Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Membaca Motif 'Rencana Trump'

Rencana Trump untuk Gaza dinilai pragmatis, tapi kabur. Motif utamanya bukan rekonsiliasi, melainkan reputasi.

|
Mattewakkan/tribun
PENULIS OPINI - Mattewakkan. Ia mengirimkan foto ini untuk melengkapi opini yang di tribun timur berjudul MEMBACA MOTIF ‘RENCANA TRUMP’. Mattewakkan merupakan Sarjana Ilmu Hubungan Internasional yang aktif menulis di tribun timur cetak maupun online. 

MEMBACA MOTIF ‘RENCANA TRUMP’

Oleh: Mattewakkan

Sarjana Ilmu Hubungan Internasional

TRIBUN-TIMUR.COM - Selama ini, setiap rencana perdamaian Timur Tengah datang dari Washington selalu punya pola sama: konferensi pers megah, janji besar, lalu tak ada perubahan. 

Terlalu banyak janji yang lewat tanpa hasil, hingga wajar jika publik menganggap setiap proposal baru yang muncul hanya sekadar formalitas diplomatik.

Rencana terbaru Donald Trump untuk menghentikan perang di Gaza juga tak lepas dari bayangan itu.

 Di permukaan, ia terlihat sedikit lebih pragmatis dibanding pendekatan Amerika sebelumnya yang sering kaku dan sarat klaim moralitas semu. Namun di balik tampilannya, rencana ini lebih tampak sebagai eksperimen politik ketimbang peta jalan menuju perdamaian.

Rencana itu berisi sekitar 20 poin, mulai dari penghentian sementara permusuhan (ceasefire), pertukaran sandera dan tahanan, penarikan bertahap pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, hingga pembentukan pemerintahan transisi yang dikelola teknokrat Palestina di bawah pengawasan lembaga internasional.

Trump juga mendorong agar Gaza kembali dikelola Otoritas Palestina (PA) setelah dilakukan reformasi tertentu.

 Sejauh ini, Israel menyatakan dukungan terbatas, Hamas menyebut “setuju sebagian”, dan proses negosiasi teknis masih berjalan.

Untuk memahami apa yang sedang terjadi, kita perlu melihat konteks kemunculan rencana ini. Amerika kini tidak lagi berada di posisi nyaman. Dukungan tanpa syarat terhadap Israel berubah menjadi beban politik. 

Washington mulai tampak terisolasi di panggung global. 

Pemandangan delegasi yang keluar dari ruang sidang PBB ketika Netanyahu berpidato September lalu bukan sekadar gestur simbolik, tapi penolakan terbuka terhadap kebijakan Israel dan sekutunya.

Di titik ini, rencana Trump bisa dibaca bukan sebagai perubahan ideologis, melainkan sebagai strategi untuk mengelola kerusakan reputasi. 

Amerika berusaha memperbaiki citra dan meminimalisir dampak politik dari pilihannya sendiri.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved