Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Anies Baswedan Go To Pilpres 2029

Dari kampus hingga pemerintahan anies selalu merangkai narasi besar tentang perubahan. 

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-Timur.com
OPINI - Fauzi Hadi Lukita Sekjen Asosiasi Patimbang Somba Opu 

Penulis: Fauzi Hadi Lukita

Sekjen Asosiasi Patimbang Somba Opu

TRIBUN-TIMUR.COM - GAGAL di pilpres bukanlah akhir dari cerita Anies Baswedan

Dari kampus hingga pemerintahan anies selalu merangkai narasi besar tentang perubahan. 

Anies Baswedan memulai kiprahnya sebagai akademisi dan penggagas Gerakan Indonesia mengajar, lalu dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 

Di kursi Menteri ia memperkenalkan reformasi kurikulum namun berujung reshuffle dari kabinet 2016. 

Karir elektoralnya dimulai saat maju di pilgub DKI Jakarta 2017 bersama Sandiaga Uno.

Ia meraih 39,98 persen suara di putaran pertama, dan menang telak di putaran kedua dengan 57,95 % . Mengalahkan petahana Ahok-Djarot. 

Kemenangan ini menegaskan kemampuannya memobilisasi pemilih urban dan milenial. Kemudian diperkuat dengan program KJP Plus, Revitalisasi ruang publik dan penanganan banjir selama 5 tahun kepemimpinannya. 

Tetapi hasil pilpres berkata lain, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar hanya meraih 24.9 % suara nasional. Menempatkan mereka di posisi kedua. 

Namun dengan begitu menjadikan Anies sebagai simbol oposisi modern dengan basis loyal yang tidak kecil. Meski gagal menjadi RI 1.

Anies mencatatkan performa yang tak biasa dianggap remeh. 

Ia menang telak di 2 provinsi. Yakni Aceh dan sumatera barat dua daerah yang dikenal memiliki kecenderungan politik berbasis nilai dan identitas. 

Di Jakarta Anies meraih 41.07 % . kalah tipis dari Prabowo Gibran yang meraih 41,67 % . Hanya selisih 0,60 % . 

Menegaskan loyalnya di pusat karir politiknya yang masih sangat potensial. 

Tentu ini bukan sekedar angka namun ini adalah modal electoral yang jika dirawat dengan strategi yang tepat bisa menjadi pondasi kuat menuju 2029. 

Pertanyaannya bukan lagi mengapa Anies kalah. 

Tetapi bagaimana ia membangun momentum dari kekalahan ini. 

Bahwa kekalahan bukanlah akhir. Di dalam politik ia bisa menjadi jeda menentukan Arah Baru. 

Anies Baswedan hari ini bukan hanya mantan gubernur atau eks capres ia telah menjadi ikon oposisi modern. 

Cerdas, artikulatif dan berintegritas. 

Pasca pilpres 2024 Anies tidak memilih jalan diam. 

Ia justru membentuk aksi Bersama. 

Organisasi sosial politik inklusif yang mengutamakan aksi melalui kebaikan nyata. 

Salah satu project konkritnya adalah salah satu jembatan di desa pandeglang. 

Jembatan ini menjadi simbol bahwa perubahan publik bagi anies bukanlah sekedar narasi melainkan aksi nyata di akar rumput. 

Disisi lain, pada februari 2025 para relawannya telah mendirikan Gerakan rakyat memiliki struktur organisasi yang lebih politis dan terpusat. 

Bahkan disebut-disebut tengah dipersiapkan menjadi kendaraan politik resmi bagi Anies menuju 2029. 

Jika benar terealisasi Gerakan rakyat berpotensi menjadi partai baru yang memadukan militansi relawan dan basis akar rumput yang telah terbentuk pada saat kontestasi pemilu 2024. 

Presidential threshold yang telah dihapus oleh MK menjadi peluang bagi Anies untuk maju tanpa harus bergantung pada koalisi partai besar. 

Namun tantangannya jelas membangun partai dari nol membutuhkan sumber daya, infrastruktur dan konsistensi kepemimpinan kuat. 

Dalam lanskap pasca pilpres yang dinamis kombinasi Aksi Bersama sebagai platform masyarakat dan Gerakan rakyat sebagai kendaraan formal bisa menjadi strategi ganda. Dalam mendapat legitimasi moral dan daya tawar elektoral. 

Bila ini dikelola dengan strategi matang. 

Anies bukan hanya punya peluang kembali ke arena pilpres tapi juga bisa mengubah peta kekuatan politik nasional. 

Lembaga survei mencatat elektabilitas Anies mencapai 18-30?rsaing ketat dengan tokoh politik lainnya. 

Anies juga memahami bagaimana pentingnya medan digital. 

Memanfaatkan media sosial sebagai ruang konsolidasi dan komunikasi politik.

Program Desak Anies jadi contoh inovatif memperkuat citra sebagai pemimpin yang terbuka dan komunikatif.

Ia juga aktif bersuara dalam isu strategis seperti absennya presiden di forum internasional, vonis hukum kontroversial Tom Lembong hingga sentralisasi kekuasaan. 

Semua ini mengokohkan posisinya sebagai simbol oposisi rasional dan konstitusional. 

Memperkuat politik sipil dan menjadikannya figur penyeimbang demokrasi menuju 2029. 

Tantangan terbesar Anies bukanlah mempertahankan eksistensinya di panggung politik nasional tetapi juga menjaga konsistensi peran sebagai oposisi yang kritis dan konstruktif.

Ia harus membuktikan bahwa aksi bersama bukanlah sekedar moral melainkan fondasi dari mesin politik alternative. 

Sementara Gerakan rakyat harus dibangun menjadi kendaraan politik yang efektif, inklusif dan relevan. 

Jalan menuju 2029 masih Panjang namun sinyalnya sudah jelas, Anies tidak pergi keluar panggung dia membangun basisnya bukan sekedar baliho tapi dengan interaksi langsung dan rekam jejak narasi . 

Lalu mampukah Anies mempertahankan konsistensi perannya di panggung nasional hingga 5 tahun kedepan. 

Mengubah aksi Bersama dan Gerakan rakyat menjadi mesin politik yang nyata. 

Dan yang terpenting bagaimana Anies mendapat suara pemilih anak muda yang diperkirakan 60 % suara. 

Waktu akan menjawab, namun satu hal Anies masih ada, masih bersuara, dan masih diperhitungkan.  (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved