Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Irfan Yahya

Prof Naquib Al-Attas dan Warisan Intelektual bagi Peradaban Islam Kontemporer

Naquib al-Attas lahir di Bogor, Jawa Barat, tahun 1931, namun perjalanan intelektualnya berkembang jauh melampaui batas geografis tempat kelahirannya

Editor: AS Kambie
DOK PRIBADI
Irfan Yahya, Ketua DPD Hidayatullah Makassar 

Oleh karena itu, pembaruan peradaban Islam menurut Al-Attas harus dimulai dari pembaruan dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan. Tanpa rekonstruksi epistemologis yang memadai, berbagai upaya kebangkitan umat hanya akan menghasilkan perubahan yang bersifat permukaan tanpa menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.

Visi tersebut tidak berhenti pada tataran konseptual. Al-Attas berusaha mewujudkannya melalui pendirian International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang berada dalam lingkungan International Islamic University Malaysia. Lembaga ini dirancang sebagai pusat studi yang bertujuan menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam sekaligus membangun dialog kritis dengan pemikiran modern.

ISTAC bukan sekadar institusi akademik, tetapi sebuah ruang peradaban yang memadukan kedalaman tradisi keilmuan Islam dengan kesadaran kritis terhadap perkembangan pemikiran global.

Salah satu aspek menarik dari visi Al-Attas adalah perhatiannya terhadap hubungan antara ilmu, keindahan, dan spiritualitas. Dalam pandangannya, lingkungan pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kesadaran peradaban. Karena itu, bahkan dalam desain arsitektur kampus yang ia rancang, keindahan ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman intelektual yang mengarahkan manusia kepada kesadaran spiritual yang lebih dalam.

Melalui karya-karya akademik dan institusi yang ia bangun, Al-Attas berhasil membentuk generasi sarjana yang memiliki kesadaran kritis terhadap tradisi intelektual Islam sekaligus kemampuan untuk berdialog dengan pemikiran modern. Pengaruh pemikirannya meluas ke berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga komunitas akademik Muslim di Barat. Banyak sarjana menjadikan karya-karyanya sebagai rujukan penting dalam kajian filsafat Islam, pendidikan Islam, dan studi peradaban.

Kehadiran tokoh seperti Al-Attas memiliki arti yang sangat penting dalam konteks dunia modern yang ditandai oleh dominasi paradigma Barat dalam ilmu pengetahuan. Di tengah kecenderungan tersebut, ia tampil sebagai seorang pemikir yang berusaha mengingatkan kembali bahwa tradisi intelektual Islam memiliki fondasi epistemologis yang kokoh dan mampu memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ia tidak menolak dialog dengan pemikiran Barat, tetapi menegaskan bahwa dialog tersebut harus dilakukan dari posisi intelektual yang berakar kuat pada tradisi sendiri.

Karena itu, wafatnya Al-Attas dapat dipahami sebagai kehilangan besar bagi umat Islam, khususnya dalam bidang pemikiran dan pendidikan. Pada masa ketika dunia akademik sering terjebak dalam spesialisasi yang sempit, figur seperti Al-Attas menunjukkan bahwa seorang sarjana dapat mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam kerangka pemikiran yang utuh. Beliau adalah contoh seorang ulama sekaligus intelektual yang mampu menghubungkan metafisika, epistemologi, pendidikan, dan proyek peradaban dalam satu visi yang koheren.

Walaupun sejatinya kepergiannya tidak benar-benar pergi. Beliau  tetap hidup di tengah tengah umat melalui gagasan yang Ia wariskan. Warisan intelektual Al-Attas tentang adab memiliki makna yang sangat penting bagi masa depan peradaban Islam. Beliua mengingatkan bahwa kebangkitan umat tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun kembali tradisi intelektual yang berakar pada wahyu serta membentuk manusia yang memiliki adab dalam memahami ilmu dan realitas.

Demikianlah, kepergian Prof Dr Syeihk Muhammad Naquib al-Attas bukan hanya menghadirkan rasa kehilangan, tetapi juga meninggalkan tanggung jawab intelektual bagi generasi berikutnya. Warisan pemikirannya tentang adab, ilmu, dan peradaban merupakan pengingat bahwa pembangunan masyarakat yang berkeadaban harus dimulai dari pembenahan cara manusia memahami pengetahuan dan menempatkannya dalam hubungan yang benar dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ilmiah beliau sebagai amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi umat manusia dan menjadikan warisan intelektualnya sebagai inspirasi bagi lahirnya generasi pemikir Muslim yang mampu menjaga hubungan harmonis antara wahyu, ilmu pengetahuan, dan pembangunan peradaban.Wallahualam.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved