Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Esensi Otonomi Daerah

​Mantan Menteri Otonomi Daerah ini menekankan bahwa otonomi politik adalah hak warga.

Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
PENULIS OPINI - Mantan Calon Anggota DPD RI, Zainal Arifin Ryha. Dia menulis opini tentang kelemahan Pilkada melalui DPRD. 

Esensi Otonomi Daerah

​Oleh: Zainal Arifin Ryha

TRIBUN-TIMUR.COM - ​"Hakikat otonomi daerah adalah otonomi politik," tegas Ryaas Rasyid dalam sebuah bincang santai di lobi hotel kawasan Pantai Losari, Makassar, di fajar reformasi. 

Pernyataan guru besar ilmu politik dan arsitek desentralisasi ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah peringatan: tanpa kedaulatan politik di tingkat lokal, otonomi hanya akan menjadi perpindahan administratif tanpa jiwa.

​Mantan Menteri Otonomi Daerah ini menekankan bahwa otonomi politik adalah hak warga daerah untuk menentukan nasibnya sendiri melalui pemimpin yang "senyawa" dengan mereka—sosok yang memahami DNA budaya, peta persoalan, dan denyut nadi kebutuhan masyarakat setempat.

Tujuannya jelas: membangun kontrak sosial bottom-up di mana pemimpin hadir untuk melayani, bukan menjadi perpanjangan tangan pusat yang represif.

Ironi Kelas Menengah Indonesia

Penjelasan Prof. Ryaas di atas sekaligus merupakan jawaban terhadap pertanyaan lama yang jadi diskursus akademik soal entri point untuk membangun demokrasi dan kemandirian ekonomi warga dalam konteks Indonesia: Harus dimulai dengan membangun swadaya politik warga terlebih dahulu atau swadaya ekonominya? 

Memang antara politik dan ekonomi memiliki tali temali dan saling mengandaikan.

Di negara-negara otoriter, sulit terbangun swadaya ekonomi karena tidak tersedia ruang ekspresi dan kebebasan yang cukup bagi warga untuk membangun kemandirian ekonominya.

Sistem yang terbangun adalah sistem yang etatis, sistem ekonomi komando, yang serba peraturan dan serba negara. 

Sebaliknya di negara-negara yang tergolong miskin, sulit menegakkan prinsip dan  nilai-nilai demokrasi disebabkan mayoritas warga tidak memiliki sumber daya ekonomi yang memadai untuk menopang kadaulatan dan kemandirian politiknya.

Sejarah Eropa menunjukkan bahwa demokrasi modern lahir dari perjuangan kaum borjuasi yang mandiri secara ekonomi.

Mereka berjuang membatasi privilege penguasa monarki agar tercipta ruang aktualisasi bagi warga untuk mengekspresikan diri secara bebas, tanpa tekanan negara.

Sebab itu, berkaca pada sejarah Inggris Max Weber menegaskan, "Tidak ada demokrasi tanpa borjuasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved