Opini Amir Muhiddin
Berdamai Dengan Donald Trump, Mungkinkah?
Khusus Donald Trump, oleh banyak ahli dan pengamat Timur Tengah sejak awal sudah merasa skeptis perdamaian akan berhasil.
Oleh: Amir Muhiddin
Sekretaris Devisi Politik Pemerintahan ICMI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Meski Pakistan melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif berhasil memediasi kesepakatan gencatan senjata yang berlaku segera pada awal April 2026 lalu, namun Pakistan belum berhasil menemukan kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Gagalnya perundingan intensif selama 21 jam di Islamabad tesebut disebabkan oleh isu klasik program nuklir Iran, status Selat Hormuz dan konflik Israel dengan Libanon, disamping itu Iran juga menolak tuntutan AS untuk membatasi jaringan proksi Iran serta jaminan keamanan bagi Israel dan
negara-negara GCC.
Terkait dengan Selat Hormuz, AS menginginkan agar Iran tidak mengelola wilayah tersebut secara optimal, sementara Iran menegaskan kedaulatannya atas wilayah tersebut.
Kedua negara juga gagal menyepakati mekanisme pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran serta besaran ganti rugi terkait konflik yang telah terjadi.
Namun di atas segala-galanya perundingan yang gagal tersebut sangat terkait dengan krisis kepercayaan dimana keduanya diliputi oleh ekspektasi rendah dan ketidakpercayaan historis yang diperparah oleh serangan militer dan ketegangan politik sepanjang awal tahun 2026.
Para pengamat kebijakan politik internasional menduga bahwa kemungkinan berdamai dalam waktu dekat akan semakin sulit di tengah kabar bahwa Senat AS menolak upaya resolusi War Powers yang diajukan oleh Partai Demokrat untuk membatasi kewenangan Trump dalam melancarkan aksi militer terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.
Mayoritas Senator Republik mendukung hak Trump untuk melanjutkan operasi militer guna melindungi kepentingan nasional AS, Para pendukung Trump di Senat, seperti James Risch, berpendapat bahwa sebagai Panglima Tertinggi, presiden memiliki kewajiban konstitusional untuk bertindak cepat terhadap ancaman militer Iran yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dukungan senat AS yang didominasi Partai Republik ini tentu saja akan semakin memicu Perang yang berkepanjangan dan diperkirakan akan menjadi isu sentral dalam pemilihan paruh waktu (midterm) AS pada November mendatang.
Peran kunci Donald Trum dan pengaruh Netanyahu juga disebut-sebut menjadi kendala utama perdamaian, Malah PM Israel sangat senang jika perang berkelanjutan untuk menghindari persoalan hukum yang dihadapi di dalam negerinya.
Khusus Donald Trump, oleh banyak ahli dan pengamat Timur Tengah sejak awal sudah merasa skeptis perdamaian akan berhasil.
Masalahnya Presiden AS ini menginap penyakit kejiwaan. disinyalir mengalami gangguan kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder) dan “narsisme ganas”.
Salah satu gejalanya adalah seringnya berubah-ubah, baik dalam ucapan maupun dalam tindakannya.
Dia tidak punya integritas, malah petinggi Iran sering menyebut sebagai orang munafik.
Apa ciri-ciri orang munafik?. 1) Suka berdusta, artinya ketika berbicara ia berbohong, 2) Sering ingkar janji, artinya ketika berjanji ia mengingkarinya dan 3) Ia berhianat, artinya ketika dipercaya atau diberi amanah, ia berhianat. (HR Bukhari dan Muslim).
Suka berdusta, dan ketika berbicara ia berbohong.
Sifat ini adalah bagian dari gangguan kepribadian Trump.
Ini bisa dilihat dari beberapa pernyataan Trump, saat baru saja dilakukan gencatan senjata dalam rangka upaya perdamaian yang diprakarsai oleh Pakistan.
Ketika diwawancarai oleh wartawan, Trump mengatakan bahwa AS sudah berhasil mengalahkan Iran, dan Amerikalah yang akhirnya memenangkan perang, padahal perundingan masih saja berlangsung dan Iran malah bersihkukuh untuk tidak menerima syarat-syarat yang diinginkan AS.
Jauh hari sebelumnya Trump pun berbohong dengan mengeklaim sedang melakukan pembicaraan produktif dengan “pemimpin tingkat tinggi” Iran untuk mengakhiri permusuhan.
Padahal pihak Teheran secara resmi membantah klaim ini dan menyebutnya sebagai “hoaks” yang bertujuan untuk memanipulasi pasar keuangan dan harga minyak dunia.
Selanjutnya, Trump klaim kehancuran Fasilitas Nuklir Iran, ia bahkan berulang kali mengklaim bahwa militer AS telah “menghapuskan” (obliterated) fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Namun, dokumen resmi Gedung Putih sendiri hanya menyatakan bahwa serangan tersebut “secara signifikan menurunkan” kemampuan program nuklir, bukan menghancurkannya total.
Trump juga mengeklaim telah menyapu bersih seluruh kekuatan militer Iran, termasuk angkatan laut dan sistem komunikasi.
Tetapi faktanya, para ahli dan data independen menunjukkan struktur kekuasaan Teheran tetap berfungsi, dan Iran masih mampu menembak jatuh pesawat militer AS (seperti F-15 dan A-10) tidak lama setelah klaim tersebut dibuat.
Selanjutnya, Trump mengklaim sebagian besar pesawat AS yang jatuh disebabkan oleh tembakan dari pihak sendiri (friendly fire).
Namun, laporan militer mengonfirmasi bahwa beberapa pesawat justru jatuh karena serangan rudal Iran.
Trump mengklaim bahwa semua mantan Presiden AS yang masih hidup mendukung serangannya terhadap Iran.
Setelah dikonfirmasi, staf dari keempat mantan presiden tersebut menyatakan tidak pernah berbicara dengan Trump mengenai masalah ini.
Ada lagi narasi yang dilontarkan Trump terkait dengan penyesatan korban dan persenjataan pelaku serangan sekolah.
Trump pada narasi itu menyalahkan Iran atas serangan terhadap sebuah sekolah di Minab yang menewaskan banyak anak dengan menggunakan rudal Tomahawk.
Faktanya, Iran tidak memiliki akses ke rudal Tomahawk, karena senjata tersebut merupakan buatan AS yang hanya tersedia untuk sekutu dekat Amerika.
Uraian di atas memberi gambaran betapa perdamaian begitu sulit dicapai, bukan saja karena Donald Trump, seorang narsisme ganas yang munafik, akan tetapi juga karena dukungan senat yang didominasi oleh loby Yahudi di Partai Republik.
Meski begitu kita tetap berharap dan berdoa, agar perdamaian segera terwujud sehingga kita semua terhindar dari malapetaka yang berkepanjangan. Amin.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-75.jpg)