Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sulsel Kandidat Kuat Pusat Pengolahan Rumput Laut Indonesia

Tujuannya meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi nasional

Tayang:
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
RUMPUT LAUT - Menteri Perdagangan Budi Santoso saat memantau Proses pengeringan rumput laut di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan saat dipotret pada Rabu (4/3/2026). Sulsel memang dikenal sebagai produsen rumput laut. Kementerian Investasi sudah melirik Sulsel jadi kandidat pusat pengolahan rumput laut nasional. (Kemendag) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sulawesi Selatan (Sulsel) kandidat kuat jadi pusat pengolahan rumput laut Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto memiliki 28 komoditas prioritas nasional.

Komoditas ini jadi target hilirasasi dengan mengolah bahan mentah menjadi sebuah produk.

Tujuannya meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi nasional.

"Ada 28 komoditas prioritas Prabowo yang untuk hilirisasi produk ekspor. 6-7 diantaranya ada disini, seperti tuna tongkol cakalang, rumput laut, rajungan, udang, semua prioritas hilirisasi.Selama ini kan ekspor raw material," ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPM-PTSP) Sulsel Asrul Sani dikonfirmasi pada Minggu (8/3/2026).

Dari deretan komoditas tersebut, rumput laut jadi primadona tersendiri.

Pemerintah pusat sedang melirik pembangunan pusat pengolahan rumput laut nasional.

Sulsel pun jadi kandidat kuat pusat pengolahan komoditas rumput laut.

Asrul Sani menyebut Kementerian Investasi sudah melakukan survey di Sulsel.

"Beberapa bulan lalu, Kementerian Investasi sudah survey disini semoga jadi sentra pengolahan rumput laut disini," kata Asrul Sani.

"Data produksi kita 3,5 sampai 4 juta ton terbesar di Indonesia di Sulsel," sambungnya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut tahun 2025 sekitar 9.853.606 ton

Kontribusi Sulsel tertinggi dengan 4.018.691 ton.

Jauh mengungguli Nusa Tenggara Timur di urutan kedua dengan 1.467.663 ton.

Dari 4 juta ton produksi rumput laut Sulsel 2024, Kabupaten Luwu tertinggi dengan kontribusi 636.144 ton.

Mengikuti Kabupaten Takalar 619.864 ton, lalu Wajo 490.910 ton.

Melengkapi 5 besar ada Kabupaten Bone dengan kontribusi 435.739 ton dan Pangkep 394.900 ton.

Asrul Sani menyebut selama ini ekspor rumput laut masih bertumpu pada bahan mentah

"Kalau kita lihat produk ekspor masih raw material, karagenan hanya sekitar 10-20 persen paling banyak di ekspor. Semuanya raw material, kita tidak dapat nilai tambah. Raw material kan harganya dimainkan negara tujuan, beda kalau sudah jadi produk turunan," ujar Asrul Sani.

Dirinya pun berharap Sulsel bisa dipilih jadi pusat pengolahan rumput laut nasional.

Terbaru Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas ekspor 75 ton rumput laut jenis Eucheuma cottonii senilai USD 100.215, atau setara Rp1,7 miliar ke Tiongkok.

Pelepasan ekspor dilakukan dari Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina (AsiaMina) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Rabu, (4/3/2026).

Ini menjadi bukti hasil produksi rumput laut Sulsel.

Budi Santoso mengoptimalkan peran Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai instrumen strategis dalam mendukung ekspor komoditas ke pasar global. 

Gudang SRG AsiaMina merupakan satu dari tujuh gudang yang dikelola oleh Pengelola Gudang PT Wahana Pronatural, Tbk (PT WAPO). 

Perusahaan tersebut merupakan salah satu pengelola gudang SRG komoditas rumput laut yang aktif mengimplementasikan SRG. Gudang SRG AsiaMina rutin mengekspor rumput laut ke Tiongkok dan Spanyol.

“Kemendag memberikan dukungan yang dapat dimanfaatkan pengelola SRG, koperasi, dan petani untuk memperkuat daya saing produk di tingkat produsen melalui program DBE. Selain itu, akses pasar komoditas yang disimpan dalam gudang SRG juga diperluas melalui kegiatan pitching dan penjajakan bisnis (business matching) yang difasilitasi Atase Perdagangan RI dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara,” kata Mendag Budi Santoso saat itu.

Melalui DBE, produk unggulan seperti rumput laut yang diproduksi para petani atau nelayan di berbagai desa dapat disimpan di gudang SRG dan dijual ketika harga pasar menguntungkan.

Program DBE bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekspor di desa melalui enam pilar strategi, yaitu penguatan sumber daya manusia ekspor, pengembangan produk, produktivitas dan teknologi, logistik, pembiayaan, serta promosi dan akses pasar.

Di tengah tantangan perdagangan global dan penurunan harga komoditas, Indonesia tetap berupaya meningkatkan ekspor ke berbagai negara. 

Pemerintah menempuh berbagai langkah antisipatif terhadap dinamika dan ketidakpastian situasi geopolitik global untuk menjaga stabilitas perdagangan nasional.

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved