Mutiara Ramadhan 2026
Legitimasi Meminta Jabatan Perspektif Maqasid Based
Pandangan umum di tengah umat Islam menyatakan bahwa meminta jabatan adalah sesuatu yang tercela.
Oleh: Prof Dr Abd Rauf M Amin MA
Guru Besar UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Pandangan umum di tengah umat Islam menyatakan bahwa meminta jabatan adalah sesuatu yang tercela.
Landasannya kuat, baik dari hadis Nabi yang melarang ambisi kekuasaan, maupun dari wara’ para ulama klasik yang menghindari posisi otoritas.
Secara normatif, larangan ini bertujuan menjaga keikhlasan, mencegah kerakusan terhadap dunia, dan menghindari potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Kasus paling menarik dan populer dalam hal ini adalah kisah Abu Dzar al-Gifari, sahabat akrab Nabi yang meminta jabatan lalu Nabi menolak sekaligus menjelaskan alasan penolakannya bahwa ia adalah sosok yang lemah (tidak fit dan Proper).
Namun, pendekatan maqasid syariah-yang menitikberatkan pada terwujudnya kemaslahatan dan pencegahan kerusakan-mengajarkan bahwa hukum tidak dapat dipahami semata-mata secara literal dan parsial.
Ia harus dibaca dalam kerangka tujuan besar syariat: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Dalam sejarah kenabian terdapat peristiwa seorang pemimpin Badui yang datang bersama kaumnya untuk memeluk Islam, lalu meminta kepada Nabi agar ditunjuk sebagai pemimpin bagi kaumnya.
Nabi menyetujuinya. Persetujuan ini menunjukkan bahwa larangan meminta jabatan bukanlah norma absolut tanpa pengecualian.
Dalam konteks tersebut, penunjukan sang pemimpin justru menghadirkan kemaslahatan: stabilitas sosial, keberlanjutan kepemimpinan lokal, serta percepatan internalisasi nilai-nilai Islam di komunitasnya. “Wahai Rasulullah, jadikanlah aku sebagai pemimpin (imam) bagi kaumku.”
Maka beliau bersabda: “Engkau adalah pemimpin mereka. Dan hendaklah engkau memperhatikan yang paling lemah di antara mereka (dalam memimpin). Dan tunjuklah seorang muazin, serta janganlah ia mengambil upah atas azannya.”
Selain pemimpin arab badui tadi, adalah Utsman bin Abi al-‘Ash seorang pemuda dari kabilah Tsaqif yang datang bersama delegasi kaumnya ke Madinah untuk masuk Islam.
Ia dikenal paling muda di antara rombongan, tetapi paling rajin belajar Al-Qur’an dan paling sering bertanya kepada Nabi.
Setelah delegasi itu selesai, Nabi justru menunjuknya sebagai pemimpin atas kaumnya ketika mereka kembali ke Thaif.
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ia juga meminta agar diberi posisi tersebut atau setidaknya menunjukkan kesiapan dan keinginannya untuk memimpin kaumnya dalam Islam.
Nabi menyetujuinya dan memberikan beberapa arahan kepemimpinan, termasuk agar memperhatikan yang paling lemah ketika menjadi imam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-27-Prof-Dr-Abdul-Rauf-M-Amin-MA-Guru-Besar-UIN-Alauddin.jpg)