Opini
Keajaiban dari Bercermin
Sambil menyimak, dengan suasana damai dan dalam situasi yang tenang saya bersiap-siap menonton pertunjukan ini.
Pertunjukan Teater Disabilitas
Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Founder Anak Makassar Voice
TRIBUN-TIMUR.COM - Di sudut panggung saya duduk, memerhatikan, menyesap aroma semangat para penonton dan pemain.
Sambil menyimak, dengan suasana damai dan dalam situasi yang tenang saya bersiap-siap menonton pertunjukan ini. Berjejer orang-orang, duduk dengan rapi.
Seperti halnya kursi di bioskop-bioskop, gedung kesenian ini dipadati penonton. Meski demikian, hal yang terasa sangat mengganggu adalah cuaca panas, bercucuran keringat hingga membasahi baju.
Tapi, apagunanya semua itu, sebab tujuan kedatangan saya di gedung kesenian ini adalah menonton dan menikmati sebuah pertunjukan.
Menonton teater disabilitas ini bagi saya sungguh sebuah keistimewaan. Tontonan ini mengajak saya untuk merefleksikan banyak hal. Termasuk dalam proses belajar, pengenalan diri, sadar diri dan penemuan diri.
Pada saat Pertunjukan
Diantar dengan narasi berbahasa Makassar, berisi nasehat-nasehat dan petuah-petuah. Di terjemahkan melalui bahasa isyarat.
Penanda bahwa kekuatan dari pertunjukan ini ada pada ide dan gagasannya.
Remanng-remang lampu, sorotan cahaya dari tengah. Dari ujung kanan tampak tiga pemain yang membawa cermin.
Layaknya seorang yang sedang mengayuh sampan menuju satu tujuan yang sama.
Setelah itu, mereka menghadap cermin, menyampaikan perasaan, kegelisahan, mereka merasa tidak percaya diri, tidak punya arah dan tak tahu ke mana, mereka frustasi, mereka lelah, mereka sungguh berontak tidak menerima kenyataan, tidak menginginkan kehidupannya.
Lalu tiga buah cermin seakan memantulkan sebuah keajaiban.
Mereka tiba-tiba mendapat sebuah pelajaran.
Makin dalam, makin berdiri di depan cermin, mereka makin sadar.
Lalu di ujung setelah menyampaikan kegelisahan hidup, menyampaikan banyak hal, ke lima pemain menyadari satu hal bahwa hidup ini adalah milik mereka.
Dengan bercermin sebagai tempat untuk membangun kembali dirinya, mengembangkan potensi terbaik, membangun rasa percaya diri.
Akhirnya mereka telah menemukan dirinya.
Dari pertunjukan yang berjalan dengan penuh hikmat ini saya mengatakan bahwa naskah yang disusun oleh Syahrini Andriyani atau akrab disapa Kak Rini cukup bagus, sesuai dengan yang terpampang di poster bertuliskan “perjalanan introspektif”. Pertunjukan ini sungguh penuh refleksi.
Kekuatan naskah ini ada pada narasinya.
Maka benar, pertunjukan teater yang baik tidak lepas dari naskah dan penyutradaraan yang baik pula.
Setelah itu, saya melihat ke lima aktor yang memainkan perannya telah bersungguh-sungguh menampilkan yang terbaik, layak di tonton dan mendapat apresiasi.
Dari pertunjukan ini tampak dengan jelas bahwa ada proses latihan yang sangat sungguh-sungguh.
Sebagai penonton kita juga diajak untuk bercermin bahwa teater yang dibawakan teman-teman disabilitas ini adalah tanda bahwa setiap manusia bisa memberikan tontonan yang maksimal dan terbaik.
Dan teman-teman disabilitas kita berhasil menampilkan dengan sukses.
Tentang Psike Dalam Cermin
Saya pikir judul ini cukup releated dengan kehidupan kita. “Psike Dalam Cermin” yang diperankan oleh teman-teman disabilitas mengajarkan banyak hal terutama sekali dalam membangun kesadaran diri.
Naskah yang dituliskan Kak Rini cukup padat dan kompleks.
Di tengah kehidupan yang berjalan sangat cepat, informasi yang saling beradu tanpa filter membuat kita kadang-kadang kehilangan jati diri.
Akhirnya, semua berjalan tanpa kesadaran. Sehingga memang penting kita harus banyak-banyak bercermin.
Dalam naskah “Psike Dalam Cermin” yang di mainkan oleh ke lima aktor ini membuat kita banyak tersadarkan.
Paling menariknya adalah teater ini dimainkan oleh teman-teman disabilitas.
Sungguh, sebuah keistimewaan bagi kita semua bahwa mereka telah mengoptimalkan secara baik potensi diri, semangat belajar dan pengembangan diri mereka.
Apresiasi pada semua tim, pemain dan sutradara yang telah memberikan tontonan bagus sekaligus pembelajaran yang mendalam akan kehidupan.
Di sudut panggung saya menyimak, saya menonton teater ini dengan baik dan seksama hingga mengikuti secara detail diskusi yang di adakan pasca pertunjukan.
Beberapa narasumber menekankan point penting.
Tapi, sekali lagi teman-teman disabilitas memainkan peranan mereka dengan sangat sungguh-sungguh, terbaik dan sangat inspiratif.
Pertunjukan dan diskusi telah usai, di sudut panggung saya berharap kelak pertunjukan seperti ini selalu mendapat ruang, agar ruang publik bisa diakses secara setara dan merata oleh kelompok-kelompok yang selama ini di marginalkan agar hadir dan sadar untuk berani tampil dan berkarya.
Di sudut panggung saya merasa senang, penataan panggung yang rapi.
Di sini saya bercermin, di sini saya juga menemukan makna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251103-Andi-Yahyatullah-Muzakkir-Founder-Anak-Makassar-Voice.jpg)