Opini
Dolar Naik, UMKM Tercekik
Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin hanya terlihat sebagai angka di layar televisi atau notifikasi berita ekonomi di ponsel.
Oleh: Dien Triana
Dosen PNUP / Ketua Ikatan Alumni Manajemen Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa hari terakhir, nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali menguat.
Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin hanya terlihat sebagai angka di layar televisi atau notifikasi berita ekonomi di ponsel.
Namun bagi pelaku UMKM, kondisi ini terasa jauh lebih nyata.
Harga bahan baku mulai naik, biaya distribusi meningkat, sementara konsumen justru makin berhati-hati membelanjakan uangnya.
Di pasar tradisional, pedagang mulai mengeluh omzet menurun.
Di warung kopi dan grup WhatsApp pelaku usaha, pembicaraan soal harga barang dan cicilan kembali ramai.
Banyak usaha kecil sebenarnya masih bertahan, tetapi bertahan dengan napas yang pendek.
Sebagian lainnya, harus rela gulung tikar.
Pemerintah memang terus berupaya menggerakkan sektor riil melalui berbagai stimulus pembiayaan.
Kredit Usaha Rakyat (KUR), relaksasi pembiayaan, hingga kemudahan akses modal menjadi langkah yang cukup membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat.
Namun di tengah situasi hari ini, ada pertanyaan yang perlu direnungkan bersama: apakah sektor riil benar-benar akan kuat jika sebagian besar pertumbuhannya masih ditopang oleh sistem utang berbasis bunga?
Di lapangan, banyak UMKM yang akhirnya masuk dalam siklus yang melelahkan.
Meminjam modal untuk bertahan, membayar cicilan setiap bulan, lalu kembali meminjam ketika usaha belum stabil.
Tidak sedikit pelaku usaha kecil yang bekerja keras dari pagi hingga malam, tetapi hasil usahanya lebih banyak habis untuk membayar kewajiban finansial.
Mereka bukan malas bekerja.
Mereka hanya sedang berada dalam sistem yang membuat ruang bernapas semakin sempit.
Dalam perspektif ekonomi syariah, usaha seharusnya tumbuh dalam hubungan yang lebih adil dan saling menguatkan.
Islam tidak menolak keuntungan, tetapi menolak praktik ekonomi yang membuat satu pihak terus menikmati kepastian keuntungan sementara pihak lain menanggung seluruh tekanan usaha.
Karena itu, sudah waktunya Indonesia mulai lebih serius membangun model penggerak ekonomi berbasis kemitraan dan produktivitas, bukan semata-mata ekspansi kredit.
Salah satu gagasan yang layak dipikirkan adalah membangun Dana Kemitraan Produktif Nasional berbasis syirkah dan bagi hasil untuk UMKM.
Dalam model ini, pemerintah tidak hanya menjadi penyalur stimulus, tetapi menjadi penghubung ekosistem usaha yang sehat.
Negara dapat bekerja sama dengan perbankan syariah, koperasi, BUMN, kampus, komunitas bisnis, hingga masjid produktif untuk mendampingi UMKM secara nyata.
Pelaku usaha tidak lagi dibebani bunga tetap yang harus dibayar dalam kondisi apa pun, tetapi menjalankan pola kemitraan berbasis bagi hasil sesuai kemampuan usaha mereka.
Jika usaha berkembang, keuntungan dibagi bersama.
Jika usaha sedang sulit, risiko juga ditanggung secara proporsional.
Hubungan yang tercipta bukan lagi sekadar kreditur dan debitur, melainkan hubungan yang saling mendukung untuk bertumbuh.
Model seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.
Kita punya semangat gotong royong, solidaritas sosial, dan komunitas yang kuat.
Potensi itu tinggal diarahkan menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
Selain itu, orientasi kebijakan ekonomi juga perlu perlahan bergeser.
Selama ini masyarakat lebih mudah didorong menjadi konsumen dan pengambil kredit, tetapi belum cukup kuat didorong menjadi produsen yang mandiri.
Padahal ketahanan ekonomi bangsa tidak lahir dari banyaknya utang yang beredar, tetapi dari kuatnya usaha-usaha kecil yang mampu hidup sehat dan berkembang.
Di tengah tekanan ekonomi global hari ini, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan modal.
Mereka membutuhkan sistem yang membuat mereka bisa tumbuh tanpa terus dihantui rasa takut kehilangan usaha karena beban cicilan.
Patut disadari bahwa ukuran keberhasilan ekonomi bukanlah semata pertumbuhan angka statistik yang fantastis, melainkan seberapa tenang rakyat kecil dapat menjalani hidupnya.
Dan menjadi sebuah keniscayaan, di tengah situasi yang semakin tidak pasti hari ini, ekonomi syariah bukan lagi sekadar pilihan dari berbagai alternatif, bukan pula sebuah simbol religius.
Ia menjadi jalan yang harus diperjuangkan secara serius untuk masa depan ekonomi bangsa yang lebih baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dien-Triana-17052026.jpg)