Salam Tribun Timur
Salam Tribun Timur: Ruang Produksi Solidaritas Sosial
Jika PSM Makassar adalah collective effervescence, maka stadion adalah ruang produksinya. Di sanalah emosi bersama diproduksi, solidaritas diperbarui
TRIBUN-TIMUR.COM - Makassar kembali berbicara tentang stadion. Dua proyek sekaligus bergerak: Stadion Untia yang memasuki tahapan tender manajemen konstruksi, dan Stadion Sudiang yang kontrak pembangunannya telah diteken pada penghujung 2025. Keduanya membawa harapan baru bagi kota yang denyut emosinya kerap berpacu dengan sepak bola.
Dari sisi prosedur, semua tampak berjalan di jalurnya. Tender dibuka, kontrak ditandatangani, dan pembangunan dijadwalkan dimulai Januari 2026. Bahasa birokrasi terdengar rapi. Kata “sesuai prosedur” menjadi penanda bahwa negara hadir melalui mekanisme formalnya.
Rencana pembangunan dua stadion di Makassar, Stadion Untia dan Stadion Sudiang, membawa lebih dari sekadar kabar proyek infrastruktur. Ia membuka kembali percakapan lama tentang apa arti stadion bagi sebuah kota yang hidup dari denyut kolektif warganya.
Dalam kacamata sosiolog Emile Durkheim, ada konsep yang relevan untuk membaca Makassar dan sepak bolanya: collective effervescence. Sebuah keadaan ketika individu larut dalam emosi bersama, merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Bagi Makassar, PSM bukan sekadar klub. Ia adalah pemicu emosi kolektif, pemersatu lintas kelas, usia, dan latar sosial.
Jika PSM Makassar adalah collective effervescence, maka stadion adalah ruang produksinya. Di sanalah emosi bersama diproduksi, solidaritas diperbarui, dan identitas kota dirawat. Stadion bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruang sosial tempat rasa “kita” dibentuk dan diulang.
Karena itu, stadion yang diimpikan di Makassar sesungguhnya bukan sekadar arena pertandingan atau markas klub sepak bola. Ia adalah infrastruktur solidaritas. Tempat warga berkumpul, bersuara, dan merayakan kebersamaan, bahkan ketika hasil pertandingan tak selalu menggembirakan.
Di titik inilah ingatan publik kembali ke pembongkaran Stadion Mattoanging pada 2020. Stadion itu runtuh dalam waktu singkat, namun hingga hampir satu dasawarsa kemudian, ruang penggantinya belum sepenuhnya hadir. Barangkali inilah yang jarang disadari: kealpaan stadion bukan hanya soal olahraga, tetapi juga tentang tersendatnya produksi solidaritas sosial di kota ini.
Tanpa stadion, emosi kolektif kehilangan ruang ritusnya. Solidaritas mencari jalan lain, melalui layar gawai, media sosial, atau ingatan nostalgis, namun tak pernah sepenuhnya tergantikan. Kota menjadi sibuk, tetapi kehilangan satu ruang penting untuk merayakan dirinya sendiri.
Maka ketika kini dua stadion kembali direncanakan, harapan publik wajar menguat. Namun harapan itu bukan hanya soal rampungnya bangunan, melainkan tentang dipulihkannya satu fungsi sosial yang lama terhenti. Stadion harus hadir tepat waktu, terbuka, dan benar-benar hidup, bukan sekadar monumen beton.
Makassar tidak hanya membutuhkan stadion untuk bermain bola. Makassar membutuhkan stadion untuk merawat solidaritasnya. Sebab kota yang kehilangan ruang kebersamaan, perlahan akan kehilangan denyut kolektifnya. Salam!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/05012026_Salam.jpg)