Opini Anshar Saud
Daeng, Kamu Bukan Iron Man
Daengku, mesin kuat beroperasi karena oli. Tapi manusia kuat karena akal, badan sehat, dan keyakinan untuk menjaga diri.
Ketika seseorang sangat yakin bahwa apa yang diminumnya bisa membuatnya kuat, otak merespons dengan melepaskan dopamin dan endorfin, yang memberi sensasi segar dan bersemangat.
Apalagi kalau dilakukan dalam suasana ramai, disaksikan teman, dan disoraki “mantap Cappo!”, sensasi euforia itu makin kuat.
Padahal semua hanya reaksi psikologis sementara.
Tubuh tetap rusak, meski kepala merasa bangga.
Kenapa mereka tetap mau mencobanya?
Dalam ilmu farmasi sosial dan perilaku, fenomena ini bisa pula dijelaskan lewat Health Belief Model (Model Keyakinan Kesehatan).
Menurut teori ini, orang mau melakukan sesuatu yang berisiko karena merasa manfaatnya besar (perceived benefit), sementara bahayanya kecil (perceived barrier).
Bagi penenggak oli itu, keyakinannya jelas: oli bikin kuat, bikin jantan, bikin dihormati.
Dukungan teman sebaya (peer pressure) dan budaya lokal yang memuja ketangguhan fisik memperkuat keyakinan itu.
Keyakinan diri (self-efficacy) yang tinggi akhirnya membuat seseorang menyepelekan risiko.
Lalu lahirlah kalimat pembenaran khas: “ah, di dalam pi siatoro’, nanti tubuh juga atur sendiri.”
Dukungan teman sebaya dan budaya lokal yang memuja ketangguhan fisik itulah yang menjadi pemicu tindakan (cue to action) minum oli.
Sayangnya, tubuh bukan motor atau mobil yang bisa “mengatur” oli.
Di dalam sana, zat beracun itu justru merusak, bukan memperbaiki.
Berani Itu Menjaga Diri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-05-Anshar-Saud-8.jpg)