Burung Rangkong dan Pohon Lontar Terancam, Mahasiswa Unhas Ajak Warga Jaga Lingkungan
Nusyahri menilai kerusakan habitat dan aktivitas manusia tidak ramah lingkungan menjadi ancaman nyata
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ari Maryadi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Ancaman kerusakan hutan, eksploitasi alam, hingga rendahnya kesadaran menjaga lingkungan dinilai semakin mengancam keberadaan Burung Rangkong dan Pohon Lontar, dua flora dan fauna identitas Sulawesi Selatan.
Kondisi itu mendorong mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap upaya pelestarian lingkungan.
Ajakan tersebut disampaikan mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Pandu Alam Lingkungan saat mengisi program “Inspirasi Siang” di INSANIA FM Radio Network, Kamis (22/5/2026), bertepatan dengan momentum Hari Keanekaragaman Hayati 2026.
Dalam siaran bertema “Flora dan Fauna Identitas Sulawesi Selatan” itu, mahasiswa Kehutanan Unhas menyoroti pentingnya menjaga Burung Rangkong dan Pohon Lontar sebagai bagian dari kekayaan hayati sekaligus identitas alam Sulsel.
Perwakilan UKM Pandu Alam Lingkungan, Nusyahri Ramadhani mengatakan kerusakan habitat dan aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan flora dan fauna lokal.
Menurutnya, menjaga satwa dan tumbuhan endemik bukan sekadar upaya konservasi, tetapi juga bagian dari menjaga identitas daerah dan keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
“Burung Rangkong dan Pohon Lontar adalah simbol kekayaan alam Sulawesi Selatan yang harus dijaga bersama melalui edukasi dan aksi nyata,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Burung Rangkong disebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis. Satwa tersebut membantu proses penyebaran biji berbagai jenis tumbuhan sehingga mendukung regenerasi hutan secara alami.
Sementara Pohon Lontar dinilai memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan budaya yang kuat bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan kerajinan, pohon ini juga berfungsi sebagai penahan erosi serta penyimpan cadangan air di lingkungan sekitar.
Mahasiswa lainnya, Agies menegaskan generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Ia menyebut kepedulian terhadap alam dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti tidak merusak habitat satwa, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan lingkungan, hingga aktif dalam kegiatan penghijauan dan konservasi.
“Menjaga alam berarti menjaga keseimbangan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya,” katanya.
Melalui siaran radio tersebut, mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga flora dan fauna khas Sulawesi Selatan semakin meningkat.
Mereka juga menilai edukasi lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama kepada generasi muda, agar upaya pelestarian alam tidak berhenti sebagai wacana semata.
| Semangka hingga Selada Diburu Dapur MBG, Petani Bupon Diminta Manfaatkan Peluang |
|
|---|
| Kalah dari Madura United, Caretaker PSM Makassar: Pemain Sudah Bertugas dengan Baik |
|
|---|
| 13 Tim UMI Lolos Program Strategis Belmawa 2026, Hambali: Mahasiswa Kami Pemimpin Masa Depan |
|
|---|
| Jelang Iduladha, Intip Progres Terkini Masjid Megah Hj Andi Nurhadi Dibangun Amran |
|
|---|
| PSM Kalah 0-2 dari Madura United, Juku Eja Tutup Musim 2025/2026 di Atas Zona Degradasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260523-Unit-Kegiatan-Mahasiswa-Pandu-Alam-Lingkungan.jpg)