Citizen Reporter
Kartini di Era Digital, Antara Literasi dan Nuditas Percakapan di Ruang Privat
Polanya serupa, dengan satu irisan yang kian mengkhawatirkan yaitu tren pelecehan verbal yang dilakukan oleh sekelompok pria muda.
Rasa itu menjadi rem sosial yang menjaga batas. Kini, membeberkan isi pikiran yang kotor di grup percakapan justru kerap dianggap sebagai bentuk keberanian atau bahkan kebanggaan.
Di era keterbukaan digital, makna privasi pun mengalami pergeseran. Grup percakapan sering dianggap sebagai ruang tersembunyi yang aman.
Padahal, apa yang dibagikan di sana tetap menyimpan potensi untuk menjadi konsumsi publik.
Lebih jauh, jika yang terlihat hanya sebagian kecil dari isi pikiran, maka apa yang tidak terlihat bisa jadi jauh lebih mengkhawatirkan.
Perilaku ini menyebar layaknya virus. Satu percakapan dapat memicu yang lain, membentuk pola, lalu menjadi budaya dalam kelompok tersebut.
Sesuatu yang awalnya mungkin tidak terpikirkan, perlahan menjadi wajar karena terus diulang dan diamini.
Fenomena ini juga diperkuat oleh tren di media sosial. Konten yang mengumbar pengalaman pribadi, termasuk yang bersifat intim, kerap disajikan tanpa rasa segan.
Aib menjadi konsumsi publik, bahkan dikemas sebagai hiburan. Dampaknya nyata yakni normalisasi perilaku seksual berisiko, meningkatnya potensi kekerasan seksual, hingga lunturnya batas etika dalam relasi sosial.
Di sinilah letak ironinya. Semangat R.A. Kartini adalah membebaskan manusia melalui literasi.
Namun hari ini, literasi digital justru kerap disalahgunakan untuk mengakses dan menyebarkan hal-hal yang merendahkan martabat manusia.
Muncul pertanyaan reflektif: apakah kemajuan akses informasi selalu sejalan dengan kematangan moral?
Ataukah kita justru sedang menyaksikan ketimpangan di antara keduanya?
Sebagai pendidik dan bagian dari masyarakat, kita dihadapkan pada tanggung jawab yang tidak ringan.
Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang mampu membaca teks, tetapi juga membentuk kemampuan membaca nilai, etika, dan nurani.
Selamat Hari Kartini. Semoga peringatan ini menjadi pengingat bahwa kecerdasan sejati tidak hanya terletak pada kemampuan intelektual, tetapi juga pada kepekaan moral.
Kita tidak ingin melahirkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, namun kehilangan arah dalam memanusiakan sesama.
| Pengurus Ansor Sulsel Jajaki Kerja Sama Strategis IAIN Parepare |
|
|---|
| Tujuh Santri Ponpes Al Haris Raih Penghargaan pada Khataman Al-Quran 30 Juz |
|
|---|
| Tim Pengabdian UNM Bekali Pengurus Pesantren di Bulukumba dengan Standar Akuntansi Keuangan Modern |
|
|---|
| Milad ke-27 HMP BDP FIKP Unhas Jadi Momentum Perkuat Solidaritas Mahasiswa |
|
|---|
| Kampus Harus Jadi Tempat Utama Implementasikan Kebijakan soal HAM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-21-Rismawati-Razak-Guru-SMAS-Islam-Athirah-1-Makassar.jpg)