Salam Tribun Timur
Tetangga Tolak PSEL Tamalanrea
Emak-emak dan ayah-ayah Mula Baru, Tamalalang, Bontoa, dan Alamanda di Kecamatan Tamalanrea keluar rumah, turun ke jalan.
Mereka paham kota ini darurat sampah.
Mereka tahu solusi harus dicari.
Tetapi mereka juga tahu batas: jangan di halaman rumah mereka sendiri.
Kalimat itu sederhana, tetapi berat maknanya: Kami tidak menolak proyeknya, kami menolak lokasinya.
Seringkali memang proyek strategis nasional bergerak dengan logika percepatan.
Semua harus cepat.
Semua harus selesai.
Tetapi dalam kecepatan itu, percakapan tertinggal jauh.
Apakah warga sudah benar-benar diajak bicara?
Apakah risiko sudah dijelaskan dengan jujur?
Apakah ada jaminan yang bisa dipercaya?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu belum tuntas, maka penolakan bukanlah gangguan.
Ia adalah alarm.
Lebih jauh lagi, ada kesan yang tidak bisa diabaikan: keputusan terasa datang dari jauh, sementara dampaknya akan menetap sangat dekat.
Dari pusat ke daerah.
Dari meja ke rumah warga.
Dialog harus dibuka kembali.
Bukan formalitas, tetapi sungguh-sungguh mendengar.
Evaluasi lokasi bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang listrik yang menyala.
Tetapi juga tentang hati warga yang tidak merasa padam.
Wassalam!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250819-Demo-PSEL-Makassar.jpg)