Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Jaksa Hary Surachman Dorong Produktivitas Jagung di Maros

Hary Surachman terima penghargaan dari Bupati Maros atas perannya mendukung ketahanan pangan lewat Program Agrosolution di Tompobulu…

Tayang:
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun-timur.com/Muslimin Emba
KEJATI SULSEL – Kasi Ops Pidsus Kejati Sulsel, Hary Surachman (kanan/seragam dinas Kejaksaan), saat menerima piagam penghargaan dari Bupati Maros di Panen Raya Jagung Program Agrosolution, Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu (11/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kasi Ops Pidsus Kejati Sulsel, Hary Surachman, menerima penghargaan dari Bupati Maros atas kontribusinya mendukung ketahanan pangan melalui Program Agrosolution. 
  • Ia mendorong penggunaan pupuk non-subsidi yang terbukti meningkatkan produktivitas jagung dari 2,5 ton menjadi 6 ton per hektare. 
  • Pendapatan petani pun naik signifikan, memperlihatkan dampak nyata kolaborasi lintas sektor.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Kepala Seksi Operasi Pidana Khusus (Kasi Ops Pidsus) Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Hary Surachman, meraih penghargaan dari Bupati Maros, Dr. H. Chaidir Syam.

Hary Surachman dianggap sebagai Jaksa Pendukung Program Ketahanan Pangan Nasional menuju swasembada pangan di Kabupaten Maros 2025-2026.

Penghargaan itu ia terima dalam kegiatan Panen Raya Jagung Program Agrosolution di Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu (11/2/2026).

Penghargaan yang diraih Hary tidak terlepas dari perannya dalam mengatasi keluhan petani terhadap kelangkaan pupuk subsidi.

Berangkat dari keluhan petani terkait kelangkaan pupuk subsidi di wilayah Tompobulu, ia mendorong solusi alternatif berbasis pendekatan produktivitas.

Sebagai putra daerah Maros, Hary mengaku terdorong untuk memutus pola ketergantungan petani pada pupuk subsidi.

Melalui koordinasi dengan Pupuk Kaltim, ia menginisiasi penerapan pupuk non-subsidi dalam skema Agrosolution yang dikombinasikan dengan pendampingan teknis dan rekomendasi pemupukan berbasis kebutuhan lahan.

"Awalnya petani mengeluhkan kelangkaan pupuk subsidi. (Terus) saya sampaikanlah bahwa di sejumlah daerah lain, penggunaan pupuk non-subsidi dengan pengelolaan yang tepat justru menghasilkan produktivitas lebih tinggi," kata Hary Surachman dalam keterangan tertulisnya.

Meski biaya yang dikeluarkan petani sedikit berbeda dengan pupuk subsidi, hasil panen mereka, kata Hary, lebih optimal.

"Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan," ujarnya.

Jika sebelumnya penggunaan pupuk subsidi rata-rata menghasilkan 2,5 ton per hektare, melalui pendekatan Agrosolution produktivitas meningkat menjadi 6 ton per hektare.

Kenaikan tersebut secara persentase mencapai sekitar 140 persen dibanding pola sebelumnya.

Selain peningkatan volume produksi, dampak ekonomi juga dirasakan langsung oleh petani.

"Pendapatan petani tercatat meningkat dari sekitar Rp11 juta menjadi Rp18 juta per hektare dalam satu musim tanam," terang mantan Kasi Intel Kejari Maros ini.

"Secara agregat, pada luasan 30 hektare, nilai ekonomi kawasan melonjak dari kisaran Rp300 juta menjadi sekitar Rp800 juta," lanjutnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved