Harga Barang yang Diperkirakan Naik Efek Nilai Tukar Rupiah 18.164 per Dolar
Presiden Prabowo Subianto dianggap perlu segera mengambil langkah konkret.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Waode Nurmin
“Ini berarti harga-harga pasti naik. Khususnya yang diimpor. Otomatis daya beli masyarakat turun. Kalau daya beli masyarakat turun, usaha-usaha yang terkait impor juga bermasalah. Tidak menutup kemungkinan risiko PHK meningkat,” ujarnya.
Selain berdampak pada harga barang, Prof Asdar juga mengingatkan pelemahan rupiah berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebab pemerintah harus menyediakan lebih banyak rupiah untuk membayar kewajiban utang luar negeri yang menggunakan dolar AS.
“Kita juga punya APBN. Jumlah uang rupiah yang dibayar untuk membayar utang meningkat. Otomatis bisa jadi subsidi berkurang. Jadi kasihan masyarakat berpendapatan rendah dan berpendapatan tetap,” katanya.
Di sisi lain, pasar saham Indonesia juga mengalami tekanan berat.
Prof Asdar menjelaskan, anjloknya IHSG menunjukkan melemahnya kepercayaan investor terhadap pasar.
“Kalau turun berarti ada sesuatu. Bisa jadi kepercayaan investor menurun. Otomatis nilai investor di saham rendah. Pasar saham goncang karena kepercayaan investor melemah. Ini yang harus diperbaiki,” jelasnya.
Ia juga menyoroti aksi jual investor asing yang terus terjadi sepanjang tahun.
Menurutnya, investasi di pasar saham memiliki risiko tinggi karena dana dapat keluar dalam waktu singkat ketika sentimen memburuk.
“Yang berbahaya itu investasi di dunia saham karena bisa sekejap diambil atau anjlok. Berbeda dengan investasi langsung yang membangun pabrik, workshop, atau usaha karena menciptakan aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof Asdar menilai kepastian hukum menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.
Menurutnya, berbagai kasus hukum dan korupsi yang menyeret pejabat negara dapat memberikan sentimen negatif terhadap pasar.
“Kalau ada pejabat tersangkut hukum tentu berefek. Investor itu salah satu pertimbangannya harus ada kepastian hukum. Kalau tidak ada kepastian hukum, orang takut-takut berinvestasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan pemerintah juga turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar.
“Politik, ekonomi, dan hukum itu saling terkait. Karena itu kebijakannya harus integratif, kolaborasi dengan Bank Indonesia, Danantara, dan kementerian terkait agar kepercayaan investor kembali pulih,” ujarnya.
Prof Asdar mengingatkan bahwa tanpa langkah nyata untuk memulihkan kepercayaan investor, tekanan terhadap rupiah, pasar saham, investasi, hingga lapangan kerja berpotensi terus berlanjut.
“Harus ada langkah-langkah konkret. Setidaknya menghentikan penurunan dan memulihkan kepercayaan investor. Faktor internal juga menjadi salah satu penyebabnya, meskipun tidak secara langsung,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/IHSG-ANJLOK-Dosen-Fakultas-Ekonomi-Unhas-Prof-Muhammad-Asdar-1.jpg)