Refleksi Bola Bundar
Rekam Jejak Wasit
Gol Laskar Kie Raha itu tercipta begitu sangat cepat pada menit 1,30 menit melalui David da Silva.
Ringkasan Berita:
- PSM Makassar gagal meraih poin di kandang sendiri, Stadion Gelora BJ Habibie Parepare, usai kalah 0-1 dari Malut United, Minggu (21/12/2025).
- Gol semata wayang Laskar Kie Raha tercipta sangat cepat pada menit ke-2 melalui David da Silva, memanfaatkan kelengahan Yuran Fernandes dan posisi kiper Hilman Syah yang meninggalkan gawang.
- Meski menguasai lebih dari 60 persen permainan dan terus menekan, PSM gagal mengonversi peluang karena penyelesaian akhir yang lemah dan tidak akurat.
Oleh: M Dahlan Abubakar
Penulis Buku “Satu Abad PSM Mengukir Sejarah”.
TRIBUN-TIMUR.COM - PSM gagal memetik poin di kandang sendiri, Gelora BJ Habibie Parepare, Minggu (21/12/2025) sore, setelah takluk 0-1 atas Malut United.
Gol Laskar Kie Raha itu tercipta begitu sangat cepat pada menit 1,30 menit melalui David da Silva.
Gol tersebut terkesan karena Yuran Vernades sebagai palang pintu PSM Makassar gagal menahan manuver David da Silwa di kotak 16.
Kedua, pada waktu yang bersamaan, kiper Hilman Syah maju, menjauhi gawangnya.
Sebab, jika dia tetap berada di bawah mistar gawangnya, bola lambung tersebut tidak akan menggetarkan jalanya. Pun, David da Silva mengirim bola voli karena melihat penjaga gawang PSM tersebut meninggalkan sarangnya.
Saya selalu berpikir positif. PSM akan mampu membalas menyamakan kedudukan dengan cara apapun yang layak.
Serangan yang intensitasnya di atas 60 persen, memang terus mengancam gawang Malud United yang dikawal Alan.
Namun, berkali-kali tandukan para pemain PSM yang mengarah ke gawang tim tamu, kerap melayang di atas mistar.
Atau terlalu lemah sehingga dengan mudah dibekuk kiper lawan. Sekali dua tendangan di depan gawang pemain “Juku Eja” terlalu lemah.
Termasuk satu tendangan Daisuka Sakai yang terlalu lemah dan dengan mudah ditanmgkap kiper lawan.
Pengalaman gol dini tim tamu ini hendaknya menjadi pelajaran bagi PSM dalam setiap menghadapi lawan.
Biasanya, pada menit-menit awal, ada tim yang belum siap menghadapi serangan lawan berdalih masih membaca pola permainannya.
PSM memang berusaha melakukan gempuran awal, tetapi imbasnya kita tidak siap dengan serangan balik, sehingga lahir gol yang sangat cepat itu.
Serangan kejut seperti ini, dulu memang menjadi ciri khas PSM yang mengusung ikon permainan cepat, keras, dan berseni. Keras bukan kasar.
Namun karena kendala komunikasi dan homogennya pemain PSM saat ini, membangun serangan kejut ini tidak dapat dilakukan.
Di balik kekalahan itu, yang paling menyulitkan bagi para pemain PSM adalah susahnya pertahanan Malut United ditembus.
Para pemain tamu membentengi kotak 16 dengan sebagian besar pemain dan menyisakan satu dua orang di tengah lapangan yang bersiap melakukan serangan balik yang selalu merepotkan Yuran Fernandes.
Pada sisi lain, PSM mengandalkan tiga pemain yang akan menerobos pertahanan tersebut, sehingga jelas tidak berimbang.
Kelemahan lain, para pemain tuan rumah kurang akurat mengumpan bola. Banyak bola yang diumpan justru jatuh ke kaki pemain lawan.
Ketidakakuratan umpan ini selalu menurunkan intensitas daya gebrak PSM yang sudah dibangun dari awal.
Kontroversi
Di penghujung laga, PSM sebenarnya memperoleh kesempatan emas, ketika wasit asal Sumatera Barat, Yoko Suprianto menunjuk titik putih.
Dalam rekaman, Rizky Eka yang masuk sebagai pemain pengganti dijatuhkan Wbeymar Angulo di kotak 16 dan Yoko Suprianto langsung menunjuk titik putih.
Yuran Ferbandes sudah berdiri di dekat si kukit bundar. Siap mengeksekusi hadiah penalti tersebut.
Namun beberapa saat kemudian, Yoko Suprianto ragu setelah menerima komunikasi dengan wasit “Video Assistant Referee” (VAR).
Yoko Suprianto lama memelototi rekaman aksi Rizky Eka dijatuhkan diiringi teriakan penonton “penalti..penalti”.
Setelah berlari ke tengah lapangan, Yoko Suprianto malah mengubah keputusannya. Membatalkan hukuman penalti.
Dari rekaman yang sempat ditayangkan di media sosial, terlibat jelas Wbeymar Angolo aktif melayangkan tangannya mengenai bagian badan Rizky Eka hingga terjatuh.
Fenomena ini sebenarnya sudah cukup menjadi alasan bagi Yoko Suprianto mengukuhkan penalti tersebut walaupun dia harus mengamati VAR. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia menganulir keputusannya sendiri.
Kehadiran VAR selain mengecek ulang insiden yang terjadi, sejatinya menguatkan asumsi putusan wasit yang sudah dijatuhkan.
Apalagi posisi Yoko Suprianto dengan kedua pemain itu sangat dekat, sehingga saat dia menunjuk titik putih para pemain Malut tidak memprotes. Bahkan penjaga gawang Malut, Alan, sudah mengambil posisi di bawah mistarnya.
Akibat pembatalan hukuman penalti tersebut, kemudian beredar bias dari hukuman penalti yang dianulir itu.
Apalagi, terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk menilai pergerakan Wbeymar Angulo hingga Rizky Eka jatuh di kontak 16.
Ruang dan relasi waktu yang dimanfaatkan wasit inilah yang menimbulkan kecurigaan terhadap integritas wasit yang konon baru berusia 26 tahun itu.
Dengan usia yang masih sangat belia bagi seorang wasit yang memimpin pertandingan sekelas liga divisi tertinggi di Indonesia, jelas menimbulkan pertanyaan.
Yang jelas, dia belum matang untuk menjadi pengadil di lapangan di tengah jagat sepak bola Indonesia sedang berusaha membersihkan diri dari pengaruh nonteknis menuju reformasi kompetisi sepak bola nasional yang bebas dari kecurigaan publik.
Dalam rekam jejak digitalnya, Yoko Suprianto baru pertama kali memimpin pertandingan BRI Super Liga dan lima kali memimpin pertandingan Champions Liga 2.
Ternyata waktu pertandingan Liga 2 itu, dia juga membuat masalah.
Saat itu ketika menjadi wasit VAR dia membatalkan gol yang diciptakan Kendal Tornado FC tanpa penjelasan yang memadai kepada wasit yang memimpin pertandingan dan tim yang bertanding.
Sejatinya, pihak PSSI yang khusus menangani masalah seleksi wasit harus melihat rekam jejak seseorang pelatih sebelum memutuskan dan menetapkan seorang wasit layak memimpin pertandingan Super Liga.
Bagaimana mungkin orang yang baru lima kali memimpin Liga 2 dipercayakan memimpin pertandingan Super Liga yang sarat dengan persaingan dan gengsi.
Dan, PSM harus menjadi kelinci percobaan penunjukan Yoko Suprianto sebagai wasit Super Liga. Alamaaaaak…!!!(*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/M-Dahlan-Abubakar-Wartawan-Senior-65.jpg)