Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Syahid Sang Rahbar dan Etos Karbala

Bagi sebagian orang kematian sering kali dianggap sebagai titik akhir, sebuah kekosongan yang meninggalkan ketakutan

Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
Zainal Arifin Ryha 

Oleh: Zainal Arifin Ryha

 

PEMIMPIN Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei menemui syahid akibat operasi militer besar-besaran (beberapa sumber menyebut kode operasi "Epic Fury" atau "Roaring Lion") oleh pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada dini hari Sabtu, 28 Februari 2026 di Kediamannya di Distrik Pasteur, Teheran.

Bagi sebagian orang kematian sering kali dianggap sebagai titik akhir, sebuah kekosongan yang meninggalkan ketakutan.

Namun, dalam lanskap spiritual Iran, wafatnya Ayatullah Ali Khamenei dalam serangan udara di kantornya, dan bukan di kedalaman bunker beton yang kokoh adalah manifestasi modern dari Tragedi Karbala yang telah mengubah narasi kematian menjadi sebuah manifesto perlawanan yang hidup.

Ini bukan sekadar kematian seorang pemimpin tertinggi negara, melainkan sebuah proklamasi dari semboyan yang membentuk etos perjuangan warga Iran:"Kullu yawmin Ashura wa kullu ardhin Karbala" (setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala).

Menolak Bunker

Laporan yang menyatakan bahwa Sang Pemimpin Tertinggi sebelumnya menolak evakuasi ke fasilitas bawah tanah yang disediakan Garda Revolusi Iran (IRGC) bukan sekadar pilihan taktis, melainkan sebuah pernyataan teologis yang berakar pada keberanian Imam Husain.

Di Karbala, Husain tidak memilih perlindungan; ia memilih padang pasir terbuka untuk menghadapi ribuan pedang demi sebilah prinsip.

Di saat teknologi rudal dan pesawat tempur paling mutakhir merobek langit Teheran, Khamenei memilih untuk tetap berada di meja kerjanya.

Pilihan ini meruntuhkan dinding pemisah antara pemimpin dan rakyat, antara komandan dan prajurit di garis depan.

Dengan menolak bunker, Khamenei meruntuhkan logika materialistik. Bunker adalah simbol jarak dan ketakutan akan maut, sementara Karbala mengajarkan bahwa kemuliaan hanya bisa diraih dengan menatap maut tanpa hijab.

Pilihan untuk tetap "di atas tanah" adalah upaya sadar untuk mengubah kantor kepresidenan menjadi "Karbala baru" di mana kedaulatan bangsa dijaga oleh keteguhan prinsip, bukan oleh ketebalan dinding beton.

Dalam logika militer, bunker adalah simbol pertahanan. Namun, dalam logika perjuangan, bunker sering kali dipandang sebagai simbol jarak.

Maka ketika seorang pemimpin setingkat Rahbar (Supreme Leader) memilih untuk menghadapi maut di atas tanah, ia sedang mempraktikkan apa yang sering ia khotbahkan tentang keutamaan dan kemuliaan syahid. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved