Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pemuda Sulsel Tak Pernah Kekurangan Nyala, tapi Ruang Jernih dan Pemimpin Muda

Sukarno pernah berkata, “Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia"

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
PENULIS OPINI - Mahasiswa Program Pascasarjana ITB Nobel dan Mantan Direksi BUMD Makassar, Muhammad Idris. Dia menulis tentang dinamika pemuda dan Musda KNPI. 

Muhammad Idris

Mahasiswa Program Pascasarjana ITB Nobel dan Mantan Direksi BUMD Makassar

SUKARNO pernah menyalakan imajinasi bangsa ketika berkata, “Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” 

Seruan Sukarno tentang dahsyatnya tenaga pemuda bukan sekadar retorika sejarah.

Itu peringatan strategis: pemuda adalah investasi politik jangka panjang.

Siapa yang menguasai pemuda, menguasai arah masa depan.

Karena itu tidak mengejutkan apabila ruang kepemudaan kerap menjadi ladang tarikan kepentingan.

Kericuhan Musda KNPI Sulawesi Selatan menegaskan kembali masalah laten tersebut.

Yang tampak di permukaan hanya adu argumen soal verifikasi peserta.

Namun siapa pun yang memahami anatomi organisasi kepemudaan tahu bahwa konflik ini tumbuh dari tarik-menarik pengaruh, perebutan mandat, dan upaya membungkus kepentingan politik di balik jargon kepemudaan.

Musda yang seharusnya menjadi forum penentuan arah gerakan justru kembali terperosok menjadi panggung kontestasi internal yang sempit.

Baca juga: Dualisme KNPI Sulsel Memuncak: Fadel vs Vonny, Siapa yang Sah?

Disorientasi semakin terasa, dan kepercayaan publik terhadap organisasi pemuda kembali menurun.

Degradasi ini tidak dapat dibiarkan, sebab organisasi kepemudaan hanya relevan sejauh mereka dipercaya mewakili masa depan, bukan masa lalu.

Di tengah hiruk-pikuk itu, sebenarnya pemuda terus bergerak demi tujuan mulia.

Terlibat di ruang sosial, komunitas pendidikan, advokasi kebijakan, hingga kegiatan kreatif lintas wilayah.

Pola engagement pemuda pun sudah berubah jauh dibanding generasi sebelumnya.

Jika dulu pemuda digerakkan oleh instruksi, kini mereka bergerak berdasarkan kesadaran dan kapasitas.

Inilah ironi terbesar KNPI hari ini, pemuda berubah cepat, tapi organisasinya lambat.

Baca juga: Sosok 3 Ketua KNPI Sulsel: Politisi Golkar dan 2 Politisi Gerindra

Pemuda menuntut ruang keterlibatan yang transparan, terbuka, dan meritokratis.

Mereka ingin gagasan mendapat panggung, bukan sekadar struktur.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Konflik internal yang berulang hanya memperlihatkan betapa jauh organisasi ini tertinggal dari pola gerak pemuda modern.

Otokritik harus menjadi bagian dari proses pemulihan.

KNPI Sulsel perlu mengakui bahwa mereka bukan hanya menghadapi problem teknis Musda, tetapi problem strategis, hilangnya arah, hilangnya fokus, dan meluasnya pengaruh eksternal yang mengaburkan tujuan.

Jika organisasi kepemudaan tidak berani menyatakan hal ini secara jujur, maka tidak ada pembaruan yang bisa diharapkan.

Sulawesi Selatan menghadapi banyak agenda kepemimpinan ke depan. Dari penguatan pelayanan publik, peningkatan partisipasi demokrasi, sampai pengawalan kebijakan daerah yang membutuhkan transparansi dan keberanian.

Dalam konteks ini, pemuda seharusnya menjadi mitra kritis sekaligus penggerak.

Mereka bisa menjadi kekuatan moral yang menjaga pemerintahan tetap berada di jalur akuntabilitas, sekaligus menjadi energi segar yang mengisi ruang-ruang baru partisipasi publik.

Namun semua itu hanya mungkin tercapai jika organisasi pemuda berdiri tegak tanpa beban kepentingan politik yang berlebihan.

Pemuda tidak boleh dibiarkan menjadi alat legitimasi.

Pemuda harus menjadi subjek, bukan objek. Penggerak, bukan penggembira.

Kericuhan Musda seharusnya menjadi titik balik.

Momentum untuk menata ulang struktur, membersihkan proses, memperbaiki tata kelola, dan mengembalikan KNPI pada tujuan awal, menjadi pelopor gerakan pemuda yang progresif, visioner, dan berkarakter.

Energi pemuda Sulawesi Selatan tidak pernah kekurangan nyala.

Yang kurang adalah ruang yang jernih dan pemimpin muda yang mampu menyalurkan nyala itu ke arah yang benar.

Jika KNPI mampu memperbaiki diri, ia bisa kembali menjadi wadah strategis yang mempersatukan dan mengarahkan potensi kepemudaan.

Jika tidak, maka pemuda akan bergerak sendiri, meninggalkan organisasi yang tidak lagi sejalan dengan masa depan mereka.

Masa depan Sulsel membutuhkan pemuda yang berani berpikir, berani mengkritik, dan berani menjaga marwah kepemimpinan.

 Musda hanyalah satu peristiwa.

Yang lebih penting adalah bagaimana pemuda mengambil kembali ruangnya sebelum politik kepentingan mengambil seluruhnya.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved