Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Habitus Ramadhan

Itikaf Gen Z: Kembalikan Ruang Sunyi yang Hilang dari Dunia

Algoritma bekerja seperti muadzin yang tidak pernah lelah. Ia memanggil, mengingatkan, mengulang. Terus menerus tanpa jeda.

Tayang:
Penulis: as kambie | Editor: AS Kambie
Tribun-timur.com/as kambie
MUADZIN ITIKAF - Mahliqai Dzikir Laa Illaha Illallah Atau MAsjid Tiga Utama, Jalan Andi Mappanyukki, Makassar, dipadati jamaag itikaf dan Qiamullail malam ke-29 Ramadhan 1447H, Rabu malam, 18 Maret 2026. Muadzin Itikaf atau panggilan untuk beritikaf di 10 malam terakhir Ramadhan menjadi fenomena tahunan yang semakin banyak melibatkan gen Z dan milenial 

Di dunia yang cair, ritual menjadi jangkar. Karena itu tidak mengherankan jika generasi digital justru mencari ruang yang paling analog: masjid.

Ashabiyyah Baru: Komunitas Spiritual

Jika kita memakai kacamata Ibn Khaldun, fenomena itikaf dapat dibaca melalui konsep ashabiyah: solidaritas sosial yang mengikat sebuah kelompok.

Dalam sejarah Islam, ‘ashabiyyah sering muncul dalam komunitas yang memiliki pengalaman spiritual bersama.

Itikaf menciptakan pengalaman kolektif itu: Sahur bersama, tadarus bersama, dan menunggu malam Lailatul Qadar bersama.

Di sinilah lahir komunitas spiritual generasi baru. Masjid bukan lagi sekadar tempat ibadah, tetapi ruang sosial tempat Gen Z menemukan tribe-nya. 

Spiritualitas di Era Algoritma

Ada ironi yang menarik. Teknologi digital sering dituduh menjauhkan manusia dari agama. Namun dalam banyak kasus justru teknologi menjadi pintu menuju religiusitas baru. 

Ajakan itikaf viral di Instagram. Foto suasana itikaf dan undangan kajian berseliweran di group-group WhatsApp  Video suasana malam di masjid beredar di TikTok. 

Teknologi yang sama yang membuat manusia lelah juga yang mengantar mereka kembali ke masjid. Seolah-olah algoritma tanpa sengaja sedang membantu manusia mencari Tuhan. 

Sosiolog Perancis Pierre Bourdieu menyebut pola kebiasaan sosial sebagai habitus. Ramadhan membentuk habitus itu. Bangun sahur. Shalat berjamaah. Tadarus. Tarawih.
Itikaf.

Ketika kebiasaan itu dilakukan bersama oleh ribuan anak muda, ia tidak lagi sekadar ritual pribadi. Ia menjadi budaya generasi.

Jika sepuluh tahun lalu masjid-masjid Makassar didominasi generasi tua, mungkin sepuluh tahun ke depan kita akan menyaksikan sesuatu yang berbeda. Generasi yang tumbuh dengan algoritma digital, tetapi juga terbiasa tidur di lantai masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Dan mungkin dari saf-saf i’tikaf yang padat itu sedang lahir sesuatu yang lebih besar daripada sekadar keramaian ibadah.

Mungkin sedang lahir habitus spiritual baru bagi generasi yang paling digital dalam sejarah manusia.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved