Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kolom Teropong Abdul Gafar

Pilihan

Pengalaman masa lalu telah menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Pilihan itu hasilnya tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Ist
TEROPONG - Abdul Gafar Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar 

Oleh Abdul Gafar
Pendidik di Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Hidup kita di dunia ini selalu diperhadapkan kepada suatu tindakan yang nyata.

Tindakan tersebut dimaksudkan sebagai pilihan di antara sejumlah kemungkinan yang ada.

Boleh jadi pilihan itu atas dasar kerelaan dan kesadaran sendiri.

Namun tidak menutup kemungkinan pilihan itu terjadi karena unsur keterpaksaan.

Kenyataan ini menunjukkan betapa pilihan itu mengandung konsekuensi yang besar.

Pengalaman masa lalu telah menjadi pembelajaran yang sangat berharga.

Pilihan itu hasilnya tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Pada konteks yang kecil saja misalnya dalam kehidupan rumah tangga.

Terkadang diawali oleh saling ketidaktahuan dalam banyak hal.

Dalam perjalanan ke depan, terdapat hal-hal kecil yang dapat memicu ‘sengketa’ berkepanjangan.

Jika kondisi ini terjadi, maka keharmonisan dalam keluarga mulai goyah.

Ketidakmampuan menciptakan saling pengertian, berada dalam situasi rawan untuk ‘pecah’ di tengah jalan.

Muncul pilihan: apakah akan dilanjutkan ataukah diputuskan hubungan yang sudah ada? Hak dan kewajiban harus dipahami secara bersama.

Jangan sampai yang terjadi adalah menuntut hak lalu melalaikan kewajiban.

Untuk hal yang kecil dalam skala rumah tangga begitu sulit diciptakan.

Lalu, bagaimana lagi dalam lingkup yang lebih besar dan luas?

Semisal organisasi atau kelompok apatah lagi negara?

Mengurus negara diperlukan pemimpin yang ideal.

Kriteria pemimpin yang ideal memiliki (1). Integritas dan Kejujuran: Memiliki moralitas yang tinggi, dapat dipercaya, dan konsisten antara perkataan dan perbuatan.

(2). Visioner dan Cerdas: Memiliki pandangan ke depan yang jelas serta kecerdasan intelektual untuk memecahkan masalah kompleks.

(3). Bertanggung Jawab dan Tegas: Berani menanggung risiko atas keputusan yang diambil serta mampu mengambil keputusan secara tegas.

(4). Empati dan Komunikatif: Mampu mendengarkan aspirasi, memahami kebutuhan tim, dan berkomunikasi dengan efektif.

(5). Rendah Hati dan Terbuka: Terbuka terhadap kritik, saran, serta mau menerima masukan untuk perbaikan bersama.

(6). Inovatif dan Proaktif: Mampu beradaptasi dengan perubahan, mendorong inovasi, dan memiliki inisiatif untuk bertindak.

(7). Adil dan Amanah: Memimpin dengan adil, tidak curang, dan dapat dipercaya dalam
mengemban jabatan.

Apakah pemimpin hari ini memiliki kriteria seperti yang dikatakan di atas?

Tampaknya kita dapat menghitung jari.

Banyak pemimpin yang ‘rusak’ otak kesadarannya.

Mereka lebih banyak mementingkan kenyamanan dirinya daripada mengingat kewajibannya terhadap rakyat dan bangsanya.

Mari kita tengoklah bagaimana Amerika Serikat dipimpin Donald Trump ditemani oleh sekutu dekatnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Keberingasan mereka telah menghancurlan ketenangan hidup Rakyat Iran.

Republik Islam Iran telah diserang secara sepihak oleh koalisi Amerika Serikat bersama Israel.

Perjanjian gencatan senjata telah dilanggar oleh agresor A.S + Israel.

Negara-negara lainpun telah diserang oleh zionis Israel tanpa diberi sanksi keras dan tegas oleh PBB.

Bagi Iran tiada pilihan lain kecuali siap perang habis-habisan.

Hari ini 20/4, berlangsung pemilihan Dekan FISIPOL Unhas Makassar.

Para senator yang cerdas dan sangat rasional akan menentukan perjalanan panjang fakultas ini 4 tahun ke depan.

Dekan terpilih akan menjalankan visi dan misinya. Bukan fiktif dan mistiknya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved