Habitus Ramadhan
Itikaf Gen Z: Kembalikan Ruang Sunyi yang Hilang dari Dunia
Algoritma bekerja seperti muadzin yang tidak pernah lelah. Ia memanggil, mengingatkan, mengulang. Terus menerus tanpa jeda.
Itikaf sebagai Silent Protest
Ada pemandangan yang mungkin terlihat sederhana, bahkan bagi sebagian orang terasa biasa saja. Puluhan—bahkan ribuan—anak muda rebahan di lantai masjid. Sebagian memeluk mushaf. Sebagian tertidur dengan jaket sebagai bantal. Sebagian lagi menatap langit-langit masjid sambil memutar tasbih di jari.
Jika dilihat sepintas, pemandangan itu bisa disalahpahami sebagai kemalasan. Tetapi jika dilihat dengan kacamata sosiologi, itu justru bisa dibaca sebagai protes paling sunyi terhadap dunia yang terlalu bising.
Han menyebut manusia saat ini hidup dalam dunia yang tidak pernah benar-benar berhenti. Notifikasi ponsel yang selalu berbunyi, pesan masuk tanpa henti dan linimasa media sosial bergerak tanpa jeda melahirkan tuntutan untuk selalu produktif.
Di zaman ini, bahkan istirahat pun tak benar-benar rehat. Para pemudik mampir rehat di rest area dan masjid, tapi mereka benar-benar tidak istirahat. Yang mereka sebut dan anggap istirahat sering berubah menjadi aktivitas yang harus dipamerkan.
Istirahat harus dicontenkan. Liburan harus diunggah. Olahraga harus diposting. Ngopi harus difoto. Segala sesuatu harus terlihat. Manusia modern jarang benar-benar diam.
Rebahan yang Berbeda
Di tengah dunia yang hiperaktif itu, itikaf menawarkan sesuatu yang hampir punah: kesunyian. Itikaf berusaha merebut kembali sunyi yang hakiki, yang dikuasai media sosial.
Dalam itikaf, seseorang justru dianjurkan memutus diri dari dunia luar: tidak banyak bicara, tidak sibuk berinteraksi, dan tidak larut dalam aktivitas dunia.
Ia hanya tinggal di masjid. Diam. Berzikir. Membaca Quran. Kadang hanya duduk memandangi malam. Secara sosiologis, itikaf seperti zona bebas kebisingan dari modernitas.
Menariknya, banyak Gen Z menjalani itikaf dengan cara yang sangat khas. Mereka membawa ransel kecil. Menggelar jaket atau sarung. Lalu rebahan di lantai masjid.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat seperti fenomena santai yang terlalu jauh dari kesan asketis. Namun jika dilihat lebih dalam, justru di sinilah paradoksnya.
Dalam dunia yang memuja produktivitas tanpa henti, tidur di masjid bisa menjadi bentuk asketisme modern. Bukan karena malas. Tetapi karena menolak ritme dunia yang terlalu cepat.
Bauman sudah mengingatkan pedih perih liquid modernity. Dalam dunia yang cair itu, manusia sering kehilangan tempat berlabuh.
Sungguh. Kehadiran masjid sangat berarti. Masjid menawarkan sesuatu yang tidak berubah. Ketika seorang anak muda rebahan di lantai masjid pada malam Ramadhan, ia sebenarnya sedang menambatkan dirinya pada sesuatu yang tetap.
Protes Tanpa Teriak, Sunyi yang Menyembuhkan
Biasanya protes sosial dilakukan dengan demonstrasi. Orang turun ke jalan. Mengangkat spanduk. Berteriak.
Namun itikaf adalah bentuk protes yang sangat berbeda. Ia tidak gaduh. Ia tidak berisik. Ia bahkan nyaris tidak terlihat. Tetapi maknanya dalam. Ketika seorang anak muda memilih tidur di masjid daripada nongkrong di kafe atau klub malam, ia sebenarnya sedang mengatakan sesuatu kepada dunia: Aku berhenti sejenak dari semua ini.
Barangkali di situlah rahasia mengapa fenomena itikaf Gen Z menjadi begitu masif.
Generasi yang paling digital dalam sejarah manusia ternyata juga generasi yang paling haus akan kesunyian.
Mereka hidup dalam jaringan yang padat, tetapi sering merasa sendirian.
Dan masjid menawarkan sesuatu yang jarang diberikan oleh dunia modern: sunyi yang tidak sepi, diam yang tidak kosong. Sunyi yang diisi oleh ayat-ayat Tuhan.
Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, masjid berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar tempat shalat. Ia menjadi ruang tidur. Ruang doa. Ruang refleksi. Ruang pelarian dari dunia yang terlalu ramai.
Dan di lantai-lantai masjid itu, di antara jaket yang dijadikan bantal dan tas yang dijadikan sandaran, mungkin sedang lahir sebuah fenomena sosial yang menarik: asketisme baru generasi digital. Asketisme yang tidak lahir di gua-gua sunyi seperti para sufi dahulu.
Tetapi di tengah kota, di bawah lampu-lampu masjid, di antara ribuan anak muda yang sedang mencari Tuhan, dengan cara mereka sendiri.
Muadzin Baru
Ada pergeseran yang diam-diam, tetapi terasa sangat nyata. Jika pada malam-malam biasa anak muda memenuhi kafe-kafe kota, maka pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, pemandangan itu berpindah. Bukan lagi meja kopi yang penuh, melainkan saf-saf masjid yang rapat.
Pertanyaannya sederhana, tetapi dalam: mengapa masjid tiba-tiba lebih menarik daripada kafe?
Kafe adalah simbol dunia modern. Ia menjadi tempat manusia berbicara. Tempat manusia menunjukkan diri. Dan tempat menyeruput kopi, mengisi waktu, bahkan unjuk identitas. Di warkop dan cafe, eksistensi sering diukur dari kehadiran sosial.
Sungguh. Masjid menawarkan sesuatu yang berlawanan. Masjid menjadi tempat diam. Tempat menghilang dari keramaian. Dan tempat dimana seseorang tidak perlu menjadi siapa-siapa selain hamba.
Dalam bahasa Bauman, kafe adalah ruang cair itu. Masjid adalah ruang yang membekukan kegelisahan.
Dan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, banyak Gen Z memilih berhenti sejenak dari cairnya dunia. Mereka menuju sesuatu yang lebih tetap.
Jika dunia modern mengenal istilah FOMO (fear of missing out), maka Ramadhan melahirkan variannya: spiritual FOMO.
Takut tertinggal diskon.Takut tertinggal tren. Berubah dtrastis dalam Ramadhan. Ramadhan mengubahnya menjadi takut tertinggal Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan itu menjadi magnet yang sangat kuat.
Menariknya, motivasi ini tidak selalu lahir dari kedalaman teologi, tetapi sering kali dari pengalaman kolektif. Teman mengajak itikaf, Grup WhatsApp ramai membahas malam ganjil, hingga linimasa yang dipenuhi suasana masjid.
Itulah bentuk baru ashabiyyah spiritual, solidaritas yang lahir dari pengalaman bersama. Orang datang bukan hanya karena dorongan pribadi, tetapi karena tidak ingin tertinggal dari gelombang kolektif itu.
Di masa lalu, panggilan ke masjid datang dari suara adzan. Hari ini, panggilan itu juga datang dari layar. Video itikaf viral di TikTok. Foto shaf panjang beredar di Instagram. Hingga ajakan kajian tersebar di WhatsApp.
Algoritma bekerja seperti muadzin yang tidak pernah lelah. Ia memanggil, mengingatkan, mengulang. Terus menerus tanpa jeda.
Han boleh saja melihat itu sebagai paradoks. Teknologi yang sama yang menciptakan kelelahan (burnout) justru menjadi medium yang mengarahkan manusia kembali ke ruang spiritual. Seolah algoritma tanpa niat religius sedang menjalankan fungsi dakwah.
Dulu, Ramadhan di kota seperti Makassar memiliki pola yang jelas. Rutinitas pakem. Berbuka di rumah atau warung. Tarawih di masjid. Lalu kembali ke kehidupan malam: nongkrong, berjalan, berkumpul. Kini bergeser. Tarawih tidak lagi menjadi penutup aktivitas malam, melainkan pintu masuk menuju itikaf.
Masjid pun berubah fungsi. Ia menjadi ruang tidur, ruang interaksi, ruang refleksi, bahkan ruang “nongkrong” versi spiritual.
Dalam perspektif sosiologi, ini adalah transformasi ruang publik. Jika kafe adalah ruang publik modern, maka pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, masjid mengambil alih fungsi itu. Tentu saja dengan nuansa yang sangat berbeda.
Di sinilah kita melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar fenomena musiman.
Muncul habitus baru. Nongkrong bergeser menjadi itikaf. Scroll media sosial berdampingan dengan tadarus. Rebahan tetap ada, tetapi dalam ruang sakral.
Itu bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi pergeseran makna. Rebahan di kafe adalah konsumsi, terkesan masyarakat konsumtif. Rebahan di masjid bisa menjadi kontemplasi, terkesan tawadhu.
Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Apakah ini murni spiritualitas, atau sekadar tren? Jawabannya mungkin tidak hitam putih.
Sebagian datang karena ikut-ikutan. Sebagian karena ingin suasana. Sebagian lagi benar-benar mencari Tuhan.
Tetapi sejarah menunjukkan, banyak kebiasaan besar lahir dari hal-hal yang tampak sederhana. Yang awalnya tren, lama-lama menjadi tradisi. Yang awalnya ikut-ikutan, perlahan menjadi kesadaran. Inilah fiolosifi zikir bersama.
Pada akhirnya, fenomena ini bukan hanya tentang Gen Z yang memadati masjid.
Ia adalah tanda bahwa di tengah dunia yang semakin bising, cair, dan melelahkan, manusia tetap mencari sesuatu yang sunyi, tetap, dan menenangkan.
Dan untuk sementara waktu, setidaknya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, mereka menemukannya di masjid.
Bukan di kafe. Bukan di layar. Tetapi di antara shaf-shaf yang rapat, di lantai yang keras, di malam yang panjang.
Dan mungkin di situlah, tanpa disadari, sedang lahir sebuah generasi yang tidak hanya fasih dengan algoritma, tetapi juga mulai akrab dengan keheningan menuju Tuhan.(*)
Habitus Ramadhan
itikaf gen z
M Amilin Kadir
Muammar Bakri
Tiga Utama
Mahligai Dzikir
Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf
Multiangle
Meaningful
Ramadan 1447H
Ramadan 2026
| Perang Iran vs Israel-Amerika Kian Dekat: Semua Merasa Harus Terlibat, Warga Sulsel Menanti Kabar |
|
|---|
| Tokoh Luwu Raya Kritisi Pengelola Buka Puasa di Masjid Istiqlal, Buhari KM: Banyak Tak Dapat Takjil |
|
|---|
| Jatman Sulsel Buktikan Tarekat Tak Pernah Jauh dari Masyarakat, Ketika Kaum Sufi Gandeng PD Pasar |
|
|---|
| Anak-Anak Bermain Gel Gun: Alternatif Sehat dari Game Online yang Terancam Terhenti oleh Kebijakan |
|
|---|
| Setelah Baraccung, Anak-anak Makassar Baku Tembak-tembak Perangi Kelelahan dengan Peluru Gel: Asyik! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/19032026itikaf.jpg)