Warganet Pertanyakan Patung Kucing Orange di Bandara Sultan Hasanuddin, Abai Ikon Budaya Sulsel
Keberadaan Masha the Cat dinilai kurang merepresentasikan identitas dan budaya lokal Sulawesi Selatan
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Ari Maryadi
Ringkasan Berita:
- Keberadaan Masha the Cat dinilai kurang merepresentasikan identitas dan budaya lokal Sulawesi Selatan
- Kritik itu salah satunya disampaikan akun Instagram @upiasmaradhana
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Keberadaan maskot kucing oranye bernama Masha The Cat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menuai sorotan dari warganet.
Maskot yang ditempatkan di area ruang tunggu bandara tersebut menjadi perbincangan.
Pasalnya, keberadaan Masha the Cat dinilai kurang merepresentasikan identitas dan budaya lokal Sulawesi Selatan.
Kritik itu salah satunya disampaikan akun Instagram @upiasmaradhana.
Dalam unggahannya, ia mengaku tidak memahami alasan pihak bandara menjadikan Masha The Cat sebagai airport buddy atau teman bandara.
Ia juga menilai kehadiran maskot tersebut berpotensi mengaburkan identitas budaya lokal yang selama ini melekat di Bandara Sultan Hasanuddin.
“Kalau alasannya untuk menghibur dan menyambut penumpang, seperti yang tertera di back story, sepertinya terkesan dipaksakan, kurang kuat dan justri mengaburkan history" bebernya.
Ia menilai, ikon yang lebih relevan dengan Bandara Sultan Hasanuddin adalah kupu-kupu khas Maros maupun kapal Phinisi yang telah lama menjadi simbol Sulawesi Selatan.
"bukankah kupu-kupu Maros dan Phinisi juga bisa menghibur sekaligus menginspirasi dari segi visual,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Selain itu, ia mengaku merasa kehilangan nuansa khas Sulawesi Selatan saat berada di bandara karena sejumlah ornamen budaya yang selama ini dikenal tidak lagi tampak dominan.
"Oranmen-ornamen seperti aksara lontara dan lukisan Toraja juga sepertinya tak terlihat lagi dari pandangan," sebutnya.
Menanggapi kritik tersebut, Branch Communication & CSR Department Head Bandara Sultan Hasanuddin, Fascal Ramadhan, mengatakan keberadaan Masha The Cat hanyalah bagian kecil dari elemen dekoratif di terminal.
Fascal menyebut, maskot tersebut ditempatkan sebagai bagian dari program penataan dan mempercantik area terminal, khususnya di zona anak-anak.
“Hehe itu sebenarnya cuma bagian kecil elemen dekoratif dan spot foto yang menjadi bagian dari beautifikasi terminal untuk meningkatkan pengalaman pengguna jasa, khususnya anak-anak karena berada di kids zone,” kata Fascal kepada Tribun-Timur.com, Kamis (4/6/2026).
| Ellacare dan Pramuka Maros Kampanyekan Makan 2 Butir Telur Sehari Dorong Generasi Sehat Cerdas |
|
|---|
| Marjan Massere Jagokan Spanyol di Piala Dunia 2026, Lamine Yamal Pemain Andalan |
|
|---|
| Begal, Kota Besar, dan Masa Depan Keamanan Indonesia |
|
|---|
| 14 Kali Berturut-turut, Pemkab Maros Sabet Opini WTP dari BPK |
|
|---|
| BPK Temukan Masalah Dana BOSP di Dinas Pendidikan Maros, Ketua DPRD Sebut Ada Kelalaian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260604-Masha-The-Cat-di-Bandara-Internasional-Sultan.jpg)