Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kilas Tokyo

Budaya Bersih

Makin banyak supermarket meminta pembeli register belanjaan dan bayar sendiri di mesin, sang kasir tinggal mengarahkan.

Tayang:
Tribun-timur.com
KILAS TOKYO - Muh. Zulkifli Mochtar, Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang. 

Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang

TRIBUN-TIMUR.COM - Ada hal terasa makin menguat belakangan ini di Jepang.

Anda makin dituntut bisa membuat, memperbaiki dan melakukan sendiri.

Jika bisa dikerjakan sendiri, tidak harus meminta atau membutuhkan orang lain.

Makin banyak supermarket meminta pembeli register belanjaan dan bayar sendiri di mesin, sang kasir tinggal mengarahkan.

Makan di restoran kadang diminta membereskan piring sendiri. Dan banyak lagi.

Kecenderungan ‘do it yourself’’ makin bermunculan dimana mana.

Demikian juga dengan sampah.

Istilahnya - sampah anda sendiri, jangan minta orang lain mengurusi sampah anda.

Tidak boleh dibuang seenaknya.

Bahkan juga tidak diperkenankan buang sampah rumah bukan jadwal harinya.

Plastik sampah akan ditempeli sticker menyolok ‘Sampah anda salah, tidak bisa diambil’.

Akan ketahuan tetangga bahwa anda keluarga tidak peduli kebersihan dan suka nyeleneh keluar aturan seenaknya.

Iqbal Burhanuddin dalam Buku Menyelisik Kekuatan Mereka 2 menulis, masyarakat Jepang mulai masif mengenal budaya “bersih bersih” di setiap daerah ketika era restorasi Meiji Jepang.

Perkembangan sektor industri dan produk menyebabkan sampah mulai menumpuk dan pemerintah mengkhawatirkan akan menyebarkan penyakit sehingga keluar kebijakan Waste Cleaning Act pada 1900.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved