Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Habitus Ramadhan

Itikaf Gen Z: Kembalikan Ruang Sunyi yang Hilang dari Dunia

Algoritma bekerja seperti muadzin yang tidak pernah lelah. Ia memanggil, mengingatkan, mengulang. Terus menerus tanpa jeda.

Penulis: as kambie | Editor: AS Kambie
Tribun-timur.com/as kambie
MUADZIN ITIKAF - Mahliqai Dzikir Laa Illaha Illallah Atau MAsjid Tiga Utama, Jalan Andi Mappanyukki, Makassar, dipadati jamaag itikaf dan Qiamullail malam ke-29 Ramadhan 1447H, Rabu malam, 18 Maret 2026. Muadzin Itikaf atau panggilan untuk beritikaf di 10 malam terakhir Ramadhan menjadi fenomena tahunan yang semakin banyak melibatkan gen Z dan milenial 

Tulisan Prof Dr KH Muammar Bakry Lc MA, Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf, di Tribun Timur cetak edisi Kamis, 16 Maret 2026, memotret fenomena kegandrungan itikaf Gen Z di masjid termegah di Kawasan Timur Indonesia itu. 

Menurut Prof Muammar, kehadiran Gen Z di Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf di menjadi menarik akhir-akhir dekade ini yakni tiga Ramadhan terakhir, yang memenuhi suasana itikaf di Masjid al-Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf adalah anak milenial dan anak-anak Gen-Z. 

Prof Muammar menyebut, suasana i’tikaf yang sangat ramai terutama di malam-malam ganjil seperti suasana berlebaran, bahkan lebih ramai daripada “jamaah” pasar.

Disebutkan, lantai 2 dan 3 masjid jika dipadati bisa sampai 12.000 jamaah, maka jika diisi hingga lantai dasar bisa berjumlah 15.000 pengunjung. Di antara 10 jamaah dalam satu saf, 9 diantaranya Gen Z. Artinya taksiran kasar yang hadir beri’tikaf hampir 90 persen jamaah adalah peserta itikaf Gen Z dan sebagian milenial. 

Fenomena itu menarik jika dibaca bukan hanya sebagai gejala religius, melainkan peristiwa sosiologis.

Itikaf Anti-Burnout

Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han dalam Burnout Society menggambarkan manusia modern sebagai manusia yang kelelahan oleh tuntutan performa.

Kita hidup dalam zaman di mana setiap orang dipaksa menjadi proyek dirinya sendiri. Harus produktif. Harus kreatif. Harus sukses. Harus terlihat bahagia.

Tekanan itu tidak datang dari negara atau penguasa. Pun bukan dari organisasi dan komunitas. Ia datang dari diri sendiri. Akibatnya manusia modern mengalami kelelahan yang sunyi. Inilah yang disebut Han sebagai burnout.

Dalam konteks burnout society, itikaf menjadi menarik. Itikaf seperti ruang detoks sosial. Di masjid, seseorang boleh tidak produktif. Boleh diam. Boleh tidak menghasilkan apa-apa selain doa. Kebolehan yang langka di luar masjid di era algoritma digital. 

Bagi generasi yang hidup di bawah tekanan algoritma media sosial, i’tikaf menjadi semacam liburan spiritual dari dunia performa.

Masyarakat Cair dan Kerinduan pada Kepastian

Sosiolog Polandia Zygmunt Bauman menyebut zaman kita sebagai Liquid Modernity, modernitas yang cair. 

Segala sesuatu berubah cepat. Identitas berubah. Pekerjaan berubah. Relasi sosial berubah. Relasi berganti. Tidak ada lagi yang benar-benar solid.

Dalam masyarakat yang cair, manusia selalu merasa tidak memiliki pijakan yang pasti. Di tengah cairnya dunia itu, masjid menawarkan sesuatu yang tidak berubah sejak 14 abad lalu. Shaf harus tetap lurus. Waktu shalat yang tetap. Membaca Al-quran yang sama. Dan ritual yang selalu berulang.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved