, keberhasilan atau “kelulusan” dalam menjalani ibadah ini dapat dianalogikan dengan suatu bentuk “sertifikasi lulus puasa.”

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang ulama besar di bidang hadis, memberikan tiga indikator utama yang digunakan untuk menilai keberhasilan seseorang dalam berpuasa.

Ketiga indikator ini adalah: pertama, memiliki hati yang alim, kedua, memiliki tubuh yang sabar, dan ketiga, memiliki sifat qana’ah.

Hati yang Alim: Pengawasan Allah atau Pengawasan CCTV?

Indikator pertama yang sangat penting dalam menilai keberhasilan puasa adalah memiliki hati yang alim.

Hati yang alim, menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, adalah hati yang selalu dalam kesadaran penuh bahwa Allah SWT mengawasi setiap perbuatan dan pikiran kita.

Hati yang alim ini memiliki kesadaran spiritual yang mendalam, yaitu selalu merasakan bahwa pengawasan Allah lebih kuat dan lebih signifikan dibandingkan dengan pengawasan duniawi yang terbatas, seperti pengawasan polisi atau sistem CCTV.

Seorang yang memiliki hati yang alim akan lebih takut terhadap pengawasan Allah, yang tidak hanya mencakup tindakan lahiriah, tetapi juga segala bentuk niat dan pikiran yang tersembunyi di dalam hati.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved